Showing posts with label Jurnal Bahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Jurnal Bahasa Indonesia. Show all posts

Jurnal Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Jurnal Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia









e-Jurnal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Volume 3 No 1 Tahun 2015) 
PEMBELAJARAN MENULIS TEKS ANEKDOT PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DALAM KURIKULUM 2013
DI KELAS XI.A AKUNTANSI SMK NEGERI 1 SINGARAJA
HENDRA PAKPAHAN, SHI
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia



Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan perencanaan guru bahasa Indonesia di kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1 Singaraja terkait dengan pembelajaran menulis teks anekdot, (2) mendes-kripsikan pelaksanaan pembelajaran menulis teks anekdot yang dilakukan oleh guru bahasa Indo-nesia di kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1 Singaraja, (3) mendeskripsikan evaluasi yang dilakukan oleh guru bahasa Indonesia terkait dengan pembelajaran menulis teks anekdot di kelas X.A Akun-tansi SMK Negeri 1 Singaraja, dan (4) mendeskripsikan kendala-kendala yang dihadapi oleh guru dan siswa dalam pembelajaran menulis teks anekdot. Penelitian ini dirancang dalam bentuk peneli-tian deskriptif-kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah guru dan siswa kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1 Singaraja. Objek penelitian ini adalah pembelajaran menulis teks anekdot pada mata pelaja-ran bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah me-tode dokumentasi, observasi, dan wawancara. Analisis data dalam penelitian ini mencakup empat ta-hap, yaitu: tabulasi data, reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan data. Hasil penelitian ini me-nunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran masih memiliki beberapa kelemahan, seperti: tujuan pembelajaran belum seluruhnya sesuai dengan indikator, materi pelajaran perlu diperinci, metode yang digunakan harus disesuaikan dengan kurikulum 2013, pada bagian pendahuluan guru perlu me-rumuskan kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik, pada kegiatan inti guru perlu merumuskan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan tahapan-tahapan pendekatan saintifik, pada kegiatan penutup pembelajaran guru tidak mencantumkan kegiatan pengayaan atau remidi, dan pada rubrik “penilaian hasil” contoh instrumen yang digunakan belum seluruhnya sesuai dengan indikator. Dalam pelaksanaan pembelajaran ada beberapa hal yang kurang sesuai dengan RPP, yaitu rencana kegiat-an pembelajaran tidak dicantumkan di dalam RPP, pada kegiatan inti yang dirancang oleh guru be-lum memuat kegiatan pembelajaran sesuai dengan tahapan pendekatan saintifik, akan tetapi dalam pelaksanaannya guru sudah melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan pendekatan saintifik. Pada kegiatan penutup, tes lisan yang diberikan oleh guru belum bisa memberikan gambaran yang akurat terhadap kemampuan peserta didik, serta kegiatan pengayaan dan remidi yang diberikan oleh guru tidak dicantumkan di dalam RPP. Pelaksanaan evaluasi yang dilakukan oleh guru juga memiliki kekurangan, antara lain: rubrik penilaian untuk tes lisan dan tulis belum disediakan oleh guru, daftar pertanyaan untuk tes tulis juga belum disediakan.

Kata kunci: pembelajaran menulis, teks anekdot, mata pelajaran bahasa Indonesia, kurikulum 2013


Abstract
This study aimed at (1) describing Indonesian teacher planning in class X.A Accounting at SMK Ne-geri 1 Singaraja in writing anecdote text, (2) describing the implementation of writing anecdotes text conducted by Indonesian teacher in class X.A Accounting at SMK Negeri 1 Singaraja, (3) describing the evaluation conducted by the Indonesian teacher in writing anecdotes in class X.A Acounting at Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Volume 3 No 1 Tahun 2015).
SMK Negeri 1 Singaraja, (4) describing the problems faced by teacher and students in writing anec-dote text. This study was descriptive qualitative research. The subject in this study were teacher and students in class X.A Acounting at SMK Negeri 1 Singaraja. The object in this study was writing anec-dotes text on Indonesian subjects in the curriculum 2013. Data collection methods used was docu-mentation, observation, and interviews. Analysis of the data in this study includes four stages, name-ly: tabulation of data, data reduction, data presentation, and data conclusion. The results of this study indicate that the learning plan still has some weaknesses, such as: learning objectives are not entirely in accordance with the indicators, the subject matter needs to be specified, the method used should be adjusted to curriculum in 2013. In pre-activity, the teacher needs to formulate the activity under-taken by learners. In the core activity, teacher needs to formulate learning steps based scientific app-roach. In the post-activity, the teacher didn’t provide remedial activity. In the rubric of assessment, the example of instruments that are used are not entirely in accordance with the indicators. In the imple-mentation of learning there were several things wich were not appropriate with the lesson plan such as, there was no learning activity stated in the lesson plan, In core activity, there was no learning acti-vity based on scientific approach, however in the aplication learning activity based on scientific app-roach was done by the teacher itself. In post activity, the oral test given by the teacher couldn’t pro-vide an accurate picture of students’ abilities, and remedial activities assigned by the teacher were not included in the lesson plan. The implementation of the evaluation conducted by the teacher also had weaknesses, such as: the teacher didn’t provide an assessment rubric for oral and written test, and a list of questions for written tests.

Key words: writing, anecdote text, Indonesian subject, curriculum 2013

PENDAHULUAN
Kurikulum memiliki peran yang sa-ngat penting dalam dunia pendidikan. Ku-rikulum menjadi penentu dalam pencapai-an tujuan pendidikan. Dikatakan demikian, karena kurikulum merupakan suatu renca-na yang memberi pedoman atau pega-ngan dalam proses kegiatan belajar-me-ngajar. Sehubungan dengan hal tersebut, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional me-nyebutkan bahwa kurikulum adalah sepe-rangkat rencana dan pengaturan menge-nai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan terten-tu. Tanpa adanya suatu kurikulum, kegia-tan belajar-mengajar tersebut tidak dapat berjalan dengan lancar. Oleh karena itu, kurikulum sangat menentukan pelaksana-an pembelajaran dan hasil pendidikan. Selain itu, tercapai atau tidaknya tujuan pendidikan sangat ditentukan oleh proses pembelajaran yang melibatkan perenca-naan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, serta penilaian atau eva-luasi proses pembelajaran. Hal itu tercer-min pada kutipan Bab I dalam Per-mendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.

Pendidikan di Indonesia telah me-ngalami beberapa perubahan kurikulum. Mulai dari Kurikulum 1947, kemudian di-sempurnakan menjadi Kurikulum 1952, setelah itu Kurikulum 1975, berlanjut pada Kurikulum 2004, sampai Kurikulum 2006. Di tahun 2013 pun perubahan kurikulum kembali terjadi untuk jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK. Kurikulum yang diterap-kan saat ini adalah Kurikulum 2013.

Kurikulum 2013 merupakan prog-ram menteri pendidikan yang berdasarkan kajian untuk penyempurnaan kurikulum 2006. Widyastono (2014:119) menyatakan bahwa Kurikulum 2013 menekankan pada pengembangan kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik se-cara holistik atau seimbang. Pada tahun 2013 lalu, penerapan kurikulum ini tidak bisa dilaksanakan serentak pada semua sekolah yang ada di Indonesia, maka dari itu ditunjuklah beberapa sekolah di Indo-nesia berdasarkan usulan dari pemerintah provinsi guna menjadi pilot projek. Di Kota Singaraja, ada tiga SMK Negeri yang di-tunjuk untuk menerapkan Kurikulum 2013, yaitu SMK Negeri 1 Singaraja, SMK Negri Sebagai bagian dari Kurikulum 20-13, pembelajaran bahasa Indonesia me-nekankan pada pentingnya keseimbangan kompetensi sikap, pengetahuan, dan kete-rampilan. Kemampuan berbahasa yang dituntut tersebut dibentuk melalui pembe-lajaran berkelanjutan, dimulai dari pening-katan pengetahuan tentang jenis, kaidah, dan konteks suatu teks, dilanjutkan de-ngan keterampilan menyajikan suatu teks tulis dan lisan, baik secara terencana maupun spontan. Pembelajaran bahasa Indonesia terus mengalami perubahan-pe-rubahan. Pendekatan pun terus berkem-bang. Pragmatik mendapat perhatian, ma-ka pendekatan pragmatik digunakan da-lam pembelajaran. Pendekatan komuni-katif muncul, maka pendekatan komuni-katif digunakan pula dalam pembelajaran. Sekarang, Kurikulum 2013, pendekatan yang digunakan adalah sistemik fungsio-nal. Secara umum, Kurikulum 2013 meng-gunakan pendekatan ilmiah (saintifik). Berbeda dengan KTSP, dalam KTSP pen-dekatan yang digunakan adalah pendeka-tan komunikatif. Peserta didik diharapkan mampu berkomunikasi dengan menggu-nakan bahasa Indonesia, sedangkan kon-teks sosial budaya belum mendapatkan perhatian. Dengan penerapan Kurikulum 2013 ini, peserta didik diharapkan tidak hanya mampu berkomunikasi, tetapi juga mampu memahami makna atau fungsi-fungsi berbahasa dan kebahasaan.

Dengan hadirnya pendekatan ini-lah, maka pembelajaran bahasa Indonesia mengalami perkembangan dan peruba-han. Pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya pada jenjang SMA/SMK se-patutnya diarahkan untuk menerapkan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks. Pembelajaran bahasa Indonesia ber-basis teks menjadi sangat penting untuk diterapkan di sekolah-sekolah karena pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks berdasarkan atas empat prinsip yang mungkin sering terabaikan. Prinsip-prinsip itu meliputi (1) bahasa hendaknya dipan-dang sebagai teks, bukan semata-mata kumpulan kata atau kaidah kebahasaan, (2) penggunaan bahasa merupakan pro-ses pemilihan bentuk-bentuk kebahasaan untuk mengungkapkan makna, (3) bahasa bersifat fungsional, yaitu penggunaan ba-hasa yang tidak pernah dapat dilepaskan dari konteks karena bentuk bahasa yang digunakan itu mencerminkan ide, sikap, nilai, dan ideologi penggunanya, dan (4) bahasa merupakan sarana pembentukan kemampuan berpikir manusia (Kemen-dikbud, 2013: v).

