Jurnal Kata Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya










Jurnal Kata (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya)
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Lampung Halaman 1
PEMBELAJARAN MEMAHAMI STRUKTUR DAN KAIDAH
TEKS ANEKDOT SISWA KELAS Xi SMA

Oleh
HENDRA PAKPAHAN, SHI

Fakultas Keguruandan Ilmu Pendidikan

Abstract

This research aimed to describe learning in understanding structure and rule of anecdote text at the first grade of SMA Negeri 1 Bukit Kemuning, academic year of 2013/2014. The research used descriptive qualitative design. Result of the research showed that teacher’s performance in the three steps of learning activity; planning, performance, assessment, was not maximal. The teacher had designed the lesson plan according to planning instrument of Curriculum 2013. In the activity of learning, the teacher did not associate the learning material at the present time with the students’ experience, neither did the teacher demonstrate something related with the theme, nor the teacher give oral and written test. Students’ activities such as observing, questioning, exploring, associating and communicating ran well according to the instruments of students’ activity. Assessment designed in the lesson plan was appropriate with the authentic assessment of Curriculum 2013.

Keywords: anecdote text, learning, understanding.


Abstrak
Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pembelajaran memahami struktur dan kaidah teks anekdot siswa kelas X SMA Negeri 1 Bukit Kemuning tahun pelajaran 2013/2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru belum maksimal melaksanakan tiga tahap kegiatan dalam pembelajaran, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian.Guru sudah merancang perencanaan pembelajaran sesuai dengan instrumen perencanaan Kurikulum 2013.Pada kegiatan pelaksanaan, guru tidak mengaitkan materi pembelajaran sekarang denganpengalaman peserta didik,guru tidak mendemonstrasikan sesuatu yang terkait dengan tema, guru tidak memberikan tes lisan atau tulisan. Aktivitas siswa yang meliputi aktivitas mengamati, menanya, mengeksplorasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan telah dilakukan dengan baik sesuai dengan instrumen aktivitas siswa.Penilaian yang dirancang dalam RPP telah sesuai dengan penilaian auetentik Kurikulum 2013.

Kata kunci: pemahaman, pembelajaran, teks anekdot.

PENDAHULUAN
Pembelajaran bahasa merupakan peran penting di dalam perkembangan intelektual dan emosional siswa serta sebagai penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua mata pelajaran. Selain itu pembelajaran Bahasa Indonesia juga dapat memungkinkan manusia untuk saling berkomunikasi dan berbagi pengalaman serta saling belajar satu sama lain.

Seperti yang kita tahu, pembelajaran Bahasa Indonesia adalah salah satu materi yang diajarkan di bangku sekolah.Bila dalam Kurikulum 2006 mata pelajaran Bahasa Indonesia lebih mengedepankan pada keterampilan berbahasa (dan bersastra), maka dalam Kurikulum 2013 ini Bahasa Indonesia digunakan sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan menalar. Hal ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa kemampuan menalar peserta didik Indonesia masih sangat rendah.

Dalam implementasinya, pembelajaran bahasa Indonesia menggunakan pendekatan berbasis teks. Teks dapat berwujud teks tertulis maupun teks lisan.Teks merupakan ungkapan pikiran manusia yang lengkap yang di dalamnya memiliki situasi dan konteks.Belajar Bahasa Indonesia tidak sekadar memakai bahasa Indonesia untuk menyampaikan materi belajar. Namun, perlu juga dipelajari soal makna atau bagaimana memilih kata yang tepat.Selama ini pembelajaran Bahasa Indonesia tidak dijadikan sarana pembentuk pikiran padahal teks merupakan satuan bahasa yang memiliki struktur berpikir yang lengkap.Karena itu pembelajaran Bahasa Indonesia harus berbasis teks. Melalui teks maka peran Bahasa Indonesia sebagai penghela dan pengintegrasi ilmu lain dapat dicapai.

Teks anekdot ialah cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan, biasanya mengenai orang penting atau terkenal dan berdasarkan kejadian yang sebenarnya. Ada pengertian lain bahwa anekdot dapat merupakan cerita rekaan yang tidak harus didasarkan pada kenyataan yang terjadi di masyarakat. Yang menjadi partisipan atau pelaku di dalamnya pun tidak harus orang penting (Kemendikbud: 2013).

