Makalah : Tata Niaga Pada Tanaman Padi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan ini merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Meskipun padi dapat digantikan oleh makanan lainnya, namun padi memiliki nilai tersendiri bagi orang yang biasa makan nasi dan tidak dapat dengan mudah digantikan oleh bahan makanan yang lain.
Padi adalah salah satu bahan makanan yang mengandung gizi dan penguat yang cukup bagi tubuh manusia, sebab didalamnya terkandung bahan yang mudah diubah menjadi energi. Oleh karena itu padi disebut juga makanan energi.
Menurut Collin Clark Papanek, nilai gizi yang diperlukan oleh setiap orang dewasa adalah 1821 calori yang apabila disetarakan dengan beras maka setiap hari diperlukan beras sebanyak 0,88 kg. Beras mengandung berbagai zat makanan antara lain: karbohidrat, protein, lemak, serat kasar, abu dan vitamin. Disamping itu beras mengandung beberapa unsur mineral antara lain: kalsium, magnesium, sodium, fosphor dan lain sebagainya.

1.2  TUJUAN
·         Mendeskripsikan budidaya padi sawah
·         Menghitung pendapatan dan keuntungan



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1   BUDIDAYA TANAMAN PADI
Padi termasuk genus Oryza L yang meliputi lebih kurang 25 spesies, tersebar didaerah tropik dan daerah sub tropik seperti Asia, Afrika, Amerika dan Australia. Menurut Chevalier dan Neguier padi berasal dari dua benua Oryza fatua Koenig dan Oryza sativa L berasal dari benua Asia, sedangkan jenis padi lainya yaitu Oryza stapfii Roschev dan Oryza glaberima Steund berasal dari Afrika barat.     Padi yang ada sekarang ini merupakan persilangan antara Oryza officinalis dan Oryza sativa f spontania. Di Indonesia pada mulanya tanaman padi diusahakan didaerah tanah kering dengan sistim  ladang, akhirnya orang berusaha memantapkan basil usahanya dengan cara mengairi daerah yang curah hujannya kurang. Tanaman padi yang dapat tumbuh dengan baik didaerah tropis ialah Indica, sedangkan Japonica banyak diusakan didaerah sub tropika.

Tata Niaga Pada Tanaman Padi

Klasifikasi Tanaman Padi
·         Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)
·         Subkingdom    : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)  
·         Super Divisi   : Spermatophyta (Menghasilkan biji)  
·         Divisi              : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)  
·         Kelas              : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
·         Sub Kelas        : Commelinidae
·         Ordo                : Poales
·         Famili              : (suku rumput-rumputan)
·         Spesies            : Oryza sativa L.
Teknik bercocok tanam yang baik sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan. Hal ini harus dimulai dari awal, yaitu sejak dilakukan persemaian sampai tanaman itu bisa dipanen. Dalam proses pertumbuhan tanaman hingga berbuah ini harus dipelihara yang baik, terutama harus diusahakan agar tanaman terhindar dari serangan hama dan penyakit yang sering kali menurunkan produksi.


A. PERSEMAIAN
Membuat persemaian merupakan langkah awal bertanam padi. Pembuatan persemaian memerlukan suatu persiapan yang sebaik-baiknya, sebab benih di persemaian ini akan menentukan pertumbuhan padi di sawah, oleh karena itu persemian harus benar-benar mendapat perhatian, agar harapan untuk mendapatkan bibit padi yang sehat dan subur dapat tercapai.
      Penggunaan benih
·         Benih unggul
·         Bersertifikat
·         Kebutuhan benih 25 -30 kg / ha
      Persiapan lahan untuk persemaian
·         Tanah harus subur
·         Cahaya matahari
·         Pengairan
·         Pengawasan
      Pengolahan tanah calon persemaian
·         Persemaian kering
·         Persemaian basah
·         Persemaian sistem dapog
·         Persemaian Kering
Persemaian kering biasanya dilakukan pada tanah-tanah remah, banyak terdapat didaerah sawah tadah hujan. Persemaian tanah kering harus dilakukan dengan baik yaitu :
·          Tanah dibersihkan dari rumput clan sisa -sisa jerami yang masih tertinggal, agar tidak mengganggu pertumbuhan bibit.
·          Tanah dibajak atau dicangkul lebih dalam dari pada apa yang dilakukan pada persemaian basah, agar akar bibit bisa dapat memasuki tanah lebih dalam, sehingga dapat menyerap hara lebih banyak.
·          Selanjutnya tanah digaru
Areal  persemaian  yang   tanahnya   sempit   dapat   dikerjakan   dengan cangkul, yang pada dasarnya pengolahan tanah ini bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah, agar tanah menjadi gembur.
  