Sehubungan dengan prinsip-prin-sip di atas, perlu disadari bahwa setiap teks memiliki struktur tersendiri yang satu sama lain berbeda. Sementara itu, struktur teks merupakan cerminan struktur berpi-kir. Dengan demikian, makin banyak jenis teks yang dikuasai oleh siswa, makin ba-nyak pula struktur berpikir yang dapat di-gunakannya dalam kehidupan sosial dan akademiknya. Hanya dengan cara itu, sis-wa kemudian dapat mengonstruksi ilmu pengetahuannya melalui kemampuan me-ngobservasi, mempertanyakan, mengaso-siasikan, menganalisis, dan menyajikan hasil analisis secara memadai. Hal terse-but, senada dengan apa yang diamatkan dalam Kurikulum 2013, khususnya pada pembelajaran bahasa Indonesia. Hal ini dapat diketahui berdasarkan Kompetensi Dasar (KD) yang tertuang dalam silabus ditingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)/ SMK/sederajat, khususnya di kelas X, yang berbunyi “Mensyukuri anugerah Tu-han akan keberadaan bahasa Indonesia dan menggunakannya sebagai sarana ko-munikasi dalam mengolah, menalar, dan menyajikan informasi lisan dan tulis mela-lui teks anekdot, eksposisi, laporan hasil observasi, prosedur kompleks, dan nego-siasi”. Dari ungkapan tersebut, jelas dinya-takan bahwa dalam pembelajaran bahasa Indonesia, peserta didik diharapkan mam-pu menggunakan bahasa Indonesia seba-gai sarana komunikasi dalam mengolah, menalar, dan menyajikan informasi secara lisan maupun tulisan melalui berbagai teks, salah satunya adalah teks anekdot.

Secara garis besar teks dapat di-pilah atas teks sastra dan nonsastra. Teks sastra dikelompokkan ke dalam teks naratif dan nonnaratif. Adapun teks non-sastra dikelompokkan ke dalam teks jenis faktual yang di dalamnya terdapat subke-lompok teks laporan dan prosedural, serta teks tanggapan yang dikelompokkan ke dalam subkelompok teks transaksional dan ekspositori. Mengingat banyaknya teks yang dipelajari di sekolah, khususnya pada jenjang SMA/SMK kelas X, sehingga penting bagi guru bahasa Indonesia untuk terus belajar seiring dengan perkembang-an teori pembelajaran bahasa. Kurikulum 2013 menekankan pada keberagaman teks. Teks-teks tersebut selama ini jarang diajarkan dalam pembelajaran bahasa In-donesia, seperti teks anekdot.

Dengan adanya keberagaman teks inilah, sehingga pemahaman tentang teks diperlukan oleh guru, karena selama ini pembelajaran di kelas hanya menekankan pada paragraf, sedangkan jenis-jenis teks belum diperkenalkan secara mendalam kepada peserta didik. Pada pembelajaran bahasa Indonesia, Kurikulum 2013 mem-berikan penegasan mengenai teks-teks yang digunakan dalam kehidupan nyata. Peserta didik diperkenalkan secara lang-sung dengan teks anekdot, di samping memuat perbandingan antarteks dan struktur teks.

Hasil wawancara yang peneliti la-kukan dengan guru bahasa Indonesia yang mengajar di kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1 Singaraja menunjukkan bahwa ada perbedaan antara pembe-lajaran bahasa Indonesia dalam KTSP dan Kurikulum 2013. Perbedaan tersebut tampak jelas pada materi yang diajarkan. Dalam kurikulum KTSP, peserta didik hanya diperkenalkan dengan jenis-jenis paragraf, seperti paragraf deskriptif, naratif, eksposisi, persuasi, dan argumen-tasi. Sementara itu, dalam Kurikulum 2013 pembelajaran bahasa Indonesia lebih dite-kankan pada keberagaman teks, salah satu materi menulis yang diajarkan dalam Kurikulum 2013 adalah teks anekdot. Dari perbedaan tersebut, guru menyadari bah-wa untuk membelajarkan materi tentang teks anekdot, guru perlu menerapkan me-tode pembelajaran yang inovatif agar sis-wa mampu memahami pembelajaran yang diajarkan.

Selain melakukan wawancara de-ngan guru, peneliti juga melakukan wa-wancara dengan beberapa siswa di SMK Negeri 1 Singaraja. Berdasarkan hasil wa-wancara peneliti dengan siswa, dapat di-peroleh informasi bahwa siswa merasa senang mengikuti pembelajaran menulis, khususnya pada materi teks anekdot. Hal ini dikarenakan guru mampu menjelaskan dengan cara-cara yang inovatif, namun betapa pun inovatifnya cara guru dalam menjelaskan materi mengenai teks anek-dot kepada siswa, tentu saja ada kendala-kendala yang dihadapi dalam pembelaja-ran menulis teks anekdot. Meskipun pe-serta didik sudah mendapatkan pembe-lajaran berbasis teks dan pendekatan ilmiah, namun peserta didik juga menda-patkan kendala terutama di dalam mema-hami teks anekdot karena pada pembe-lajaran sebelumnya siswa belum diperke-nalkan dengan teks anekdot.

Teks anekdot adalah cerita singkat yang menarik karena lucu dan menge-sankan, biasanya mengenai orang penting atau terkenal dan berdasarkan kejadian sebenarnya. Teks anekdot adalah sebuah teks yang berisi pengalaman seseorang yang tidak biasa. Pengalaman yang tidak biasa tersebut disampaikan kepada orang lain dengan tujuan untuk menghibur pem-baca. Ada pengertian lain, bahwa teks anekdot merupakan cerita rekaan yang tidak harus didasarkan pada kenyataan yang terjadi pada masyarakat, yang men-jadi partisipan atau pelaku di dalamnya pun tidak harus orang penting. Teks anek-dot memiliki struktur abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda. (Kemendikbud, 2013:111). Penelitian tentang pembela-jaran menulis teks anekdot dianggap penting untuk diteliti mengingat bahwa teks anekdot merupakan materi yang baru dan belum pernah diajarkan sebelumnya.

Bertolak dari hal-hal penting yang telah dipaparkan di atas, peneliti pun ter-tarik untuk mengangkat judul penelitian “Pembelajaran Menulis Teks Anekdot pa-da Mata Pelajaran Bahasa Indonesia da-lam Kurikulum 2013 di Kelas X.A Akun-tansi SMK Negeri 1 Singaraja”. Peneliti melakukan penelitian di SMK Negeri 1 Si-ngaraja didasarkan atas pertimbangan bahwa SMK Negeri 1 Singaraja meru-pakan salah satu sekolah yang difavo-ritkan di kota Singaraja dan mendapatkan peringkat akreditasi A oleh Badan Akre-ditasi Provinsi Sekolah/Madrasah Provinsi Bali, sehingga sebagai sekolah favorit, SMK Negeri 1 Singaraja ditunjuk untuk menjadi pilot projek dalam menerapkan Kurikulum 2013 sejak semester ganjil tahun ajaran 2013/2014. Peneliti berasum-si bahwa sebagai sekolah favorit, tenaga pengajar yang bertugas di sekolah terse-but tentunya adalah tenaga pengajar yang berkompeten.

Sepengetahuan penulis, terdapat beberapa penelitian sejenis yang pernah dilakukan oleh peneliti lain sehubungan dengan penelitian yang peneliti kaji. Pe-nelitian tersebut berjudul “Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Teks di Kelas X SMA Negeri 1 Singaraja”. Penelitian yang pernah dilakukan oleh Putu Suryani (2014) tersebut, dirancang dalam bentuk penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian sejenis juga pernah dilakukan oleh Ni Komang Ayu Damayanti (2014) dengan judul penelitian “Pembelajaran Menulis Teks Anekdot Berpendekatan Saintifik dengan Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) Pada Siswa Kelas X Tata Kecantikan Kulit 1 Di SMK Negeri 2 Singaraja”. Penelitian tersebut menggunakan rancangan peneli-tian deskriptif kualitatif. Dengan mengacu pada paparan di atas, dapat dikatakan bahwa penelitian ini sangat menarik untuk dikaji dan sudah memenuhi unsur keba-ruan.

Berdasarkan hal yang telah disam-paikan sebelumnya, penelitian ini bertuju-an untuk mendeskripsikan: (1) perenca-naan guru bahasa Indonesia di kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1 Singaraja terkait dengan pembelajaran menulis teks anek-dot, (2) pelaksanaan pembelajaran menu-lis teks anekdot yang dilakukan oleh guru bahasa Indonesia di kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1 Singaraja, (3) evaluasi yang dilakukan oleh guru bahasa Indonesia ter-kait dengan pembelajaran menulis teks anekdot di kelas X.A Akuntansi SMK Ne-geri 1 Singaraja, dan (4) kendala-kendala yang dihadapi oleh guru dan siswa dalam pembelajaran menulis teks anekdot.

Adapun manfaat yang bisa diperoleh dari penelitian ini dapat dibedakan menja-di dua, yakni manfaat teoretis dan praktis.

1. Manfaat Teoretis
Secara teoretis, hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemiki-ran tentang pembelajaran menulis teks anekdot, khususnya pada mata pelaja-ran bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 di SMK Negeri 1 Singaraja. Sela-in itu, hasil penelitian ini akan memberi-kan konfirmasi teoretis terhadap proses pembelajaran menulis teks anekdot pa-da mata pelajaran bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 di SMK Negeri 1 Singaraja.