Penulis memilih penelitian di SMA Negeri 1 Bukit Kemuning Lampung Utara karena SMA Negeri 1 Bukit Kemuning merupakan salah satu sekolah menengat atas di Lampung khususnya Lampung Utara yang sudah menggunakan kurikulum 2013. Penulis memilih untuk melakukan penelitian di sekolah ini karena guru mata pelajaran bahasa Indonesia yang dijadikan sebagai subjek penelitian ini  merupakan guru yang disukai siswa dalam menyampaikan materi, serta satu-satunya guru yang beberapa kali terpilih untuk mengikuti workshop mengenai Kurikulum 2013. Kelas X di sekolah ini terdiri atas delapan kelas yang di bagi ke dalam dua jurusan IPA dan IPS masing-masing empat kelas.Peneliti memilih melakukan penelitian pada siswa kelas X IPA 2 berdasarkan hasil rekomendasi dari pihak sekolah, karena kelas ini merupakan kelas yang berisi siswa-siswa berprestasi yang dilihat dari nilai rapor SMP dan hasil tes penerimaan siswa baru. Sekolah ini juga pernah menjadi tuan rumah dalam acara workshop kurikulum 2013. Selain itu, siswa di sekolah ini sering menyumbangkan prestasi di bidang bahasa maupun sastra di tingkat kecamatan dan kabupaten.

Pada tahun 2013 sampai tahun 2014, siswa SMA Negeri 1 berhasil sebagai juara 1 napak tilas Pramuka tingkat Provinsi Lampung. Di awal tahun 2014 siswa SMA Negeri 1 juga menjadi juara 2 lomba mading dan tari kreasi Fakultas Ekonomi di Unila. Dengan alasan tersebut, penulis meyakini bahwa SMA Negeri 1 Bukit Kemuning merupakan sekolah yang tepat untuk dijadikan objek penelitian.Pembelajaran memahami struktur dan kaidah teks anekdot dalam kehidupan nyata diharapkan mampu membantu pembelajaran bahasa berbasis teks yang merupakan pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk menguasai dan menggunakan jenis-jenis teks tersebut di masyarakat.

METODE PENELITIAN


Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang bersifat menggambarkan, memaparkan, dan menguraikan objek yang diteliti (Arikunto, 2006:11). Penelitian kualitatif antara lain bersifat deskrpitif, data yang dikumpulkan lebih banyak berupa kata-kata atau gambar daripada angka-angka. Dengan demikian, penelitian deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang bermaksud untuk membuat deskripsi atau gambaran untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain (Moleong, 2010: 6).

Metode ini digunakan sesuai dengan tujuan yaitu mengkaji penelitian secara alamiah pembelajaran memahami struktur dan kaidah teks anekdot siswa kelas X IPA 1 SMA Negeri 1 Bukit Kemuning Lampung Utara. Dalam penelitian ini, peneliti terlibat dalam situasi dan setting fenomena yang diteliti.Peneliti diharapkan selalu memusatkan perhatian pada kenyataan atau kejadian dalam konteks yang diteliti. Setiap kejadian merupakan sesuatu yang unik, berbeda dengan yang lain karena perbedaan konteks. Memahami struktur dan kaidah teks anekdot siswa kelas X IPA 1 SMA Negeri 1 Bukit Kemuning Lampung Utara Tahun Pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 39 siswa. Kegiatan pembelajaran dalam penelitian ini difokuskan pada :
  1. Perencanaan proses pembelajaran yang berupa silabus dan Rencana Pelaksaan Pembelajaran (RPP) mengenai pembelajaran memahami struktur dan kaidah teks anekdot.
  2. Proses pmbelajaran yang berupa aktivitas guru dan aktivitas siswa dalam kelas yang terdiri atas kegiatan pendahuluan, kegiata inti, dan kegiatan penutup dalam pelaksanaan pembelajaran, dan
  3. Penilaian yang diberikan oleh guru untuk mengetahui hasil proses belajar mengajar.
Teknik pengumpulan data dapat dilakukan melalui:
1. Observasi
Observasi merupakan bagian yang sangat penting dalam peneltitian kualitatif.Dengan observasi, peneliti dapat mendokumentasikan dan merefleksi secara sitematis terhadap kegiatan dan interaksi subjek penelitian (Burns, dalam Basrowi 2008:93).

