REVIEW JURNAL REPORT KETERAMPILAN SEKOLAH DASAR

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Membaca merupakan salah satu kemampuan dasar yang wajib dimiliki oleh individu yang hidup di abad sekarang dan yang akan datang. Kemampuan membaca menjadi hal yang penting dalam suatu masyarakat sebab melalui membaca dapat diserap berbagai informasi dan wawasan pengetahuan untuk mengembangkan peradaban masyarakat tersebut. Pentingnya kemampuan danketerampilan membaca pada setiap orang diungkapkan oleh Burn dalam Rahim (2007: 1) bahwa “kemampuan membaca merupakan kemampuan yang mutlak dikuasai oleh masyarakat yang lebih maju”. Masyarakat akan cenderung lebih cepat mengalami, mengantisipasi dan menyesuaikan dengan berbagai perubahan dan kemajuan ketikA individu-individu yang ada dilam masyarakat itu memiliki kemampuan dan budaya membaca yang tinggi. Sebaliknya ketika sebuah masyarakat memiliki kemampuan dan budaya yang rendah akan relatif lebih lambat dalam menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di sekitarnya. 

Sejalan dengan hal di atas maka keterampilan membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang juga mutlak dikuasai oleh siswa SD. Syafi’Ie dalam Rahim (2008) menjelaskan bahwa Kemampuan dan keterampilan baca-tulis, khususnya keterampilan membaca harus dikuasai oleh para siswa SD, karena kemampuan dan keterampilan ini secara langsung berkaitan dengan seluruh proses kegiatan belajar siswa. Keberhasilan siswa dalam mengikuti pembelajaran dan untuk meningkatkan pengetahuan siswa sangat dipengaruhi oleh kemampuan mereka membaca. Oleh karena itu pengajaran membaca mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam proses belajar mengajar di sekolah.

Secara khusus pembelajaran sastra di sekolah dasar tekait dengan tataran kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan. Pada tataran kebahasaan, pembelajaran sastra diarahkan agar siswa mengenal dan mampu membedakan bentuk prosa, puisi, dan drama serta mampu membedakan ragam bahasa sastra dengan ragam bahasa yang lainnya. Pada tataran pemahaman, pembelajaran sastra diarahkan agar siswa memiliki kegemaranmembaca dan mendengarkan karya sastra untuk meningkatkan kepribadian, mempertajam kepekaan perasaan, dan memperluas wawasan kehidupan, sedang pada tataran penggunaan, pembelajaran sastra diarahkan agar siswa mampu memanfaatkan unsur-unsur kebahasaan dari karya sastra untuk kegjatan berbicara dan menulis. 

1.2 Tujuan
1. Mengkritik jurnal pendidikan sekolah dasar 
2. Mengetahui dan menambah wawasan pembaca mengenai jurnal pendidikan sekolah dasar

1.3 Manfaat
1. Mahasiswa dapat menambah wawasan dan dapat mengaplikasikan hasil penelitian jurnal pendidikan sekolah dasar 
2. Guna memenuhi mata kuliah keterampilan sekolah dasar.


BAB II
ISI JURNAL

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGAPRESIASI BACAAN CERITA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR MELALUI PENDEKATAN AREA ISI
Hasil penelitian:
1. Siklus Pertama 
Setelah dilakukan tindakan berupa penerapan pendekatan area isi dalam pembelajaran apresiasi sastra dengan bacaan cerita berjudul "Amelia" (1997) karya Norma R.V. Z diperoleh hasil sebagai berikut.

a. Kemampuan Siswa dalam Menemukan Unsur-Unsur Pembentuk Cerita 
Kemampuan isiswa dalam menemukan unsur-unsur pembentuk cerita, setelah dilakukan tindakan pada siklus I, pada umumnya siswa dapat me nyebutkan siapa tokohnya, bagaimana watak masing-masing tokohnya, dimana settingnya, bagimana alur ceritanya , dan bagaimana sudut pandang pengarangnya. Siswa pada umumnya belum dapat menyebutkan salah satu unsur pembentuk cerita, yaitu tema.