2. Manfaat Praktis
Secara praktis, hasil penelitian ini akan bermanfaat untuk beberapa pihak. Bagi pihak sekolah, hasil pene-litian ini dapat memberikan sumbangan yang positif terhadap kemajuan seko-lah, yang tercermin dari peningkatan kemampuan profesional guru, perbaik-an proses, dan kebermaknaan hasil be-lajar siswa dalam pembelajaran menu-lis teks anekdot. Bagi guru, hasil pene-litian ini dapat digunakan oleh para gu-ru sebagai bahan evaluasi terhadap pembelajaran menulis teks anekdot yang telah berlangsung, sehingga da-pat mengantisipasi terjadinya kendala-kendala yang dihadapi. Bagi siswa, pembelajaran yang berbasis Kurikulum 2013 ini akan mendorong para siswa untuk menjadi siswa yang lebih aktif, kreatif, dan inovatif, karena pembela-jaran berorientasi pada kegiatan siswa dalam penulisan teks anekdot. Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini bisa di-gunakan sebagai bahan informasi dan referensi bagi peneliti lain yang memer-lukan hasil dari penelitian ini sebagai bahan perbandingan untuk melakukan penelitian sejenis demi peningkatan proses serta hasil pembelajaran yang terkait menulis teks anekdot sehubu-ngan dengan penerapan Kurikulum 20-13, guna mewujudkan tujuan yang di-idealkan dalam pendidikan.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan ranca-ngan penelitian induktif kualitatif, atau yang selama ini lazim disebut dengan des-kriptif kualitatif. (Suandi, 1998:67) menya-takan bahwa penelitian deskriptif kualitatif memberikan predikat kepada variabel yang diteliti sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Sementara itu, Sugiyono, ( 2008:15) menyatakan bahwa rancangan penelitian induktif kualitatif adalah ranca-ngan penelitian yang digunakan untuk memperoleh data atau fakta-fakta yang bersifat khusus menuju ke hal yang ber-sifat umum. Dengan kata lain, rancangan penelitian induktif kualitatif digunakan un-tuk memperoleh data secara mendalam, yaitu suatu data yang mengandung mak-na. Makna adalah data yang sebenarnya, data yang pasti yang merupakan suatu ni-lai dibalik data yang tampak. Hal tersebut sesuai dengan hakikat penelitian kualitatif, yaitu bertujuan untuk memahami realitas secara mendalam dan mengungkapkan maknanya (Putra, 2012:6).

Subjek dalam penelitian ini adalah guru pengampu mata pelajaran bahasa In-donesia dan siswa kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1 Singaraja. Objek penelitian ini adalah pembelajaran menulis teks anekdot pada mata pelajaran bahasa In-donesia dalam Kurikulum 2013.

Dalam pengumpulan data peneliti-an, peneliti menggunakan tiga metode pe-ngumpulan data, yaitu metode observasi, metode wawancara, dan metode doku-mentasi. metode observasi digunakan un-tuk memperoleh data mengenai pelaksa-naan dan evaluasi pembelajaran menulis teks anekdot yang dilakukan oleh guru ba-hasa Indonesia di kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1 Singaraja. Metode wawan-cara digunakan untuk memperoleh infor-masi atau data yang lebih akurat menge-nai pembelajaran menulis teks anekdot pada Kurikulum 2013, khususnya yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksa-naan, evaluasi, dan kendala-kendala yang dihadapi dalam pembelajaran menulis teks anekdot. Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini untuk dicermati dan dianalisis adalah berupa Rencana Pelak-sanaan Pembelajaran (RPP), khusus ten-tang pembelajaran menulis teks anekdot di kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1 Singaraja. Untuk lebih memahami menge-nai metode pengumpulan data yang akan dilakukan, dapat dilihat pada tabel di ba-wah ini.

Tabel 01 Metode Pengumpulan Data
  1. Rumusan masalah
  2. Meto-de Pe-ngum-pulan Data
  3. Analisis Data
  1. Bagaimanakah perencanaan Wawancara Deskriptif kualitatif guru bahasa In-donesia di kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1 Singaraja terkait dengan pembe-lajaran menulis teks anekdot?
  2. Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran menulis teks anekdot yang dilakukan oleh guru bahasa In-donesia di kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1 Singaraja?
  3. Bagaimanakah evaluasi yang dilakukan oleh guru bahasa In-donesia di kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1 Singaraja terkait dengan pembe-lajaran menulis teks anekdot?
  4. Bagaimanakah kendala-kenda-la yang dihada-pi oleh guru dan siswa dalam pembelajaran menulis teks anekdot? dan doku-mentasi Obser-vasi dan doku-mentasi Obser-vasi wawancara dan doku-mentasi
Teknik analisis data yang peneliti gunakan adalah teknik analisis induktif kualitatif atau yang lazim disebut dengan deskriptif kualitatif. Teknik induktif kuali-tatif/deskriptif kualitatif adalah suatu teknik menganalisis data dengan cara mengin-terpretasikan data yang diperoleh dengan kata-kata. Analisis data kualitatif dilakukan secara berkelanjutan sampai tuntas, se-hingga data yang diperoleh sudah menca-pai data jenuh. Analisis data dalam pene-litian ini mencakup empat tahap, yaitu 1) tabulasi data, 2) reduksi data, 3) penyajian data, dan (4) penyimpulan data.


HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian ini mencakup data-data tentang (1) perencanaan guru baha-sa Indonesia di kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1 Singaraja terkait dengan pembe-lajaran menulis teks anekdot, (2) pelaksa-naan pembelajaran menulis teks anekdot yang dilakukan oleh guru di kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1 Singaraja, (3) evaluasi yang dilakukan oleh guru terkait dengan pembelajaran menulis teks anek-dot di kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1 Singaraja, dan (4) kendala-kendala yang dihadapi oleh guru dan siswa dalam pem-belajaran menulis teks anekdot.

Sebelum melaksanakan pembela-jaran di kelas terlebih dahulu guru me-nyusun perencanaan pembelajaran. Pe-rencanaan pembelajaran yang dibuat oleh guru terangkum dalam RPP. RPP disusun berdasarkan silabus. Dalam Kurikulum 2013, silabus sudah disiapkan oleh peme-rintah, sehingga guru tinggal mengem-bangkan rencana pembelajaran yang tidak terlalu jelimet (Mulyasa, 2013:181). Wa-laupun demikian, perencanaan pembelaja-ran yang dibuat oleh guru, masih memiliki beberapa kelemahan, di antaranya ada-lah: tujuan pembelajaran belum seluruh-nya sesuai dengan indikator. Dari lima tu-juan pembelajaran yang dirumuskan, em-pat di antaranya sudah sesuai dengan in-dikator, sedangkan satu tujuan pembela-jaran lainnya belum sesuai dengan indi-kator. Permendikbud Nomor 81 A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum Pe-doman Umum Pembelajaran, dijelaskan bahwa tujuan pembelajaran dapat diorga-nisasikan mencakup seluruh KD atau diorganisasikan untuk setiap pertemuan. Tujuan mengacu pada indikator, paling ti-dak mengandung dua aspek, yaitu audi-ence (peserta didik) dan behavior (aspek kemampuan). Jadi, dalam RPP yang di-rancang oleh guru hendaknya dirumuskan tujuan pembelajaran yang disesuaikan dengan indikator.

Temuan lain yang peneliti dapat-kan, yaitu materi pelajaran yang dican-tumkan oleh guru dalam RPP hanya be-rupa garis-garis besarnya saja. Materi pembelajaran yang belum cukup diterakan secara terperinsi dalam RPP belumlah cukup pula menggambarkan materi pela-jaran yang dipersiapkan atau direncana-kan oleh guru, sehingga sulit diketahui ke-luasan materi atau pun kedalaman materi yang direncanakan sekaligus dikuasai o-leh guru itu sendiri. Padahal, isi RPP yang dalam hal ini terkait dengan kejelasan rin-cian materi juga diperuntukan sebagai in-formasi untuk mengetahui kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran.

Kelemahan lain yang terdapat da-lam RPP buatan guru, yaitu terkait dengan pencantuman pendekatan/metode. Kepu-tusan untuk mencantumkan pendekatan saintifik pada RPP sudah sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalam Kuri-kulum 2013. Akan tetapi, untuk pencantu-man metode yang digunakan dalam pem-belajaran belum sesuai dengan kurikulum 2013. Dalam Kurikulum 2013, terdapat beberapa metode yang digunakan dalam pembelajaran, di antaranya adalah project based learning, problem based learning, dan discovery learning. Sementara itu, da-lam RPP yang dibuat oleh guru, metode yang dicantumkan adalah metode eksplo-rasi, elaborasi, dan konfirmasi.

Pembahasan selanjutnya, yakni terkait dengan kegiatan pembelajaran. Pa-da bagian pendahuluan guru perlu meru-muskan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik/merumuskan rencana kegiatan pembelajaran. Dalam Permen-dikbud Nomor 81 A Tahun 2013 disebut-kan bahwa salah satu hal yang harus dila-kukan oleh guru pada kegiatan penda-huluan adalah menjelasan tentang kegiat-an yang akan dilakukan oleh peserta didik untuk menyelesaikan permasalahan atau tugas.

Pada kegiatan inti belum memuat langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan tahapan pendekatan saintifik. Ta-hapan-tahapan tersebut meliputi kegiatan mengamati, menanya, menalar, mengaso-siasikan, dan mengomunikasikan. Pada-hal, dalam Kurikulum 2013 diamanatkan tentang esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran. Dalam permendikbud No-mor 81 A Tahun 2013 menyatakan bahwa kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang meliputi proses observasi, menanya, mengumpul-kan informasi, asosiasi, dan komunikasi.

Kelemahan lainnya, yaitu pada ke-giatan penutup pembelajaran guru tidak mencantumkan kegiatan pengayaan atau remidi. Namun, bila diamati secara kese-luruhan isi rincian kegiatan penutup dalam RPP buatan guru yang digunakan sebagai pedoman pembelajaran sudah sesuai de-ngan komponen dalam lampiran IV Per-mendikbud Nomor 81 A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Umum Pembelajaran, khususnya pada bagian kegiatan penutup. Hal yang belum tercantum, yakni kegiatan pengayaan atau remidi. Kemendikbud (dalam Widyastono, 2014:206) menyatakan bahwa kegiatan penutup yang menjadi bagian dari proses pelaksanaan pembelajaran diukur dengan indikator berupa serangkaian kegiatan, sa-lah satunya adalah merencanakan kegiat-an tindak lanjut dalam bentuk pembela-jaran remidi, program pengayaan, dan la-yanan konseling.

Kelemahan terakhir yang akan di-bahas terkait dengan RPP buatan guru adalah pada rubrik “penilaian hasil” contoh instrumen yang digunakan belum selu-ruhnya sesuai dengan indikator. Bentuk instrumen yang digunakan adalah berupa empat pertanyaan-pertanyaan. Dari keem-pat pertanyaan tersebut, tiga pertanyaan sudah sesuai dengan indikator, sedang-kan satu pertanyaan lainnya belum sesuai dengan indikator. Dalam Permendikbud Nomor 81 A Tahun 2013 juga dinyatakan bahwa prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan de-ngan indikator pencapaian kompetensi da-sar dan mengacu kepada standar penilai-an.