2. Wawancara
Menurut Lincoln dan Guba, maksud mengadakan wawancara adalah merekonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan kebulatan.

3. Dokumentasi
Pada penelitian ini dokumentasi dilakukan dengan cara mengumpulkan RPP, video, poto-poto selama pembelajaran berlangsung, dan menyertakan hasil penilaian pembelajaran memahami struktur dan kaidah teks anekdot yang dibuat oleh guru.

4. Angket
Dalam penelitian ini, selain menggunakan metode obervasi dan wawancara, peneliti juga menggunakan angket sebagai alat untuk memperoleh data yang diinginkan dari responden.

Pengumpulan data mengenai perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran diperoleh dari instrumen yang digunakan dalam lembar pengamatan perencanaan pembelajaran, instrumen pelaksanaan oleh guru, dan instrumen observasi siswa yang terdapat di modul pelatihan kurikulum 2013.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian mengenai pembelajaran menulis cerita pendek menunjukkan bahwa terdapat tiga tahapan yang harus dilalui dalam pembelajaran yaitu perencanaan, pelaksanaan dan penilaian.

1. Perencanaan Pembelajaran Memahami Struktur dan Kaidah Teks Anekdot
Perencanaan pembelajaran merupakan hal Berdasarkan hasil penelitian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang penulis peroleh dengan menggunakan  Instrumen Penelitian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.Komponen-komponen RPP yang dikembangkan oleh guru memuat identitas mata pelajaran, kompetensi inti dan kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, media/sumber belajar, skenario pembelajaran (kegiatan pendahuluan, inti dan penutup), dan penilaian.RPP yang dikembangkan oleh guru sudah memuat semua komponen yang harus ada pada RPP. Berikut akan diuraikan hasil dan pembahasan penelitian RPP yang dikembangkan oleh guru.

A. Identitas Mata Pelajaran

identitas mata pelajaran yang telah dikembangkan oleh guru telah mencakup nama sekolah, mata pelajaran, kelas/semester, tema, dan alokasi waktu. Dengan demikian, identitas mata pelajaran yang dirancang guru dalam RPP telah sesuai dengan Permendikbud tahun 2013 meskipun masih ada satu komponen yang tidak dituliskan oleh guru dalam RPP, yaitu materi pokok. Pada identitas mata pelajaran kita dapat mengetahui materi yang akan diajarkan berikut jumlah pertemuan dengan waktu yang telah ditentukan. Dalam hal ini, materi pokok berguna untuk mengetahui pokok materi yang akan dipelajari.

B. Perumusan Indikator
Perumusan indikator yang telah ditulis oleh guru dalam RPP yang digunakan adalah sebagai berikut.

1. Kesesuaian dengan SKL, KI, dan KD
Indikator yang telah dirumuskan oleh guru dalam RPP telah sesuai dengan SKL

2. Kesesuaian penggunaan kata kerja operasional dengan kompetensi yang diukur
Penggunaan kata kerja operasianal telah sesuai dengan kompetensi yang akan diukur.

C. Perumusan Tujuan Pembelajaran
Perumusan tujuan pembelajaran yang dibuat secara tertulis (writtenplan). Kesesuaian tujuan pembelajaran sudah didasarkan dengan kompetensi yang ada. Tujuan yang dibuat oleh guru seperti yang telah dituliskan oleh guru karena semua poin yang dituangkan selaras dengan KD 1.2 dan 3.3.Dalam hal ini, guru menyampaikan tujuannya pada tiga hal. Pertama, mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia. Kedua, memahami struktur dan kaidah teks anekdot.Ketiga, menyunting teks anekdot sesuai dengan kaidah bahasa.

D. Pemilihan Materi Ajar
Materi yang diberikan guru telah sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dicantumkan dalam RPP. Guru memilih materi struktur dan kaidah teks anekdot yang meliputi contoh teks anekdot, struktur teks anekdot, kaidah teks anekdot, dan kaidah bahasa.

E. Pemilihan Sumber Belajar
Sumber belajar yang digunakan sudah selaras dengan KI dan KD yang ada dalam RPP yang dibuat oleh guru. Hal ini jelas sekali terlihat dari buku yang digunakan. Buku yang digunakan guru dan buku pegangan siswa telah didesain sesuai dengan kurikulum 2013.Pembelajaran dirasa kurang menarik karena guru hanya berpatokan dengan satu sumber saja.