b. Kemampuan Siswa dalam Menemukan Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Bacaan Cerita. 
Setelah dilakukan tindakan pada siklus I, pada umumnya sebagian besar siswa belum dapat menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita "Amelia".Ketidakmampuan siswa dalam menemukan nilai-nilai dalam cerita "Amelia" ini, diduga siswa tidak memahami istilah "nilai" sehingga hasil pekerjaan siswa untuk tugas menyebutkan nilai-nilai ini kosong.

c. Kemampuan Siswa Memberi Tanggapan Tertulis Pada Bacaan Cerita 
Pada umumnya siswa dapat memberi tanggapan tertulis pada bacaan cerita yang telah dibacanya. Namun demikian tanggapan tersebut hanya dinyatakan dalam kalimat- kalimat pernyataan yang sangat sederhana, boleh dikatakan berupa pernyataan singkat 

Hasil Analisis Dan Refleksi Siklus I 
Hasil pelaksanaan tindakan siklus I, dianalisis dan direfleksi dengan guru kelas yang hasilnya adalah sebagai berikut: 
(1) siswa belum dapat menyebutkan tema cerita, hal ini diduga karena siswa belum/tidak memahami istilah "tema". Untuk itu, perlu diberikan penjelasan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa agar siswa dapat menemukan tema cerita; 
(2) siswa yang tidak dapat menyebutkan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita, diduga juga karena siswa tidak memahami istilah "nilai". Untuk itu, perlu adanya penjelasan yang mendetail berkaitan dengan istilah kepada siswa, sehingga siswa dapat memahaminya dan dapat menemukan nilai-nilai cerita pada bacaan yang diceritanya.
(3) siswa yang telah dapat mengemukakan tanggapannya atas isi cerita, perlu dijelaskan bahwa tanggapan akan lebih baik bila disertai alasan, karena dengan demikian siswa telah diarahkan untuk dapat membuat pemyataan lebih lengkap dan ini jauh lebih baik di samping juga dapat melatih kemampuan mengungkapkan gagasan. 

Dari hasil analisis dan refleksi ini, akan dipakai sebagai pedoman perbaikan pada tindakan siklus II. 
2. Siklus Kedua 
Pelaksanaan tindakan siklus II ini, urutan-urutan kegiatannya tidak jauh berbeda dengan urutan-urutan tindakan yang dilakukan pada siklus I, hanya saja ada tambahan penjelasan mendetail berkaitan dengan istilah "tema" dan istilah "nilai" yang perlu dipahamkan kepada siswa sehingga siswa benar-benar dapat memahaminya dan dapat melakukan pencarian tema dan nilai-nilai pada bacaan cerita yang dibacanya. Di samping itu, perlu juga dijelaskan pada siswa agar dapat memberikan alasan pada tanggapan tertulisnya atas isi cerita yang dibacanya, karena dengan demikian akan dapat melatih kemampuan berbahasa siswa. 

Hasil selengkapnya setelah dilakukan tindakan pada siklus II adalah sebagai berikut: 
a. Kemampuan Siswa Dalam Menemukan Unsur-Unsur Pembentuk Cerita 
Setelah dilakukan tindakan pada siklus II dengan cara memberi penjelasan yang lebih mendalam berkaitan dengan istilah "tema", sebagian besar siswa (80%) telah dapat menyebutkan unsur-unsur pembentuk cerita secara lengkap : ada tema, tokoh, perwatakan, setting, alur, dan sudut pandang pengarang. Masing-masing unsur pembentuk cerita yang disebutkan didukung oleh kalimat-kalimat dalam bacaan yang menyatakan gambaran masing-masing unsur cerita.

b. Kemampuan Siswa dalam Menemukan Nilai-nilai yang Terkandung dalam Bacaan Cerita. 
Sama halnya kemampuan menemukan tema cerita, kemampuan siswa dalam menemukan nilai-nilai cerita dapat dilakukannya setelah mendapat penjelasan mendetail berkaitan dengan apa yang dimaksud dengan nilai. Sebagian besar siswa (75%) telah dapat menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita disertai dengan kalimat-kalimat yang mendukung pemyataannya. .