Dilihat dari segi pelaksanaan pem-belajaran, secara umum guru sudah me-laksanakan pembelajaran sesuai dengan Permendikbud Nomor 81 A Tahun 2013, namun terdapat beberapa ketidaksesuai-an antara RPP yang dirancang oleh guru dan pelaksanaannya di kelas. Ketidakse-suaian tersebut salah satunya adalah ren-cana kegiatan pembelajaran yang disam-paikan oleh guru saat pelaksanaan pem-belajaran tidak dicantumkan di dalam RPP. Dalam Permendikbud Nomor 81 A Tahun 2013 disebutkan bahwa salah satu kegiatan yang harus dilakukan oleh guru pada bagian pendahuluan, yaitu menyam-paikan garis besar cakupan materi dan penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan peserta didik untuk menyelesai-kan permasalahan atau tugas. Berdasar-kan hal tersebut, rencana kegiatan pem-belajaran yang disampaikan oleh guru ke-tika kegiatan belajar mengajar berlang-sung penting untuk diterakan dalam RPP, mengingat bahwa RPP merupakan acuan bagi guru untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran agar pembelajaran di dalam kelas dapat berlangsung secara lebih ter-arah, serta dapat berjalan dengan efektif dan efisien.

Ketidaksesuaian antara RPP dan pelaksanaan pembelajaran juga tampak pada langkah-langkah pembelajaran. Pa-da kegiatan inti yang dirancang oleh guru dalam RPP belum memuat kegiatan pem-belajaran dengan mengacu pada tahapan-tahapan pembelajaran dengan pendeka-tan saintifik, akan tetapi dalam pelaksa-naannya guru sudah melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan pendekatan saintifik. Dalam Permendikbud Nomor 81 A Tahun 2013 dinyatakan bahwa kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan, yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, me-nantang, memotivasi peserta didik untuk secara aktif menjadi pencari informasi, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian se-suai bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan ma-ta pelajaran, yang meliputi proses obser-vasi, menanya, mengumpulkan informasi, asosiasi, dan komunikasi. Berdasarkan pengertian tersebut, hendaknya semua kegiatan yang dilakukan oleh guru saat pembelajaran di kelas dicantumkan di da-lam RPP.

Kelemahan pada kegiatan penutup yang dilakukan oleh guru pada pelaksa-naan pembelajaran, yaitu tes lisan yang diberikan oleh guru belum bisa memberi-kan gambaran yang akurat terhadap ke-mampuan peserta didik dalam memahami materi mengenai teks anekdot, karena ti-dak semua peserta didik menjawab perta-nyaan yang diajukan oleh guru. Hal itu se-ngaja dilakukan oleh guru karena dari tes lisan itulah guru akan melihat keaktifan peserta didik pada saat mengikuti pembe-lajaran. Pada saat peserta didik menjawab pertanyaan, guru akan mengetahui secara langsung jawaban dari peserta didik, se-hingga guru dapat mengetahui konsep yang sudah tertanam dalam diri peserta didik. Hal tersebut senada dengan yang disampaikan oleh Sutikno bahwa tes lisan adalah tes soal dan jawabannya menggu-nakan bahasa lisan, siswa akan menja-wab dengan kata-kata sendiri sesuai de-ngan pertanyaan perintah yang diberikan (Sutikno, 2007:88). Jadi, pemberian tes lisan kepada peserta didik oleh guru itu sudah bagus, hanya saja guru harus me-rancang tes lisan yang dapat memberikan gambaran yang jelas terhadap kemam-puan peserta didik dalam memahami ma-teri tentang teks anekdot dan melibatkan seluruh peserta didik.

Evaluasi merupakan suatu tinda-kan atau proses untuk menentukan nilai dari sesuatu (Want dan Gerald W. Brown, dalam Sudaryono, 2012:38). Menurut Sudijono (2012:2), evaluasi merupakan kegiatan atau proses penentuan nilai pen-didikan, sehingga dapat diketahui mutu dan hasil-hasilnya. Evaluasi yang dilaku-kan oleh guru untuk mengetahui perkem-bangan peserta didik, yaitu penilaian kom-petensi sikap, pengetahuan, dan kete-rampilan. Secara umum, ketiga penilaian tersebut sudah dilaksanakan oleh guru dan sudah sesuai dengan Permendikbud Nomor 81 A Tahun 2013. Secara lebih mengkhusus, evaluasi yang dilakukan oleh guru memiliki beberapa kelemahan, salah satunya adalah tidak disediakannya rubrik penilaian untuk tes lisan dan tulis, serta tidak disediakannya daftar perta-nyaan untuk tes lisan. Hal ini disebabkan karena tes lisan yang diberikan oleh guru pada saat pembelajaran berlangsung me-rupakan pertanyaan yang muncul secara spontan. Maka dari itu, guru tidak mem-buat daftar pertanyaan untuk tes lisan yang dilaksanakan dalam pembelajaran.

Rubrik penilaian untuk tes tulis dan lisan juga tidak dibuat oleh guru karena guru memberikan penilaian langsung ke-pada peserta didik pada saat menjawab soal yang diberikan. Untuk dapat menge-valuasi hasil belajar siswa, guru harus ber-pedoman pada rubrik penilaian agar evaluasi lebih terarah. Apabila rubrik tidak ada, maka guru akan kesulitan untuk me-ngetahui hasil belajar peserta didik. Se-perti yang diungkapkan oleh Kunandar (2007:355) bahwa evaluasi hasil belajar adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai keberhasilan bela-jar peserta didik setelah mengalami pro-ses belajar selama satu periode tertentu. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ni Ketut Midiastini pada tahun 2014 dengan judul penelitian “Pelaksanaan Pembelaja-ran Bahasa Indonesia dengan Pende-katan Tematik Berdasarkan Kurikulum 20-13 pada Kelas IV SD Saraswati Denpa-sar”, juga terdapat temuan, yaitu guru ti-dak mencantumkan kriteria pemberian skor. Dalam penelitiannya, Midiastini me-nyarankan bahwa pada pelaksanaan eva-luasi hasil pembelajaran guru hendaknya mencantumkan instrumen yang jelas ber-bentuk butir soal dan penskoran yang su-dah ditetapkan pada standar penilaian da-lam kurikulum 2013.

Beranjak dari implementasi pem-belajaran menulis teks anekdot pada mata pelajaran bahasa Indonesia dalam kuri-kulum 2013 di kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1 Singaraja, terdapat beberapa kendala yang dialami oleh guru dan siswa dalam pembelajaran menulis teks anek-dot. Adapun kendala yang dialami oleh guru, yaitu guru mengalami kesulitan un-tuk membangkitkan semangat siswa da-lam belajar. Dikatakan demikian, karena selama ini siswa kurang memiliki kesada-ran akan pentingnya belajar mandiri. Se-jauh ini, guru mengamati bahwa siswa su-lit sekali mencari informasi tentang materi yang sedang dan akan dipelajari jika tidak diperintahkan terlebih dahulu oleh guru. Oleh karena itu, guru harus memerintah-kan siswa untuk mencari informasi tamba-han di internet, media massa, atau pun pada sumber lain, barulah siswa mau be-kerja sesuai dengan apa yang diperintah-kan oleh guru. Kalau tidak ada tugas/ perintah dari guru, siswa tidak memiliki kesadaran sendiri untuk belajar mandiri.

Berdasarkan hambatan yang diha-dapi oleh guru seperti disebutkan di atas, cara yang dapat dilakukan untuk menga-tasi kendala tersebut adalah dengan me-ngingatkan sekaligus memotivasi peserta didik bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, dan tidak bergan-tung pada informasi searah dari guru. Oleh karena itu, kondisi pembelajaran yang diharapkan adalah tercipta diarahkan untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu informasi dari berbagai sum-ber melalui observasi, dan bukan hanya diberi tahu.

Selain kendala yang dialami oleh guru, terdapat pula beberapa kendala yang dialami oleh siswa. Kendala-kendala tersebut meliputi, (1) siswa mengalami ke-sulitan dalam menentukan cerita yang ter-golong lucu. Hal ini disebabkan oleh ka-dar/tingkat kelucuan yang dimiliki oleh se-tiap siswa berbeda-beda. Boleh jadi apa yang menurut mereka lucu, tetapi menurut orang lain itu tidak lucu; (2) siswa merasa kesulitan dalam menyusun dialog, utama-nya dialog-dialog yang menandai unsur-unsur teks anekdot seperti abstraksi, ori-entasi, krisis, reaksi, dan koda. Dengan kata lain, siswa merasa kesulitan ketika menyusun dialog dengan mengaplikasikan struktur teks anekdot. dan (3) siswa me-rasa kesulitan dalam menyatu-padukan unsur lucu bernuansa sindiran. Dengan kata lain, siswa merasa kesulitan dalam menyusun cerita yang bersifat lucu, tetapi sebenarnya unsur lucu tersebut dimak-sudkan untuk menyindir seseorang.

Untuk mengatasi kendala yang be-rupa kesulitan dalam menentukan cerita lucu, siswa hendaknya memilih dan men-cari hal-hal unik yang jarang ditemui/diala-mi oleh orang lain, setidaknya cerita yang dipilih itu mengandung unsur lucu, se-hingga siswa lainnya pun akan merasa terhibur. Dengan mereka merasa terhibur, cerita tersebut dapat digolongkan ke da-lam cerita lucu. Untuk mengatasi kesulitan siswa dalam menyusun dialog dengan mengaplikasikan struktur teks anekdot, siswa terlebih dahulu harus memahami konsep struktur teks itu sendiri, setelah itu mulailah menyusun dialog dengan meng-gunakan bahasa yang ringan agar tidak terlalu memberatkan pikiran. Untuk me-ngatasi kesulitan siswa dalam menyusun cerita lucu bernuansa sindiran, ada baik-nya jika siswa mencari dan membaca bu-ku-buku cerita humor, menonton acara-acara lawak pada tayangan televisi, dan mencari contoh-contoh cerita lucu di inter-net. Dengan pengalaman-pengalaman ter-sebut, setidaknya siswa akan mengetahui bagaimana memadukan unsur lucu yang sekaligus bermakna sindiran.

SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan beberapa hal mengenai penelitian ini. Pertama, perencanaan yang dilaku-kan oleh guru sebelum melaksanakan pembelajaran, yaitu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP yang disusun oleh guru sudah sesuai de-ngan Permendikbud Nomor 81 A Tahun 2013, namun ditemukan beberapa kompo-nen RPP yang harus diperbaiki dan di-lengkapi oleh guru, yaitu: tujuan pembe-lajaran belum seluruhnya sesuai dengan indikator, materi pelajaran perlu diperinci, metode yang digunakan dalam pembela-jaran harus disesuaikan dengan kurikulum 2013, pada bagian pendahuluan guru per-lu merumuskan kegiatan-kegiatan yang di-lakukan oleh peserta didik, pada bagian kegiatan inti guru perlu merumuskan lang-kah-langkah pembelajaran sesuai dengan tahapan-tahapan pendekatan saintifik, pa-da kegiatan penutup pembelajaran guru ti-dak mencantumkan kegiatan pengayaan atau remidi, dan pada rubrik “penilaian ha-sil” contoh instrumen yang digunakan be-lum seluruhnya sesuai dengan indikator. Kedua, pelaksanaan pembelajaran menulis teks anekdot pada mata pelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 di kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1 Singaraja pada dasarnya sudah sesuai dengan Permendikbud Nomor 81 A Tahun 2013. Namun, secara lebih mengkhusus, terdapat ketidaksesuaian antara RPP yang dirancang oleh guru dengan pelak-sanaan pembelajaran di kelas, yaitu ren-cana kegiatan pembelajaran yang disam-paikan oleh guru saat pelaksanaan pem-belajaran tidak dicantumkan di dalam RPP, kemudian pada kegiatan inti yang di-rancang oleh guru belum memuat kegiat-an pembelajaran dengan mengacu pada tahapan-tahapan pembelajaran dengan pendekatan saintifik, akan tetapi dalam pelaksanaannya guru sudah melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan pendekatan saintifik. Kegiatan penutup yang dilakukan oleh guru dan peserta di-dik sudah sesuai dengan RPP buatan guru, hanya saja tes lisan yang diberikan o-leh guru belum bisa memberikan gambar-an yang akurat terhadap kemampuan pe-serta didik. Di samping itu, kegiatan pe-ngayaan dan remidi yang diberikan oleh guru kepada peserta didik perlu dicantum-kan di dalam RPP.

Ketiga, evaluasi pembelajaran me-nulis teks anekdot pada mata pelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 di kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1 Si-ngaraja sudah sesuai dengan Permen-dikbud Nomor 81 A Tahun 2013, yaitu menggunakan penilaian autentik. Pada pelaksanaan evaluasi, guru melakukan penilaian kompetensi sikap (berupa peni-laian diri, observasi, antarteman, dan jur-nal), penilaian kompetensi pengetahuan, dan penilaian kompetensi keterampilan.

Keempat, kendala yang dialami oleh guru, yaitu guru mengalami kesulitan un-tuk membangkitkan semangat siswa da-lam belajar. Sedangkan, kendala yang di-alami oleh siswa antara lain: (1) siswa me-ngalami kesulitan dalam menentukan ce-rita yang tergolong lucu, (2) siswa merasa kesulitan dalam menyusun dialog, utama-nya dialog-dialog yang menandai unsur-unsur teks anekdot seperti abstraksi, ori-entasi, krisis, reaksi, dan koda. dan (3) siswa merasa kesulitan dalam menyatu-padukan unsur lucu bernuansa sindiran. Dengan kata lain, siswa merasa kesulitan dalam menyusun cerita yang bersifat lucu, tetapi sebenarnya unsur lucu tersebut di-maksudkan untuk menyindir seseorang.

Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan di atas, saran-saran yang dapat disampaikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

Pertama, guru hendaknya selalu melakukan perbaikan, pengembangan ide, dan konsep serta inovasi pembelajaran baik pada aspek perencanaan, pelaksa-naan, maupun evaluasi pembelajaran se-hingga mutu pendidikan dapat tercapai le-bih optimal.

Kedua, untuk menunjang pelaksana-an pembelajaran sesuai dengan Kuriku-lum 2013, hendaknya sekolah memberi-kan pelatihan tentang implementasi Kuri-kulum 2013 secara berkelompok kepada guru yang bertugas menerapkan Kuriku-lum 2013 di kelas, sehingga pelaksanaan pembelajaran yang berbasis Kurikulum 2013 secepat mungkin dapat terealisasi-kan dengan baik. Peningkatan pengadaan fasilitas yang lebih lengkap berupa sarana prasarana perlu diupayakan untuk menun-jang kegiatan pembelajaran di kelas.

Ketiga, peneliti memberikan saran kepada pemerintah untuk memberikan pelatihan yang lebih intensif kepada guru dalam penerapan Kurikulum 2013, sehing-ga guru dapat menerapkan pembelajaran yang berbasis Kurikulum 2013 dengan baik dan sesuai dengan harapan. Selain itu, pemerintah hendaknya selalu melaku-kan supervisi ke sekolah-sekolah yang te-lah menerapkan Kurikulum 2013 agar da-pat mengetahui sejauh mana penerapan kurikulum sudah terlaksana dan dapat dengan cepat mengetahui penyimpangan yang ada dalam penerapan Kurikulum 2013.

Keempat, peneliti lain disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan de-ngan memperluas masalah dan situs pe-nelitian ini dengan mengembangkan in-strumen penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dengan demikian, hasil penelitian ini menjadi lebih luas dan dapat dipertanggungjawabkan.


DAFTAR PUSTAKA
Damayanti, Ni Komang Ayu. 2014. Pembelajaran Menulis Teks Anekdot Berpendekatan Saintifik dengan Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) pada Siswa Kelas X Tata Kecantikan Kulit 1 Di SMK Negeri 2 Singaraja. Skripsi (tidak diterbitkan). Singaraja: UNDIKSHA.
Kemendikbud. 2013. Buku Guru: Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik untuk Kelas X. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
-------. 2013. Buku Siswa: Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik untuk Kelas X. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan kebudayaan.
e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Volume 3 No 1 Tahun 2015)
-------. 2013c. Salinan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81A Tahun 2013 Tentang Pedoman Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kunandar. 2007. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Persiapan Guru Menghadapi Sertifikasi Guru. Jakarta: Raja Grapindo Persada.
Midiastini, Ni Ketut. 2014. Pelaksanaan Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Pendekatan Tematik Berdasarkan Kurikulum 2013 pada Kelas IV SD Saraswati Denpasar. Tesis (tidak diterbitkan). Singaraja: PPS UNDIKSHA.
Mulyasa, H.E. 2013. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Umum Pembelajaran. Jakarta.
Putra, Nusa. 2012. Penelitian Kualitatif: Proses dan Aplikasi. Jakarta: PT Indeks.
Salinan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. 2013.
Suandi, I Nengah. 1998. Pengantar Metodologi Penelitian Bahasa. Singaraja: FKIP Universitas Udayana.
Sudaryono. 2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sudijono, Anas. 2012. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suryani, Putu. 2014. Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Teks Di Kelas X SMA Negeri 1 Singaraja. Skripsi (tidak diterbitkan). Singaraja: UNDIKSHA.
Sutikno, M. Sobry. 2007. Menggagas Pembelajaran Efektif dan Bermakna. Mataram: NTP Press.
Widyastono, Herry. 2014. Pengembangan Kurikulum di Era Otonomi Daerah: dari Kurikulum 2004, 2006, ke kurikulum 2013. Jakarta: Bumi Aksara.
Read More

Jurnal Kata Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya

Jurnal Kata Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya









Jurnal Kata (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya)
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Lampung Halaman 1
PEMBELAJARAN MEMAHAMI STRUKTUR DAN KAIDAH
TEKS ANEKDOT SISWA KELAS Xi SMA

Oleh
HENDRA PAKPAHAN, SHI

Fakultas Keguruandan Ilmu Pendidikan

Abstract

This research aimed to describe learning in understanding structure and rule of anecdote text at the first grade of SMA Negeri 1 Bukit Kemuning, academic year of 2013/2014. The research used descriptive qualitative design. Result of the research showed that teacher’s performance in the three steps of learning activity; planning, performance, assessment, was not maximal. The teacher had designed the lesson plan according to planning instrument of Curriculum 2013. In the activity of learning, the teacher did not associate the learning material at the present time with the students’ experience, neither did the teacher demonstrate something related with the theme, nor the teacher give oral and written test. Students’ activities such as observing, questioning, exploring, associating and communicating ran well according to the instruments of students’ activity. Assessment designed in the lesson plan was appropriate with the authentic assessment of Curriculum 2013.

Keywords: anecdote text, learning, understanding.


Abstrak
Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pembelajaran memahami struktur dan kaidah teks anekdot siswa kelas X SMA Negeri 1 Bukit Kemuning tahun pelajaran 2013/2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru belum maksimal melaksanakan tiga tahap kegiatan dalam pembelajaran, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian.Guru sudah merancang perencanaan pembelajaran sesuai dengan instrumen perencanaan Kurikulum 2013.Pada kegiatan pelaksanaan, guru tidak mengaitkan materi pembelajaran sekarang denganpengalaman peserta didik,guru tidak mendemonstrasikan sesuatu yang terkait dengan tema, guru tidak memberikan tes lisan atau tulisan. Aktivitas siswa yang meliputi aktivitas mengamati, menanya, mengeksplorasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan telah dilakukan dengan baik sesuai dengan instrumen aktivitas siswa.Penilaian yang dirancang dalam RPP telah sesuai dengan penilaian auetentik Kurikulum 2013.

Kata kunci: pemahaman, pembelajaran, teks anekdot.

PENDAHULUAN
Pembelajaran bahasa merupakan peran penting di dalam perkembangan intelektual dan emosional siswa serta sebagai penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua mata pelajaran. Selain itu pembelajaran Bahasa Indonesia juga dapat memungkinkan manusia untuk saling berkomunikasi dan berbagi pengalaman serta saling belajar satu sama lain.

Seperti yang kita tahu, pembelajaran Bahasa Indonesia adalah salah satu materi yang diajarkan di bangku sekolah.Bila dalam Kurikulum 2006 mata pelajaran Bahasa Indonesia lebih mengedepankan pada keterampilan berbahasa (dan bersastra), maka dalam Kurikulum 2013 ini Bahasa Indonesia digunakan sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan menalar. Hal ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa kemampuan menalar peserta didik Indonesia masih sangat rendah.