F. Pemilihan Media belajar
Guru tidak menggunakan media sesuai dengan fungsinya. Guru tidak membuat slide power point dan kartu kata seperti yang tertera dalam RPP.

G. Model Pembelajaran
Guru tidak mencantumkan model pembelajaran. Menurut hasil wawancara yang dilakukan secara terbuka oleh guru, guru mengatakan bahwa ia belum memahami sepenuhnya bagaimana cara membuat RPP dan mengimplementasikan model pembelajaran yang sesuai dengan Kurikulum 2013.

H. Skenario Pembelajaran
Guru sudah mencatumkan skenario pembelajaran, tetapi pada pelaksanaannya guru belum maksimal dalam memanfaatkan RPP sebagai acuan saat melaksanakan kegiatan pembelajaran. Pada kenyataannya pelaksanaan pembelajaran tidak sesuai dengan skenario yang telah dirancang dalam RPP.

I. Penilaian Pembelajaran
Penilaian yang telah dirancang oleh guru telah sesuai dengan penilaian autentik.Namun, dalam pelaksanannya guru tidak melakukan kegiatan penilaan.

2. Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran memahami struktur dan kaidah teks anekdot meliputi dua kegiatan, yaitu aktivitas siswa dan aktivitas guru. Hal tersebut dilaksanakan sesuai dengan alokasi waktu yang terdapat pada silabus, yaitu 2 x 45 menit.Penelitian ini dilaksanakan pada hari Rabu, 24April 2014 di SMA Negeri 1 Bukit Kemuning.Pembelajaran dimulai pada pukul 07.30 – 09.00 WIB.

1. Aktivitas Guru
1). Kegiatan Pendahuluan


Pada kegiatan pendahuluan guru dituntut untuk melakukan kegiatan apersepsi dan motivasi.Selain itu guru dituntut untuk menyampaikan kompetensi rencana kegiatan.

a. Apersepsi dan Motivasi
Guru tidak melakukan kegiatan apersepsi dan motifasi, padahal kegiatan ini merupakan salah satu komponen dari kegiatan prapembelajaran yang harus dilakukan oleh guru, tujuannya supaya siswa tahu kaitan antara materi yang akan dipelajari dengan pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari sehingga nantinya siswa dapat dengan mudah untuk menerima materi.guru telah memberikan pertanyaan menantang yang memicu respon aktif peserta didik dan membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis, sistematis, dan menggunakan bahasa yang baik dan benar.

Pertanyaaan yang diberikan oleh guru menggunakan kata kunci “apa” ini menunjukkan bahwa guru memberikan pertanyaan pada subtansi tingkatan rendah pada sub tingkatan pengetahuan yang berarti guru ingin mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa terkait materi yang telah dipelajari sebelumnya.Guru tidakmenyampaikan manfaat meteri di dalam kegiatan inti pembelajarandi awal pembelajaran. Guru secara tersirat memyampaikan manfaat mempelajari sebuah anekdot pada saat bertanya jawab dengan siswa dan pada saat kegiatan penutup pembelajaran saja. Jadi, pada awal pembelajaran guru tidak menyampaikan manfaat materi, karena guru hanya memancing siswa untuk mengetahui apa anekdot tersebut. Guru tidaktampak mendemonstrasikan sesuatu terkait dengan tema. Kegiatan yang dilakukan guru pada kegaiatan prapembelajaran hanya menyampaikan salam dan melakukan kegaiatan tanya jawab.

2) Kegiatan Inti Pembelajaran
A. Penguasaan Materi Pembelajaran

Guru telahmelakukan kegiatan penyesuaian materi dengan tujuan pembelajaran. Hal itu tampak pada saat pembelajaran berlangsung. Materi yang disampaikan oleh guru mengenai struktur dan kaidah teks anekdot sesuai dengan tujuan pembelajaran.Guru sudah berusaha menyampaikan materi yang dikaitkan dengan kehidupan nyata. Materi yang disajikan oleh guru dalam pembelajaran memahami struktur dan kaidah teks anekdot meliputi pengertian teks anekdot, struktur teks anekdot, kaidah teks anekdot, dan kaidah bahasa, kemudian guru menjelaskan dan memberi contoh mengenai struktur dan kaidah teks anekdot. Guru telah menyajikan materi secara sistematis. Pada awal kegiatan inti guru bersama siswa terlebih dahulu membahas pengertian teks anekdot, setelah siswa memahami teks anekdot guru menjelaskan mengenai struktur dan kaidah teks anekdot.