Hasil Analisis Dan Refleksi Siklus II
Setelah dilakukan analisis dan refleksi siklus II dengan guru kelas hasilnya adalah sebagai berikut: 
(1) penjelasan guru tentang tema pada siswa dengan bahasa yang mudah dipahami berdampak pada kemampuan siswa menemukan tema cerita; 
(2) penjelasan guru tentang nilai-nilai pada siswa dengan bahasa yang mudah dipahami berdampak positif pada kemampuan siswa dalam menemukan nilai-nilai cerita; 
(3) penjelasan guru akan pentingnya pemberian alasan pada pernyataan siswa, berdampak positif pada kemampuan berbahasa siswa. Siswa 

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN
MELALUI METODE SURVEY, QUESTION, READ, RECITE, REVIEW (SQ3R)
PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 46 PAREPARE
Hasil penelitian:

1. Pelaksanaan Siklus
Pada siklus I proses pembelajaran belumberjalan dengan sempurna. Berdasarkan lembarobservasi guru, hasil pengamatan terhadap guruselama kegiatan pembelajaran pada siklus Imenunjukkan bahwa dari 24 indikator yangdilakukan oleh guru sesuai dengan metodeSQ3R, yang terlaksana berjumlah 16 indikatoratau 66,67% dan berada pada kategori Cukup.Sementara itu hasil observasi pada siswamenunjukkan bahwa dari 24 indikator yangdilaksanakan oleh siswa sesuai dengan metodeSQ3R, yang terlaksana berjumlah 17 indikatoratau 70,83% dan berada pada kategori Cukup.

Dengan demikian data observasi tersebutmenunjukkan kategori Cukup dalam prosespelaksanaan pembelajaran dengan metodeSQ3R.

Beberapa faktor penyebabnya antara lainsiswa masih belum terbiasa dengan metodepembelajaran semacam ini. Demikian pulayang terjadi pada guru sehingga tidak terlalurinci dalam menjelaskan dasar-dasar penerapanmetode SQ3R ini pada siswanya.Selain itu,guru juga masih belum begitu hafal langkahdemi langkah sehingga masih sering melihatlangkah pembelajaran di RPP. Sejalan denganproses yang belum baik, maka pemahamansiswa terhadap materi membaca pemahamanmasih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihatdari hasil penilaian LKS dan tes akhir siklusIyaitu 20 orang siswa (52,63%) yang mencapaiKKM atau dalam taraf keberhasilan tindakanpembelajaran menurut Djamarah (2006)persentase tersebut berada pada kategori kurang(K).

Berdasar data-data yang diperoleh di siklus I maka peneliti berasusi bahwa tindakanpembelajaran dalam siklus I dianggap belumberhasil meningkatkan hasil belajar siswa.Maka secara kolaboratif diputuskan untuk dilanjutkan ke siklus II dengan melakukanperbaikan sebagai berikut: 1) Guru harusmenjelaskan terlebih dahulu langkah yang akandilalui selama pembelajaran sehingga siswalebih terarah. 2) Guru lebih tertib dan tegasdalam melaksanakan tahap demi tahap metodeSQ3R sehingga siswa juga akan mengikutitahap demi tahap. 3) Guru memberi tanda danlebih tegas tentang kapan bacaan harus ditutupdan kapan harus dibaca kembali. 4) Saat siswamelakukan kegiatan membaca sekilas guruharus memantau siswa, sehingga dapat siswamembaca sekilas dengan baik. 5) Gurumengarahkan siswa untuk menyusunpertanyaan dengan kata tanya yang variatif. 6)Guru membimbingsiswa untuk menyusunpertanyaan yang mencakup keseluruhan isibacaan. 7) Guru membimbing siswa untukmenyusun pertanyaan dengan menggunakankata tanya yang mengarah pada high orderthinking. 8) Pada saat akan mengadakan tesevaluasi guru memberikan selingan (icebreaker) diantara pelaksanaan pembelajarandan evaluasi siklus.