Dalam implementasinya, pembelajaran bahasa Indonesia menggunakan pendekatan berbasis teks. Teks dapat berwujud teks tertulis maupun teks lisan.Teks merupakan ungkapan pikiran manusia yang lengkap yang di dalamnya memiliki situasi dan konteks.Belajar Bahasa Indonesia tidak sekadar memakai bahasa Indonesia untuk menyampaikan materi belajar. Namun, perlu juga dipelajari soal makna atau bagaimana memilih kata yang tepat.Selama ini pembelajaran Bahasa Indonesia tidak dijadikan sarana pembentuk pikiran padahal teks merupakan satuan bahasa yang memiliki struktur berpikir yang lengkap.Karena itu pembelajaran Bahasa Indonesia harus berbasis teks. Melalui teks maka peran Bahasa Indonesia sebagai penghela dan pengintegrasi ilmu lain dapat dicapai.

Teks anekdot ialah cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan, biasanya mengenai orang penting atau terkenal dan berdasarkan kejadian yang sebenarnya. Ada pengertian lain bahwa anekdot dapat merupakan cerita rekaan yang tidak harus didasarkan pada kenyataan yang terjadi di masyarakat. Yang menjadi partisipan atau pelaku di dalamnya pun tidak harus orang penting (Kemendikbud: 2013).

Penulis memilih penelitian di SMA Negeri 1 Bukit Kemuning Lampung Utara karena SMA Negeri 1 Bukit Kemuning merupakan salah satu sekolah menengat atas di Lampung khususnya Lampung Utara yang sudah menggunakan kurikulum 2013. Penulis memilih untuk melakukan penelitian di sekolah ini karena guru mata pelajaran bahasa Indonesia yang dijadikan sebagai subjek penelitian ini  merupakan guru yang disukai siswa dalam menyampaikan materi, serta satu-satunya guru yang beberapa kali terpilih untuk mengikuti workshop mengenai Kurikulum 2013. Kelas X di sekolah ini terdiri atas delapan kelas yang di bagi ke dalam dua jurusan IPA dan IPS masing-masing empat kelas.Peneliti memilih melakukan penelitian pada siswa kelas X IPA 2 berdasarkan hasil rekomendasi dari pihak sekolah, karena kelas ini merupakan kelas yang berisi siswa-siswa berprestasi yang dilihat dari nilai rapor SMP dan hasil tes penerimaan siswa baru. Sekolah ini juga pernah menjadi tuan rumah dalam acara workshop kurikulum 2013. Selain itu, siswa di sekolah ini sering menyumbangkan prestasi di bidang bahasa maupun sastra di tingkat kecamatan dan kabupaten.

Pada tahun 2013 sampai tahun 2014, siswa SMA Negeri 1 berhasil sebagai juara 1 napak tilas Pramuka tingkat Provinsi Lampung. Di awal tahun 2014 siswa SMA Negeri 1 juga menjadi juara 2 lomba mading dan tari kreasi Fakultas Ekonomi di Unila. Dengan alasan tersebut, penulis meyakini bahwa SMA Negeri 1 Bukit Kemuning merupakan sekolah yang tepat untuk dijadikan objek penelitian.Pembelajaran memahami struktur dan kaidah teks anekdot dalam kehidupan nyata diharapkan mampu membantu pembelajaran bahasa berbasis teks yang merupakan pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk menguasai dan menggunakan jenis-jenis teks tersebut di masyarakat.

METODE PENELITIAN


Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang bersifat menggambarkan, memaparkan, dan menguraikan objek yang diteliti (Arikunto, 2006:11). Penelitian kualitatif antara lain bersifat deskrpitif, data yang dikumpulkan lebih banyak berupa kata-kata atau gambar daripada angka-angka. Dengan demikian, penelitian deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang bermaksud untuk membuat deskripsi atau gambaran untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain (Moleong, 2010: 6).

Metode ini digunakan sesuai dengan tujuan yaitu mengkaji penelitian secara alamiah pembelajaran memahami struktur dan kaidah teks anekdot siswa kelas X IPA 1 SMA Negeri 1 Bukit Kemuning Lampung Utara. Dalam penelitian ini, peneliti terlibat dalam situasi dan setting fenomena yang diteliti.Peneliti diharapkan selalu memusatkan perhatian pada kenyataan atau kejadian dalam konteks yang diteliti. Setiap kejadian merupakan sesuatu yang unik, berbeda dengan yang lain karena perbedaan konteks. Memahami struktur dan kaidah teks anekdot siswa kelas X IPA 1 SMA Negeri 1 Bukit Kemuning Lampung Utara Tahun Pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 39 siswa. Kegiatan pembelajaran dalam penelitian ini difokuskan pada :
  1. Perencanaan proses pembelajaran yang berupa silabus dan Rencana Pelaksaan Pembelajaran (RPP) mengenai pembelajaran memahami struktur dan kaidah teks anekdot.
  2. Proses pmbelajaran yang berupa aktivitas guru dan aktivitas siswa dalam kelas yang terdiri atas kegiatan pendahuluan, kegiata inti, dan kegiatan penutup dalam pelaksanaan pembelajaran, dan
  3. Penilaian yang diberikan oleh guru untuk mengetahui hasil proses belajar mengajar.
Teknik pengumpulan data dapat dilakukan melalui:
1. Observasi
Observasi merupakan bagian yang sangat penting dalam peneltitian kualitatif.Dengan observasi, peneliti dapat mendokumentasikan dan merefleksi secara sitematis terhadap kegiatan dan interaksi subjek penelitian (Burns, dalam Basrowi 2008:93).

2. Wawancara
Menurut Lincoln dan Guba, maksud mengadakan wawancara adalah merekonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan kebulatan.

3. Dokumentasi
Pada penelitian ini dokumentasi dilakukan dengan cara mengumpulkan RPP, video, poto-poto selama pembelajaran berlangsung, dan menyertakan hasil penilaian pembelajaran memahami struktur dan kaidah teks anekdot yang dibuat oleh guru.

4. Angket
Dalam penelitian ini, selain menggunakan metode obervasi dan wawancara, peneliti juga menggunakan angket sebagai alat untuk memperoleh data yang diinginkan dari responden.

Pengumpulan data mengenai perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran diperoleh dari instrumen yang digunakan dalam lembar pengamatan perencanaan pembelajaran, instrumen pelaksanaan oleh guru, dan instrumen observasi siswa yang terdapat di modul pelatihan kurikulum 2013.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian mengenai pembelajaran menulis cerita pendek menunjukkan bahwa terdapat tiga tahapan yang harus dilalui dalam pembelajaran yaitu perencanaan, pelaksanaan dan penilaian.

1. Perencanaan Pembelajaran Memahami Struktur dan Kaidah Teks Anekdot
Perencanaan pembelajaran merupakan hal Berdasarkan hasil penelitian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang penulis peroleh dengan menggunakan  Instrumen Penelitian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.Komponen-komponen RPP yang dikembangkan oleh guru memuat identitas mata pelajaran, kompetensi inti dan kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, media/sumber belajar, skenario pembelajaran (kegiatan pendahuluan, inti dan penutup), dan penilaian.RPP yang dikembangkan oleh guru sudah memuat semua komponen yang harus ada pada RPP. Berikut akan diuraikan hasil dan pembahasan penelitian RPP yang dikembangkan oleh guru.

A. Identitas Mata Pelajaran

identitas mata pelajaran yang telah dikembangkan oleh guru telah mencakup nama sekolah, mata pelajaran, kelas/semester, tema, dan alokasi waktu. Dengan demikian, identitas mata pelajaran yang dirancang guru dalam RPP telah sesuai dengan Permendikbud tahun 2013 meskipun masih ada satu komponen yang tidak dituliskan oleh guru dalam RPP, yaitu materi pokok. Pada identitas mata pelajaran kita dapat mengetahui materi yang akan diajarkan berikut jumlah pertemuan dengan waktu yang telah ditentukan. Dalam hal ini, materi pokok berguna untuk mengetahui pokok materi yang akan dipelajari.

B. Perumusan Indikator
Perumusan indikator yang telah ditulis oleh guru dalam RPP yang digunakan adalah sebagai berikut.

1. Kesesuaian dengan SKL, KI, dan KD
Indikator yang telah dirumuskan oleh guru dalam RPP telah sesuai dengan SKL

2. Kesesuaian penggunaan kata kerja operasional dengan kompetensi yang diukur
Penggunaan kata kerja operasianal telah sesuai dengan kompetensi yang akan diukur.

C. Perumusan Tujuan Pembelajaran
Perumusan tujuan pembelajaran yang dibuat secara tertulis (writtenplan). Kesesuaian tujuan pembelajaran sudah didasarkan dengan kompetensi yang ada. Tujuan yang dibuat oleh guru seperti yang telah dituliskan oleh guru karena semua poin yang dituangkan selaras dengan KD 1.2 dan 3.3.Dalam hal ini, guru menyampaikan tujuannya pada tiga hal. Pertama, mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia. Kedua, memahami struktur dan kaidah teks anekdot.Ketiga, menyunting teks anekdot sesuai dengan kaidah bahasa.

D. Pemilihan Materi Ajar
Materi yang diberikan guru telah sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dicantumkan dalam RPP. Guru memilih materi struktur dan kaidah teks anekdot yang meliputi contoh teks anekdot, struktur teks anekdot, kaidah teks anekdot, dan kaidah bahasa.

E. Pemilihan Sumber Belajar
Sumber belajar yang digunakan sudah selaras dengan KI dan KD yang ada dalam RPP yang dibuat oleh guru. Hal ini jelas sekali terlihat dari buku yang digunakan. Buku yang digunakan guru dan buku pegangan siswa telah didesain sesuai dengan kurikulum 2013.Pembelajaran dirasa kurang menarik karena guru hanya berpatokan dengan satu sumber saja.

F. Pemilihan Media belajar
Guru tidak menggunakan media sesuai dengan fungsinya. Guru tidak membuat slide power point dan kartu kata seperti yang tertera dalam RPP.

G. Model Pembelajaran
Guru tidak mencantumkan model pembelajaran. Menurut hasil wawancara yang dilakukan secara terbuka oleh guru, guru mengatakan bahwa ia belum memahami sepenuhnya bagaimana cara membuat RPP dan mengimplementasikan model pembelajaran yang sesuai dengan Kurikulum 2013.