B. Penerapan Strategi Pembelajaran yang Mendidik
Guru telah berusaha dalam melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai. Hal ini terlihat pada proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru sebagai berikut. Untuk mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia, guru telah mengajak siswa untuk menggunakan bahasa dengan baik dan benar untuk berkomunikasi dan sebagai alat pemersatu bangsa. Guru menanamkan sikap tanggung jawab, peduli, responsif, dan santun selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini nampak sekali pada saat siswa sedang melakukan kegiatan berdiskusi. Guru membantu siswa untuk memahami kemudian menentukan struktur dan kaidah pada teks anekdot dengan cara menanyakan kembali perihal struktur dan kaidah teks anekdot sehingga siswa dapat mengingatnya secara berulang.

Guru menciptakan kegiatan mengeksplorasi pengetahuan peserta didik dengan memberikan pertanyaan terkait dengan materi dan memberi kesempatan kepada siswa untuk menjawab secara bergiliran kemudian menjelaskan materi secara lengkap. guru belum maksimal dalam melaksanakan pembelajaran secara runtut. Pada saat awal pembelajaran guru sudah memancing pengetahuan siswa mengenai teks anekdot. Namun, Guru tidak memulai menjelaskan kepada siswa hal-hal yang harus diketahui. Guru langsung bertanya kepada siswa apa itu anekdot dan menjelaskan materi mengenai teks anekdot beserta struktur dan kaidahnya. , guru sudah menunjukkan kemampuannya dalam menguasai kelas.

Guru menyapa siswa dengan sapaan yang membuat siswa merasa dekat dengan guru. Pada saat menyampaikan materi, guru juga tidak hanya berfokus di satu tempat, guru juga menyambangi siswa pada saat diskusi kelompok untuk memantau kegiatan siswa.

Selain itu, guru telah menciptakan suasana dan memelihara kondisi belajar yang baik sehingga siswa kelas X IPA 2 sangat berkonsentrasi, tidak ada sedikitpun siswa yang sampai ditegur oleh guru. Masih ada beberapa siswa yang tidak serius mengikuti pelajaran, namun hal ini tidak terlalu mengganggu jalannya proses pembelajaran. Guru sudah melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual. Hal itu terlihat ketika menyampaikan materi pembelajaran, guru mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan siswa sehari-hari.guru melaksanakan kegiatan pembelajaran yang dapat menimbulkan kebiasaan positif yaitu pada saat berdiskusi.

Guru memanfaatkan kegiatan ini untuk menimbulkan positif siswa yaitu menghargai ketika orang lan berbicara dan membiasakan cara berbicara yang santun.Guru tidak sempat melakukan penilaian dan melakukan kegiatan refleksi pada saat mengakhiri pembelajaran. Hal tersebut terjadi dikarenakan guru terlalu benyak menggunakan waktu untuk mengajak siswa menyaksikan video senam ayam bebek yang bertujuan supaya pembelajaran yang dilaksanakan tidak membosankan, namun ternyata hal ini membuat alokasi waktu yang digunakan memnajdi tidak sesuai.

C. Penerapan Pendekatan Ilmiah (Scientific Approach)
Guru tidak memberitahu siswa mengapa dan bagaimana materi yang akan disampaikan karena guru langsung melaksanakan proses mengamati, menanyakan, mengekspolrasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Idealnya, seorang guru hendaknya memberi tahu peserta didik mengapa mereka mempelajari materi yang akan dipelajari. Selain itu, guru juga hendaknya memberi pertanyaan bagaimana kepada peserta didik supaya peserta didik lebih mudah memahami materi yang akan diajarkan. Guru sudah melakukan kegiatan memfasilitasi siswa untuk mengamati. Pada saat proses pembelajaran guru memerintahkan siswa untuk membuka buku teks yang membahasa materi teks anekdot. Siswa dengan cermat mengamati contoh teks anekdot yang berjudul “KUHP”. Proses mengamati dilakukan dengan suasana yang tenang dan terfokus pikiran dan tidak terjadi kesalahan dalam mengamati dan memahami teks anekdot. Guru sudah berusaha untuk memancing siswa dalam kegiatan bertanya. Hal tersebut terlihat pada saat guru selesai menjelaskan materi dan memberi siswa tugas untuk dikerjakan guru berusaha memancing siswa untuk bertanya apabila ada yang ingin siswa tanyakan. Guru sudah memfasilitasi peserta didik untuk mengeksplorasi. Dalam hal ini siswa diminta untuk menjelaskan pengertian struktur dan kaidah pada sebuah teks anekdot. Guru sudah memfasilitasi peserta didik untuk mengasosiasi. Hal tersebut terlihat dari kegiatan yang dilakukan, yaitu guru memberi penjelasan kepada siswa mengenai teks anekdot beserta struktur dan kaidahnya. Lalu siswa diberikan kesempatan untuk memahami struktur dan kaidah teks anekdot yang terdapat pada buku teks, kemudian berdiskusi dengan teman sebangku.