Pada siklus II proses pembelajaran denganpenerapan metode SQ3R sudah mulai berjalandengan baik, hal ini dikarenakan penelitimelakukan perbaikan-perbaikan dalamkegiatan pembelajaran sehingga siswa jugaikut antusias dalam melaksanakanpembelajaran sesuai dengan metode SQ3R.Berdasarkan lembar observasi guru, hasilpengamatan terhadap guru selama kegiatanpembelajaran pada siklus II menunjukkanbahwa dari 24 indikator yang dilakukan olehguru sesuai dengan metode SQ3R, yangterlaksana berjumlah 21 indikator atau 87,50%dan berada pada kategori Baik. 

Sementara ituhasil observasi pada siswa menunjukkanbahwa dari 24 indikator yang dilaksanakanoleh siswa sesuai dengan metode SQ3R, yangterlaksana berjumlah 20 indikator atau 80,33% dan berada pada kategori Baik. Data lainmenunjukkan bahwa pemahaman siswa dalammateri membaca pemahaman sudah adapeningkatan. Dari hasil penilaian LKS dan tesevaluasi siswa, terdapat 26 orang siswa yangmencapai KKM (68,42%), meskipun jikadisesuaikan dengan taraf keberhasilan tindakanpembelajaran menurut Djamarah (2006)persentase tersebut masih berada pada kategoriCukup. Berdasarkan data observasi maupun datahasil belajar siswa maka penelitian inidiputuskan untuk dihentikan di siklus III.Meskipun masih ada beberapa hal yang belumtuntas, antara lain kemampuan menyusunpertanyaan dan jawaban yang mengarah padahigh order thinking dan masih terdapat sekitar16% siswa yang belum mencapai batasminimal KKM 75.

2. Perubahan Yang Terjadi DalamPembelajaran Membaca Pemahaman
a. Perubahan Proses PembelajaranMembaca PemahamanDengan diterapkannya metode SQ3R ada perubahan aktivitas pembelajaran membacapemahaman di kelas IV SD N 46 Parepare. 
Adaproses yang dilakukan siswa sebelum akhirnyamereka dapat memahami isi bacaan, dengandemikian aktivitas membaca siswa tidak hanyasekedar melafalkan bacaan. Akan tetapi merekakritis terhadap apa yang mereka baca sepertimenanya atau membuat pertanyaan, lalumembuat jawaban sesuai denganinterpretasinya, menceritakan kembali secarakretatif berdasarkan pemahamnnya dansebagainya. Crawley dan Mountain dalamRahim (2009) menjelaskan bahwa sebagaiproses berfikir, membaca mencakup aktivitaspengenalan kata, pemahaman literal,interpretasi, membaca kritis, dan pemahamankreatif.Melalui aktivitas pembelajaran di Siklus I,II dan III siswa mendapatkan pengalamanbelajar membaca pemahaman berupapenentuan ide pokok bacaan, mencobamenanya isi bacaan dan mencari jawabannya,menuliskan isi bacaan dan menceritakankembali isi bacaan.Secara komprehensifmereka diajak memahami bacaan lalumengkomunikasikan hal-hal yang dipahaminyabaik melalui tulisan maupun cerita isi bacaanyang dikaitkan dengan pengalamannya.