H. Skenario Pembelajaran
Guru sudah mencatumkan skenario pembelajaran, tetapi pada pelaksanaannya guru belum maksimal dalam memanfaatkan RPP sebagai acuan saat melaksanakan kegiatan pembelajaran. Pada kenyataannya pelaksanaan pembelajaran tidak sesuai dengan skenario yang telah dirancang dalam RPP.

I. Penilaian Pembelajaran
Penilaian yang telah dirancang oleh guru telah sesuai dengan penilaian autentik.Namun, dalam pelaksanannya guru tidak melakukan kegiatan penilaan.

2. Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran memahami struktur dan kaidah teks anekdot meliputi dua kegiatan, yaitu aktivitas siswa dan aktivitas guru. Hal tersebut dilaksanakan sesuai dengan alokasi waktu yang terdapat pada silabus, yaitu 2 x 45 menit.Penelitian ini dilaksanakan pada hari Rabu, 24April 2014 di SMA Negeri 1 Bukit Kemuning.Pembelajaran dimulai pada pukul 07.30 – 09.00 WIB.

1. Aktivitas Guru
1). Kegiatan Pendahuluan


Pada kegiatan pendahuluan guru dituntut untuk melakukan kegiatan apersepsi dan motivasi.Selain itu guru dituntut untuk menyampaikan kompetensi rencana kegiatan.

a. Apersepsi dan Motivasi
Guru tidak melakukan kegiatan apersepsi dan motifasi, padahal kegiatan ini merupakan salah satu komponen dari kegiatan prapembelajaran yang harus dilakukan oleh guru, tujuannya supaya siswa tahu kaitan antara materi yang akan dipelajari dengan pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari sehingga nantinya siswa dapat dengan mudah untuk menerima materi.guru telah memberikan pertanyaan menantang yang memicu respon aktif peserta didik dan membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis, sistematis, dan menggunakan bahasa yang baik dan benar.

Pertanyaaan yang diberikan oleh guru menggunakan kata kunci “apa” ini menunjukkan bahwa guru memberikan pertanyaan pada subtansi tingkatan rendah pada sub tingkatan pengetahuan yang berarti guru ingin mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa terkait materi yang telah dipelajari sebelumnya.Guru tidakmenyampaikan manfaat meteri di dalam kegiatan inti pembelajarandi awal pembelajaran. Guru secara tersirat memyampaikan manfaat mempelajari sebuah anekdot pada saat bertanya jawab dengan siswa dan pada saat kegiatan penutup pembelajaran saja. Jadi, pada awal pembelajaran guru tidak menyampaikan manfaat materi, karena guru hanya memancing siswa untuk mengetahui apa anekdot tersebut. Guru tidaktampak mendemonstrasikan sesuatu terkait dengan tema. Kegiatan yang dilakukan guru pada kegaiatan prapembelajaran hanya menyampaikan salam dan melakukan kegaiatan tanya jawab.

2) Kegiatan Inti Pembelajaran
A. Penguasaan Materi Pembelajaran

Guru telahmelakukan kegiatan penyesuaian materi dengan tujuan pembelajaran. Hal itu tampak pada saat pembelajaran berlangsung. Materi yang disampaikan oleh guru mengenai struktur dan kaidah teks anekdot sesuai dengan tujuan pembelajaran.Guru sudah berusaha menyampaikan materi yang dikaitkan dengan kehidupan nyata. Materi yang disajikan oleh guru dalam pembelajaran memahami struktur dan kaidah teks anekdot meliputi pengertian teks anekdot, struktur teks anekdot, kaidah teks anekdot, dan kaidah bahasa, kemudian guru menjelaskan dan memberi contoh mengenai struktur dan kaidah teks anekdot. Guru telah menyajikan materi secara sistematis. Pada awal kegiatan inti guru bersama siswa terlebih dahulu membahas pengertian teks anekdot, setelah siswa memahami teks anekdot guru menjelaskan mengenai struktur dan kaidah teks anekdot.

B. Penerapan Strategi Pembelajaran yang Mendidik
Guru telah berusaha dalam melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai. Hal ini terlihat pada proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru sebagai berikut. Untuk mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia, guru telah mengajak siswa untuk menggunakan bahasa dengan baik dan benar untuk berkomunikasi dan sebagai alat pemersatu bangsa. Guru menanamkan sikap tanggung jawab, peduli, responsif, dan santun selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini nampak sekali pada saat siswa sedang melakukan kegiatan berdiskusi. Guru membantu siswa untuk memahami kemudian menentukan struktur dan kaidah pada teks anekdot dengan cara menanyakan kembali perihal struktur dan kaidah teks anekdot sehingga siswa dapat mengingatnya secara berulang.

Guru menciptakan kegiatan mengeksplorasi pengetahuan peserta didik dengan memberikan pertanyaan terkait dengan materi dan memberi kesempatan kepada siswa untuk menjawab secara bergiliran kemudian menjelaskan materi secara lengkap. guru belum maksimal dalam melaksanakan pembelajaran secara runtut. Pada saat awal pembelajaran guru sudah memancing pengetahuan siswa mengenai teks anekdot. Namun, Guru tidak memulai menjelaskan kepada siswa hal-hal yang harus diketahui. Guru langsung bertanya kepada siswa apa itu anekdot dan menjelaskan materi mengenai teks anekdot beserta struktur dan kaidahnya. , guru sudah menunjukkan kemampuannya dalam menguasai kelas.

Guru menyapa siswa dengan sapaan yang membuat siswa merasa dekat dengan guru. Pada saat menyampaikan materi, guru juga tidak hanya berfokus di satu tempat, guru juga menyambangi siswa pada saat diskusi kelompok untuk memantau kegiatan siswa.

Selain itu, guru telah menciptakan suasana dan memelihara kondisi belajar yang baik sehingga siswa kelas X IPA 2 sangat berkonsentrasi, tidak ada sedikitpun siswa yang sampai ditegur oleh guru. Masih ada beberapa siswa yang tidak serius mengikuti pelajaran, namun hal ini tidak terlalu mengganggu jalannya proses pembelajaran. Guru sudah melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual. Hal itu terlihat ketika menyampaikan materi pembelajaran, guru mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan siswa sehari-hari.guru melaksanakan kegiatan pembelajaran yang dapat menimbulkan kebiasaan positif yaitu pada saat berdiskusi.

Guru memanfaatkan kegiatan ini untuk menimbulkan positif siswa yaitu menghargai ketika orang lan berbicara dan membiasakan cara berbicara yang santun.Guru tidak sempat melakukan penilaian dan melakukan kegiatan refleksi pada saat mengakhiri pembelajaran. Hal tersebut terjadi dikarenakan guru terlalu benyak menggunakan waktu untuk mengajak siswa menyaksikan video senam ayam bebek yang bertujuan supaya pembelajaran yang dilaksanakan tidak membosankan, namun ternyata hal ini membuat alokasi waktu yang digunakan memnajdi tidak sesuai.

C. Penerapan Pendekatan Ilmiah (Scientific Approach)
Guru tidak memberitahu siswa mengapa dan bagaimana materi yang akan disampaikan karena guru langsung melaksanakan proses mengamati, menanyakan, mengekspolrasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Idealnya, seorang guru hendaknya memberi tahu peserta didik mengapa mereka mempelajari materi yang akan dipelajari. Selain itu, guru juga hendaknya memberi pertanyaan bagaimana kepada peserta didik supaya peserta didik lebih mudah memahami materi yang akan diajarkan. Guru sudah melakukan kegiatan memfasilitasi siswa untuk mengamati. Pada saat proses pembelajaran guru memerintahkan siswa untuk membuka buku teks yang membahasa materi teks anekdot. Siswa dengan cermat mengamati contoh teks anekdot yang berjudul “KUHP”. Proses mengamati dilakukan dengan suasana yang tenang dan terfokus pikiran dan tidak terjadi kesalahan dalam mengamati dan memahami teks anekdot. Guru sudah berusaha untuk memancing siswa dalam kegiatan bertanya. Hal tersebut terlihat pada saat guru selesai menjelaskan materi dan memberi siswa tugas untuk dikerjakan guru berusaha memancing siswa untuk bertanya apabila ada yang ingin siswa tanyakan. Guru sudah memfasilitasi peserta didik untuk mengeksplorasi. Dalam hal ini siswa diminta untuk menjelaskan pengertian struktur dan kaidah pada sebuah teks anekdot. Guru sudah memfasilitasi peserta didik untuk mengasosiasi. Hal tersebut terlihat dari kegiatan yang dilakukan, yaitu guru memberi penjelasan kepada siswa mengenai teks anekdot beserta struktur dan kaidahnya. Lalu siswa diberikan kesempatan untuk memahami struktur dan kaidah teks anekdot yang terdapat pada buku teks, kemudian berdiskusi dengan teman sebangku.

D. Penerapan Pembelajaran Tematik Terpadu
Guru telah menyajikan pembelajaran sesuai tema ktirik dan humor dalam layanan publik. Dalam hal ini, guru menyampaikan materi teks anekdot yang merupakan cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan, biasanya mengenai orang penting atau terkenal dan berdasarkan kejadian yang sebenarnya.Guru tidak menyajikan materi yang memadukan dengan berbagai mata pelajaran dalam satu PBM. Hal tersebut menimbulkan kemungkinan jika guru belum memahami cara menyajikan pembelajaran dengan memadukan berbagai mata pelajaran dalam satu PMB. Kegiatan tersebut tampak pada saat guru menjelaskan materi.

Guru tidak menyajikan pembelajaran secara kaku. Guru juga memberikan pembelajaran yang membuat siswa tidak merasa tegang dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini terlihat pada saat ada siswa yang secara spontan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru, meskipun jawaban yang diberikan oleh siswa tidak sesuai dengan pertanyaan tetapi guru tidak marah, guru menanggapi dan membenahi jawaban siswa tersebut dengan cara melempar pertanyaan tersebut kepada siswa lain.