D. Penerapan Pembelajaran Tematik Terpadu
Guru telah menyajikan pembelajaran sesuai tema ktirik dan humor dalam layanan publik. Dalam hal ini, guru menyampaikan materi teks anekdot yang merupakan cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan, biasanya mengenai orang penting atau terkenal dan berdasarkan kejadian yang sebenarnya.Guru tidak menyajikan materi yang memadukan dengan berbagai mata pelajaran dalam satu PBM. Hal tersebut menimbulkan kemungkinan jika guru belum memahami cara menyajikan pembelajaran dengan memadukan berbagai mata pelajaran dalam satu PMB. Kegiatan tersebut tampak pada saat guru menjelaskan materi.

Guru tidak menyajikan pembelajaran secara kaku. Guru juga memberikan pembelajaran yang membuat siswa tidak merasa tegang dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini terlihat pada saat ada siswa yang secara spontan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru, meskipun jawaban yang diberikan oleh siswa tidak sesuai dengan pertanyaan tetapi guru tidak marah, guru menanggapi dan membenahi jawaban siswa tersebut dengan cara melempar pertanyaan tersebut kepada siswa lain.

E. Pemanfaatan Sumber Belajar/Media dalam Pembelajaran
Guru sudah menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar. Guru hanya mencantumkan satu sumber belajar saja. Guru menggunakan sumber belajar yang telah disesuaikan dengan Kurikulum 2013 yaitu Maryanto, dkk pada tahun 2013 yang berjudul Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik Kelas X tempat terbit Jakarta dan penerbit Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Guru belum maksimal dalam menggunakan media. Hal ini terlihat pada saat guru meminta tolong kepada siswa memasang dan menyalakan LCD. Guru tidak menghasilkan pesan yang menarik dalam pembelajaran memahamai struktur dan kaidah teks anekdot. Namun, dalam hal ini guru menghasilkan pesan yang menarik melalui tayangan video motivasi yang dilakukan pada akhir pembelajaran, guru bermaksud untuk membuat siswa tidak jenuh.

Guru telah melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan sumber belajar. Sumber belajar dalam hal ini adalah buku teks bahasa Indonesia. guru sudah berusaha dalam memanfaatkan sumber belajar/ media dalam pembelajaran. Namun, dalam hal ini guru belum maksimal dalam memanfaatkan media sesuai dengan tujuannya, yaitu untuk menarik antusias siswa, menunjang kegiatan pembelajaran, dan membuat pembelajaran menjadi kegiatan yang menyenangkan dan tidak membuat siswa jenuh.

F. Pelibatan Peserta Didik dalam Pembelajaran
Guru telah berusaha menumbuhkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran di kelas, yaitu dengan mengajak siswa selalu aktif berbicara dan menyampaikan pendapat peserta didik. guru terlihat telah merespon baik segala kegiatan siswa dalam pembelajaran.Guru telah menunjukkan sikap terbuka terhadap respon peserta didik. Guru telah menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif.interaksi yang ditunjukkan siswa dan guru adalah tanya jawab dan kegiatan diskusi. Dalam hal ini, proses interaksi antara guru dan siswa terlihat saat guru mengarahkan proses jalannya diskusi pada saat siswa dari salah satu kelompok menyampaikan hasil dari pemahaman terhadap anekdot yang disampaikan, kemudian siswa lain menanggapi.