Dalam hal ini sesuai dengan pendapat Herberdan Nelson dalam Rahim (2008) yangmembagi level pemahaman menjadi tiga level,yakni: 1) Pemahaman literal, adalahpemahaman dimana informasi yang diperolehdari bacaan, yang persis sama dengan teks ataubacaan dan level ini merupakan modal awaluntuk menuju ke level pemahaman selanjutnya.2) Pemahaman interpretive, adalah pemahamanyang diperoleh oleh penafsirangagasan-gagasan atau informasi yang adadalam teks. Dengan kata lain pemahaman levelini mengacu pada proses menentukan maksuddari apa yang tertulis dalam teks, atau mengacupada penemuan pesan yang implisit yangterkandung dalam teks. 3) Pemahaman applied,adalah pemahaman yang diperoleh melaluiproses sintesis dari berbagai gagasan daninformasi, baik yang bersumber dari dalam teksmaupun yang bersumber dari luar teks. 

b. Peningkatkan Kemampuan MembacaPemahaman SiswaDengan diterapkannya metode SQ3R
Dalam pembelajaran membaca pemahamanhasil belajar siswa dapat meningkat. Hasilbelajar siswa pada siklus I, II dan III terusmeningkat seiring dengan perbaikan yang terjadi pada proses pembelajaran di siklus I, IIdan III. Pada akhirnya di siklus III hasil belajarsiswa dapat maksimal sesuai harapan dimana84,21% siswa dapat tuntas dalam pembelajaranmembaca pemahaman di kelas IV SD N 46Parepare semester ganjil.

Dalam penerapan metode SQ3Rdisarankan untuk memperhatikan hal-halsebagai berikut: 1) Perlu pengelolaan waktusecara maksimal mengingat terdapat beberapatahapan dalam metode SQ3R yang perlu dirancang alokasi waktunya dengan cermat. 2)Harus membimbing siswa untuk melaksanakantahap demi tahap metode SQ3R sehinggamembutuhkan kesabaran ekstra keras dari guru,maka disarankan metode ini diterapkan padakelas kecil (maksimal 20 siswa) agar hasilnyaoptimal. 3) Penyediaan bahan bacaanhendaknya memperhatikan karakteristik siswadisetiap level atau kelas.Selain itumemperhatikan pula kontekstualnya bagi siswasehingga bacaan yang dipelajarinya menjadibermakna bagi bertambahnya pengetahuan danpengalaman tanpa mengesampingkanpengetahuan dan pengalaman yang telahmereka miliki sebelumnya. 4) Bagi penelitilain yang ingin mengkaji lebih lanjut metodeSQ3R, kiranya bisa mencoba menerapkanmetode ini untuk mata pelajaran lain selainBahasa Indonesia. Sebab pada hakekatnyasemua mata pelajaran membutuhkankemampuan membaca yang baik pada dirisiswa.


BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Kekuatan penelitian : 
· Dalam jurnal utama saya yang berjudul “Meningkatkan Kemampuan Mengapresiasi Bacaan Cerita Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Melalui Pendekatan Area Isi” menyajikan hasil penelitian yang berupa 2 siklus secara rinci dan terpisah sehingga lebih memudahkan pembaca untuk lebih mengetahui kemajuan dari setiap siklus, sedangkan pada jurnal pembanding saya yang berjudul “Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman melalui metode Survey, Question, Read, Recite, Review (SQ3R) Pada Siswa Kelas IV SD Negeri 46 Parepare” menyajikan hasil penelitian yang juga berupa 2 siklus dengan cara menggabungkannya, sehingga pembaca sulit untuk memahaminya.

· Dalam jurnal utama saya yang berjudul “Meningkatkan Kemampuan Mengapresiasi Bacaan Cerita Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Melalui Pendekatan Area Isi” menyajikan hasil dari setiap tahapan secara terperinci dan jelas, sedangkan padajurnal pembanding saya yang berjudul “Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman melalui metode Survey, Question, Read, Recite, Review (SQ3R) Pada Siswa Kelas IV SD Negeri 46 Parepare” menyajikan tahapan-tahapan secara gabung, sehingga khususnya pada tahapan hasl evaluasi ataupun refleksi kurang dapat dipahami.