Ukuran bedengan persemaian :
·         Panjang bedengan : 500 -600 cm atau menurut kebutuhan, akan tetapi perlu diupayakan agar bedengan tersebut tidak terlalu panjang
·         Lebar bedengan 100 -150 cm
·         Tinggi bedengan  20 -30 cm
Diantara kedua bedengan yang berdekatan selokan, dengan ukuran lebar 30-40 cm. Pembuatan selokan ini dimaksud untuk mempermudah :
·         Penaburan benih dan pencabutan bibit
·         Pemeliharaan bibit dipersemaian meliputi :
·         Penyiangan
·         Pengairan
·         Pemupukan
·         Pemberantasan hama dan penyakit
Persemaian diupayakan lebih dari 1/25 luas sawah yang akan ditanami, penggunaan benih pada persemaian kering lebih banyak dari persemaian basah.
·         Persemaian Basah
Perbedaan   antara   persemaian   kering   dan   basah   terletak   pada penggunaan air. Persemaian basah, sejak awal pengolahan tanah telah membutuhkan genangan air. Fungsi genangan air :
·         Air akan melunakan tanah
·         Air dapat mematikan tanaman pengganggu ( rumput )
·         Air dapat dipergunakan untuk memberantas serangga pernsak bibit
Tanah yang telah cukup memperoleh genangan air akan menjadi lunak, tanah yang sudah lunak ini diolah dengan bajak dan garu masing-masing 2 kali. Namun sebelum pengolahan tanah harus dilakukan perbaikan pematang terlebih dahulu, kemudian petak sawah dibagi menurut keperluan. Luas persemaian yang digunakan 1/20 dari areal pertanaman yang akan ditanami.
·         Sistem Dapog
Di Filipina telah dikenal cara penyemaian dengan sistem dapog, sistem tersebut di Kabupaten Bantul telah dipraktekan di Desa Pendowoharjo, Sewon.
Cara penyemaian dengan sistem dapog :
1.      Persiapan persemaian seperti pada persemaian basah
2.      Petak yang akan ditebari benih ditutup dengan daun pisang
3.      Kemudian benih ditebarkan diatas daun pisang, sehingga pertumbuhan benih dapat menyerap makanan dari putik lembaga
4.      Setiap hari daun pisang ditekan sedikit demi sedikit kebawah
5.      Air dimasukan sedikit demi sedikit hingga cukup sampai hari ke 4
6.      Pada umur 10 hari daun pisang digulung dan dipindahkan kepersemaian yang baru atau tempat penanaman disawah

·         Penaburan benih
Perlakuan sebagai upaya persiapan
Benih terlebih dahulu direndam dalam air dengan maksud :
·         Seleksi terhadap benih yang kurang baik, terapung, melayang harus dibuang
·         Agar terjadi proses tisiologis
Proses tisiologis berarti terjadinya perubahan didalam benih yang akhimya  benih  cepat  berkecambah.  Terserap  atau  masuknya  air kedalam benih akan mempercepat proses tisiologis
Lama perendaman benih
            direndam dalam air selama 24 jam, kemudian diperam (sebelumnya ditiriskan atau dietus)
Lamanya pemeraman
Benih diperam selama 48 jam, agar didalam pemeraman tersebut benih berkecambah.
Pelaksanaan menebar benih
Hal- hal yang hams diperhatikan dalam menebar benih adalah :
·         Benih telah berkecambah dengan panjang kurang lebih 1 mm
·         Benih tersebar rata
·         Kerapatan benih harus sama