3) Kegiatan Penutup
Tidak ditemukan data yang menunjukkan guru melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan siswa. Hal ini dimungkinkan terjadi karena kegiatan pembelajaran tidak sesuai dengan alokasi yang sudah direncanakan pada RPP. Guru hanya menutup pelajaran dengan ucapan salam tanpa sempat merefleksi hasil dari pembelajaran yang telah dilakukan. Guru tidak memberikan tes lisan atau tulisan yang berguna untuk membantu siswa mengingat materi yang telah dipelajari. Namun, guru memberikan tes tulisan yang diberikan secara lisan pada saat kegiatan inti pembelajaran. Guru telah berusaha untuk meminta siswa mengumpulkan hasil kerja. Namun, dikarenakan siswa belum selesai berdiskusi, maka tugas yang diberikan tidak jadi dikumpulkan.Guru tidak melakukan tindak lanjut dengan memberikan arahan kegiatan atau tugas pengayaan.

2. Aktivitas Siswa
1) Aktivitas Mengamati

aktivitas mengamati yang dilakukan siswa ketika guru menjelaskan materi teks anekdot. Selain itu, aktivitas mengamati dilakukan siswa saat mengamati media ketika guru memperlihatkan tayangan video motivasi yang bertujuan untuk menambah rasa percaya diri siswa.

2)Aktivitas Menanya
Aktivitas menanya pada saat guru mengawali pembelajaran dengan memberi pertanyaan menantang mengenai materi yang akan disampaikan. Selain itu, aktivitas menanya juga dilakukan siswa pada saat siswa sedang menyampaokan hasil diskusi. Siswa dari kelompok lain menanyakan kembali kepada kelompok yang baru saja menyampaikan hasil diskusi dari kelompok tersebut apabila materi yang disampaikan masih kurang jelas.

3) Aktivitas Eksplorasi
Aktivitas eksplorasi atau mencoba dilakukan siswa pada saat mereka mencoba menentukan struktur, kaidah dan kaidah bahasa pada teks anekdot yang diperoleh dari internet.

4) Aktivitas Asosiasi
Aktivitas asoisasi merupakan aktivitas yang paling banyak dilakukan peserta didik.Karena, setiap guru memberikan pertanyaan, siswa langsung berusaha untuk menalar dan menjawab pertanyaan yang disampikan oleh guru.

5) Aktivitas Mengomuni-kasikan
Aktivitas mengkomunikasikan dilakukan oleh peserta didik saat peserta didik menyampaikan tugas anekdot KUHP yang dikerjakan secara individu yang disampaikan di depan kelas dan ditanggapi oleh teman-teman dan guru.

3. Penilaian
Guru tidak melakukan penilaian autentik yang sesuai dalam RPP yang sudah dibuatnya. Padahal keselarasan teknik dan bentuk penilaian pada kegiatan penilaian guru yang telah dirancang dalam RPP sudah selaras. Bentuk-bentuk tes yang digunakan untuk mengetahui nilai pengetahuan dan keterampilan siswa sudah dirancang sebaik mungkin. Namun, sangat disayangkan guru masih kesulitan atau merasa rumit melakukan penilaian yang berlaku pada kurikulum 2013 ini.Berdasarkan RPP yang telah dibuat oleh guru, disimpulkan bahwa guru belum maksimal dalam melakukan kegiatan penilaian pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013.

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis penelitian yang dilakukan terhadap pembelajaran memahami struktur dan kaidah teks anekdot siswa kelas X SMA Negeri 1 Bukit Kemuning, guru sudah melaksanakan tiga kegiatan dalam pembelajaran. Ketiga kegiatan tersebut terdiri atas kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran. Pembelajaran memahami struktur dan kaidah teks anekdot diawali dengan pengenalan tentang teks anekdot. Selanjutnya, guru memberi penjelasan mengenai struktur dan kaidah teks anekdot. Setelah itu, guru memberikan contoh sebuah teks anekdot dilanjutkan dengan kegiatan memahami struktur dan kaidah teks anekdot secara berkelompok. Berikut uraian mengenai pembelajaran memahami struktur dan kaidah teks anekdot.