E. Pemanfaatan Sumber Belajar/Media dalam Pembelajaran
Guru sudah menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar. Guru hanya mencantumkan satu sumber belajar saja. Guru menggunakan sumber belajar yang telah disesuaikan dengan Kurikulum 2013 yaitu Maryanto, dkk pada tahun 2013 yang berjudul Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik Kelas X tempat terbit Jakarta dan penerbit Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Guru belum maksimal dalam menggunakan media. Hal ini terlihat pada saat guru meminta tolong kepada siswa memasang dan menyalakan LCD. Guru tidak menghasilkan pesan yang menarik dalam pembelajaran memahamai struktur dan kaidah teks anekdot. Namun, dalam hal ini guru menghasilkan pesan yang menarik melalui tayangan video motivasi yang dilakukan pada akhir pembelajaran, guru bermaksud untuk membuat siswa tidak jenuh.

Guru telah melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan sumber belajar. Sumber belajar dalam hal ini adalah buku teks bahasa Indonesia. guru sudah berusaha dalam memanfaatkan sumber belajar/ media dalam pembelajaran. Namun, dalam hal ini guru belum maksimal dalam memanfaatkan media sesuai dengan tujuannya, yaitu untuk menarik antusias siswa, menunjang kegiatan pembelajaran, dan membuat pembelajaran menjadi kegiatan yang menyenangkan dan tidak membuat siswa jenuh.

F. Pelibatan Peserta Didik dalam Pembelajaran
Guru telah berusaha menumbuhkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran di kelas, yaitu dengan mengajak siswa selalu aktif berbicara dan menyampaikan pendapat peserta didik. guru terlihat telah merespon baik segala kegiatan siswa dalam pembelajaran.Guru telah menunjukkan sikap terbuka terhadap respon peserta didik. Guru telah menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif.interaksi yang ditunjukkan siswa dan guru adalah tanya jawab dan kegiatan diskusi. Dalam hal ini, proses interaksi antara guru dan siswa terlihat saat guru mengarahkan proses jalannya diskusi pada saat siswa dari salah satu kelompok menyampaikan hasil dari pemahaman terhadap anekdot yang disampaikan, kemudian siswa lain menanggapi.

3) Kegiatan Penutup
Tidak ditemukan data yang menunjukkan guru melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan siswa. Hal ini dimungkinkan terjadi karena kegiatan pembelajaran tidak sesuai dengan alokasi yang sudah direncanakan pada RPP. Guru hanya menutup pelajaran dengan ucapan salam tanpa sempat merefleksi hasil dari pembelajaran yang telah dilakukan. Guru tidak memberikan tes lisan atau tulisan yang berguna untuk membantu siswa mengingat materi yang telah dipelajari. Namun, guru memberikan tes tulisan yang diberikan secara lisan pada saat kegiatan inti pembelajaran. Guru telah berusaha untuk meminta siswa mengumpulkan hasil kerja. Namun, dikarenakan siswa belum selesai berdiskusi, maka tugas yang diberikan tidak jadi dikumpulkan.Guru tidak melakukan tindak lanjut dengan memberikan arahan kegiatan atau tugas pengayaan.

2. Aktivitas Siswa
1) Aktivitas Mengamati

aktivitas mengamati yang dilakukan siswa ketika guru menjelaskan materi teks anekdot. Selain itu, aktivitas mengamati dilakukan siswa saat mengamati media ketika guru memperlihatkan tayangan video motivasi yang bertujuan untuk menambah rasa percaya diri siswa.

2)Aktivitas Menanya
Aktivitas menanya pada saat guru mengawali pembelajaran dengan memberi pertanyaan menantang mengenai materi yang akan disampaikan. Selain itu, aktivitas menanya juga dilakukan siswa pada saat siswa sedang menyampaokan hasil diskusi. Siswa dari kelompok lain menanyakan kembali kepada kelompok yang baru saja menyampaikan hasil diskusi dari kelompok tersebut apabila materi yang disampaikan masih kurang jelas.

3) Aktivitas Eksplorasi
Aktivitas eksplorasi atau mencoba dilakukan siswa pada saat mereka mencoba menentukan struktur, kaidah dan kaidah bahasa pada teks anekdot yang diperoleh dari internet.

4) Aktivitas Asosiasi
Aktivitas asoisasi merupakan aktivitas yang paling banyak dilakukan peserta didik.Karena, setiap guru memberikan pertanyaan, siswa langsung berusaha untuk menalar dan menjawab pertanyaan yang disampikan oleh guru.

5) Aktivitas Mengomuni-kasikan
Aktivitas mengkomunikasikan dilakukan oleh peserta didik saat peserta didik menyampaikan tugas anekdot KUHP yang dikerjakan secara individu yang disampaikan di depan kelas dan ditanggapi oleh teman-teman dan guru.

3. Penilaian
Guru tidak melakukan penilaian autentik yang sesuai dalam RPP yang sudah dibuatnya. Padahal keselarasan teknik dan bentuk penilaian pada kegiatan penilaian guru yang telah dirancang dalam RPP sudah selaras. Bentuk-bentuk tes yang digunakan untuk mengetahui nilai pengetahuan dan keterampilan siswa sudah dirancang sebaik mungkin. Namun, sangat disayangkan guru masih kesulitan atau merasa rumit melakukan penilaian yang berlaku pada kurikulum 2013 ini.Berdasarkan RPP yang telah dibuat oleh guru, disimpulkan bahwa guru belum maksimal dalam melakukan kegiatan penilaian pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013.

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis penelitian yang dilakukan terhadap pembelajaran memahami struktur dan kaidah teks anekdot siswa kelas X SMA Negeri 1 Bukit Kemuning, guru sudah melaksanakan tiga kegiatan dalam pembelajaran. Ketiga kegiatan tersebut terdiri atas kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran. Pembelajaran memahami struktur dan kaidah teks anekdot diawali dengan pengenalan tentang teks anekdot. Selanjutnya, guru memberi penjelasan mengenai struktur dan kaidah teks anekdot. Setelah itu, guru memberikan contoh sebuah teks anekdot dilanjutkan dengan kegiatan memahami struktur dan kaidah teks anekdot secara berkelompok. Berikut uraian mengenai pembelajaran memahami struktur dan kaidah teks anekdot.

1. Perencanaan pembelajaran

Rencana pelaksanaan pembelajaran yang dirancang oleh guru sudah memenuhi kriteria yang digunakan dalam Kurikulum 2013. Di dalam RPP yang dibuat oleh guru sudah terdapat identitas mata pelajaran, perumusan indikator, tujuan pembelajaran, sumber belajar, media pembelajaran, model pembelajaran, dan penilaian pembelajaran yang terdiri atas penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dari 25 indikator yang ada dalam instrumen RPP pada kurikulum 2013, hanya dua indikator dalam instrumen yang tidak terpenuhi oleh guru. Kedua indikator tersebut adalah pemilihan media dan skenario pembelajaran.

2. Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran mencakup dua aktivitas, yakni aktivitas siswa dan aktivitas guru. Aktivitas yang dilakukan guru meliputi tiga tahap, yaitu kegiatan prapembelajaran atau pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut, guru telah berusaha untuk melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan instrumen pelaksaaan pembelajaran Kurikulum 2013.

Kegiatan pendahuluan merupakan kegiatan awal yang dilakukan oleh guru, dalam hal ini, guru belum maksimal dalam melakukan kegiatan apersepsi dan motivasi,, hal tersebutterlihat dari data yang menunjukkan bahwa guru tidak mengaitkan materi pembelajaran sekarang denganpengalaman peserta didik atau pembelajaran sebelumnya, guru tidak menyampaikan materi pembelajaran, dan guru tidak mendemonstrasikan sesuatu yang terkait dengan tema. Selain itu, pada kegiatan pendahuluan, guru tidak menyampaikan kemampuan yang akan dicapai peserta didik.

Kegiatan selanjutnya adalah kegiatan inti, guru telah berusaha melaksanakan kegiatan dengan baik. Hal itu tampak dari penguasaan materi, penerapan strategi pembelajaran. Namun, ada beberapa kegiatan yang belum maksimal dilakukan oleh guru, yaitu dalam menerapkan pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah, penerapan pembelajaran tematik terpadu, dan penggunaan bahasa yang benar dan tepat dalam pembelajaran. Aktivitas guru yang terakhir adalah kegiatan penutup. Guru belum maksimal dalam menyampaikan empat kegiatan pokok yang harus dilakukan, yaitu guru tidak melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan peserta didik, guru tidak memberikan tes lisan atau tulisan, guru tidak mengumpulkan aktivitas siswa, dan guru juga tidak melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan kegiatan berikutnya atau pengayaan. Pelaksanaan pembelajaran yang akan diuraikan selanjutnya adalah aktivitas siswa. Hal tersebut meliputi lima aktivitas, yaitu aktivitas mengamati, aktivitas menanya, aktivitas mengeksplorasi, aktivitas mengasosiasi, dan aktivitas mengomunikasi yang telah dilakukan dengan baik dan sesuai dengan instrumen aktivitas siswa.

3. Penilaian Pembelajaran

Penilaian pembelajaran yang dilakukan oleh guru meliputi penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam hal ini, guru telah menuangkan rancangan penilaian ke dalam RPP dengan baik sesuai dengan penilaian autentik yang digunakan dalam Kuikulum 2013. Namun, berdasarkan hasil pengamatan secara langsung, guru tidak melaksanakan kegiatan penilaian.

B. Saran

Berdasarkan simpulan yang telah dipaparkan, saran yang dapat diberikan oleh peneliti untuk guru bidang studi bahasa Indonesia khususnya guru bidang studi bahasa Indonesia yang menjadi objek penelitian, hendaknya lebih memahami pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan Kurikulum 2013. Dalam melaksanakan pembelajaran, hendaknya guru melakukan kegiatan sesuai dengan RPP yang telah dibuat sehingga pelaksanaan pembelajaran teratur dan semua komponen pembelajaran dapat terlaksana dari kegiatan pendahuluan sampai pada kegiatan penutup yang meliputi kegiatan pelaksanaan, dan penilaian.

DAFTAR PUSTAKA

Basrowi., Suwandi. (2008). Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. (2013). Materi Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SMA/MA dan SMK/MAK Bahasa Indonesia. Jakarta: Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan.
Moleong, Lexy J. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Mulyoto. (2013). Strategi Pembelajaran di Era Kurikulum 2013. Jakarta: Prestasi Pusaka.
Munthe, Bermawy. (2013). Desain Pembelajaran. Yogyakarta: Insan Madani.
Muzamiroh, Mida L. (2013). Kupas Tuntas Kurikulum 2013 Kelebihan dan Kekurangan Kurikulum 2013. : Kata pena.
Nasution. (2011). Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Read More