· Dalam jurnal utama saya yang berjudul “Meningkatkan Kemampuan Mengapresiasi Bacaan Cerita Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Melalui Pendekatan Area Isi” menyajikan sampel yang digunakan dalam pengambilan data, sehingga pembaca lebih mudah memahaminya, sedangkan padajurnal pembanding saya yang berjudul “Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman melalui metode Survey, Question, Read, Recite, Review (SQ3R) Pada Siswa Kelas IV SD Negeri 46 Parepare” menyajikan setiap data tanpa memberikan contoh yang digunakan dalam teknik pengambilan data pada siswa.

3.2 Kelemahan penelitian :
· Dalam jurnal utama saya yang berjudul “Meningkatkan Kemampuan Mengapresiasi Bacaan Cerita Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Melalui Pendekatan Area Isi” menyajikan setiap ahsil penelitian, maupun pembahasan dalam bentuk paragraph, sedangkan dalam jurnal pembanding saya yang berjudul “Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman melalui metode Survey, Question, Read, Recite, Review (SQ3R) Pada Siswa Kelas IV SD Negeri 46 Parepare” menyajikan hasil dalam bentuk diagram batang, sehingga pembaca lebih mudah memahami persetase kemajuan siswa pada setiap siklus

· Dalam jurnal berjudul “Meningkatkan Kemampuan Mengapresiasi Bacaan Cerita Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Melalui Pendekatan Area Isi” melakukan penelitian dengan 2 siklus, sedangkan pada jurnal pembanding saya yang berjudul berjudul “Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman melalui metode Survey, Question, Read, Recite, Review (SQ3R) Pada Siswa Kelas IV SD Negeri 46 Parepare” menyajikan hasil penelitian dalam 3 siklus, sehingga tingkat keberhasilan dalam menerima suatu metode pada siswa dapat lebih dipahami dengan dilakukan secara berulang-ulang.


BAB IV
PENUTUP

1 Kesimpulan
Berdasarkan jurnal utama, dapat di tarik kesimpulan bahwa, sebagai berikut :
Pembelajaran apresiasi bacaan cerita dengan pendekatan area isi yang menekankan pada pemahaman/'penjelasan akan unsur-unsur pembentuk cerita secara mendalam dapat meningkatkan pemahaman siswa pada unsur-unsur pembentuk cerita sampai 80% dari total jumlah siswa. Pembelajaran apresiasi bacaan cerita dengan pendekatan area isi yang menekankan pada penjelasan akan nilai-nilai secara mendalam dapat meningkatkan pemahaman siswa pada nilai-nilai yang terkandung dalam bacaan cerita hingga 75% dari total jumlah siswa, Pembelajaran apresiasi bacaan cerita dengan pendekatan area isi yang menekankan pada pentingnya pemberian alasan pada tanggapan. Tertulis isi cerita dapat meningkatkan kemampuan bahasa tulis siswa hingga 80% dari total jumlah siswa. 

Berdasarkan jurnal pembanding, dapat di tarik kesimpulan bahwa, sebagai berikut :
Penerapan metode SQ3Rdapat meningkatkan kemampuan membacapemahaman siswa Kelas IV SD N 46 Parepare.Hal ini ditunjukkan oleh adanya perubahan yang terjadi pada proses pembelajaranmembaca pemahaman yang dilaksanakanmelalui proses pembelajaran di siklus I, II danIII. Perubahan yang terjadi pada prosespembelajaran tersebut kemudian mampumendorong peningkatan kemampuan membacapemahaman siswa kelas IV di SD N 46Parepare

2 Saran 
Berdasarkan pembahasan mengenai jurnal utama dan jurnal pembanding, disarankan guru mata pelajaran dapat memperhatikan beberapa hal dalam pelaksanaan proses pembelajaran membaca yaitu penggunaan waktu siswa dalam membaca, serta membimbing siswa dalam tahap pembacaan, sehingga metode yang diterapkan seperti pendekatan area isi dan metode SQ3R dapat terlaksana dengan baik. 

Facebook Comment