1. Perencanaan pembelajaran

Rencana pelaksanaan pembelajaran yang dirancang oleh guru sudah memenuhi kriteria yang digunakan dalam Kurikulum 2013. Di dalam RPP yang dibuat oleh guru sudah terdapat identitas mata pelajaran, perumusan indikator, tujuan pembelajaran, sumber belajar, media pembelajaran, model pembelajaran, dan penilaian pembelajaran yang terdiri atas penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dari 25 indikator yang ada dalam instrumen RPP pada kurikulum 2013, hanya dua indikator dalam instrumen yang tidak terpenuhi oleh guru. Kedua indikator tersebut adalah pemilihan media dan skenario pembelajaran.

2. Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran mencakup dua aktivitas, yakni aktivitas siswa dan aktivitas guru. Aktivitas yang dilakukan guru meliputi tiga tahap, yaitu kegiatan prapembelajaran atau pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut, guru telah berusaha untuk melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan instrumen pelaksaaan pembelajaran Kurikulum 2013.

Kegiatan pendahuluan merupakan kegiatan awal yang dilakukan oleh guru, dalam hal ini, guru belum maksimal dalam melakukan kegiatan apersepsi dan motivasi,, hal tersebutterlihat dari data yang menunjukkan bahwa guru tidak mengaitkan materi pembelajaran sekarang denganpengalaman peserta didik atau pembelajaran sebelumnya, guru tidak menyampaikan materi pembelajaran, dan guru tidak mendemonstrasikan sesuatu yang terkait dengan tema. Selain itu, pada kegiatan pendahuluan, guru tidak menyampaikan kemampuan yang akan dicapai peserta didik.

Kegiatan selanjutnya adalah kegiatan inti, guru telah berusaha melaksanakan kegiatan dengan baik. Hal itu tampak dari penguasaan materi, penerapan strategi pembelajaran. Namun, ada beberapa kegiatan yang belum maksimal dilakukan oleh guru, yaitu dalam menerapkan pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah, penerapan pembelajaran tematik terpadu, dan penggunaan bahasa yang benar dan tepat dalam pembelajaran. Aktivitas guru yang terakhir adalah kegiatan penutup. Guru belum maksimal dalam menyampaikan empat kegiatan pokok yang harus dilakukan, yaitu guru tidak melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan peserta didik, guru tidak memberikan tes lisan atau tulisan, guru tidak mengumpulkan aktivitas siswa, dan guru juga tidak melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan kegiatan berikutnya atau pengayaan. Pelaksanaan pembelajaran yang akan diuraikan selanjutnya adalah aktivitas siswa. Hal tersebut meliputi lima aktivitas, yaitu aktivitas mengamati, aktivitas menanya, aktivitas mengeksplorasi, aktivitas mengasosiasi, dan aktivitas mengomunikasi yang telah dilakukan dengan baik dan sesuai dengan instrumen aktivitas siswa.

3. Penilaian Pembelajaran

Penilaian pembelajaran yang dilakukan oleh guru meliputi penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam hal ini, guru telah menuangkan rancangan penilaian ke dalam RPP dengan baik sesuai dengan penilaian autentik yang digunakan dalam Kuikulum 2013. Namun, berdasarkan hasil pengamatan secara langsung, guru tidak melaksanakan kegiatan penilaian.

B. Saran

Berdasarkan simpulan yang telah dipaparkan, saran yang dapat diberikan oleh peneliti untuk guru bidang studi bahasa Indonesia khususnya guru bidang studi bahasa Indonesia yang menjadi objek penelitian, hendaknya lebih memahami pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan Kurikulum 2013. Dalam melaksanakan pembelajaran, hendaknya guru melakukan kegiatan sesuai dengan RPP yang telah dibuat sehingga pelaksanaan pembelajaran teratur dan semua komponen pembelajaran dapat terlaksana dari kegiatan pendahuluan sampai pada kegiatan penutup yang meliputi kegiatan pelaksanaan, dan penilaian.

DAFTAR PUSTAKA

Basrowi., Suwandi. (2008). Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. (2013). Materi Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SMA/MA dan SMK/MAK Bahasa Indonesia. Jakarta: Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan.
Moleong, Lexy J. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Mulyoto. (2013). Strategi Pembelajaran di Era Kurikulum 2013. Jakarta: Prestasi Pusaka.
Munthe, Bermawy. (2013). Desain Pembelajaran. Yogyakarta: Insan Madani.
Muzamiroh, Mida L. (2013). Kupas Tuntas Kurikulum 2013 Kelebihan dan Kekurangan Kurikulum 2013. : Kata pena.
Nasution. (2011). Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Facebook Comment