      Pemeliharaan persemaian
·           Pengairan
Pada pesemaian secara kering
Pengairan pada pesemaian kering dilakukan dengan cara mengalirkan air   keselokan   yang   berada   diantara   bedengan,   agar   terjadi perembesan sehingga pertumbuhan tanaman dapat berlangsung, meskipun dalam hal ini sering kali ditumbuhi oleh tumbuhan pengganggu atau rumput. Air berperan menghambat atau bahkan menghentikan pertumbuhan tanaman pengganggu / rumput. Perlu diketahui bahwa banyaknya air dan kedalamanya merupakan faktor
yang memperngaruhi  perkembangan  semai,  terutama  pada pesemaian yang dilakukan secara basah.
Pada pesemaian basah
Pengairan pada pesemaian basah dilakukan dengan cara sebagai berikut :
·         Bedengan digenangi air selama 24 jam
·         Setelah genagan itu berlangsung selama 24 jam, kemudian air dikurang hingga keadakan macak-macak (nyemek-nyemek), kemudian benih mulai bisa disebar
Pengurangan air pada pesemaian hingga keadaan air menjadi macak- macak ini, dimaksudkan agar benih yang disebar dapat merata dan mudah melekat ditanah sehingga akar mudah masuk kedalam tanah.
·         Benih tidak busuk akibat genagan air
·         Memudahkan benih bernafas / mengambil oksigen langsung dari udara, sehingga proses perkecambahan lebih cepat
·         Benih mendapat sinar matahari secara langsung
Agar benih dalam bedengan tidak hanyut, maka air harus diatur sesuai dengan keadaan, misalnya: bila akan terjadi hujan maka bedengan perlu digenangi air, agar benih tidak hanyut. Penggenangan air dilakukan lagi pada saat menjelang pemindahan bibit dari pesemaian kelahan pertanaman, untuk memudahkan pencabutan.
·           Pemupukan dipersemaian
Biasanya unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah besar ialah unsur hara makro. Sedangkan pupuk buatan / anorganik seperti Urea, TSP dll diberikan menjelang penyebaran benih dipesemaian, bila perlu diberi zat pengatur tumbuh. Pemberian zat pengatur tumbuh pada benih dilakukan menjelang benih disebar.

B.PERSIAPAN DAN PENGOLAHAN TANAH
Pengolahan tanah bertujuan mengubah keadaan tanah pertanian dengan alat tertentu hingga memperoleh susunan tanah ( struktur tanah ) yang dikehendaki oleh tanaman. Pengolahan tanah sawah terdiri dari beberapa tahap :
·         Pembersihan
·         Pencangkulan
·         Pembajakan
·         Penggaruan

C. PENANAMAN
Dalam penanaman bibit padi, harus diperhatikan sebelumnya adalah :
         Persiapan lahan
         Umur bibit
         Tahap penanaman

D. PEMELIHARAAN
Meliputi :
         Penyulaman dan penyiangan
         Pengairan
         Pemupukan

2.2 KONSEP PENDAPATAN DAN KEUNTUNGAN
Menurut Hernanto (1994), besarnya pendapatan yang akan diperoleh dari suatu kegiatan usahatani tergantung dari beberapa faktor yang mempengaruhinya seperti luas lahan, tingkat produksi, identitas pengusaha, pertanaman, dan efisiensi penggunaan tenaga kerja.  Dalam melakukan kegiatan usahatani, petani berharap dapat meningkatkan pendapatannya sehingga kebutuhan hidup sehari-hari dapat terpenuhi.  Harga dan produktivitas merupakan sumber dari faktor ketidakpastian, sehingga bila harga dan produksi berubah maka pendapatan yang diterima petani juga berubah (Soekartawi, 1990).
Menurut Gustiyana (2003), pendapatan dapat dibedakan menjadi dua yaitu pendapatan usahatani dan pendapatan rumah tangga.  Pendapatan merupakan pengurangan dari penerimaan dengan biaya total.  Pendapatan rumah tangga yaitu pendapatan yang diperoleh dari kegiatan usahatani ditambah dengan pendapatan yang berasal dari kegiatan diluar usahatani.  Pendapatan usahatani adalah selisih antara pendapatan kotor (output) dan biaya produksi (input) yang dihitung dalam per bulan, per tahun, per musim tanam.  Pendapatan luar usahatani adalah pendapatan yang diperoleh sebagai akibat melakukan kegiatan diluar usahatani seperti berdagang, mengojek, dll.

1.      Pendapatan Usahatani
Pendapatan usahatani menurut Gustiyana (2004), dapat dibagi menjadi dua pengertian, yaitu (1) pendapatan kotor, yaitu seluruh pendapatan yang diperoleh petani dalam usahatani selama satu tahun yang dapat diperhitungkan dari hasil penjualan atau pertukaran hasil produksi yang dinilai dalam rupiah berdasarkan harga per satuan berat pada saat pemungutan hasil, (2) pendapatan bersih, yaitu seluruh pendapatan yang diperoleh petani dalam satu tahun dikurangi dengan biaya produksi selama proses produksi.  Biaya produksi meliputi biaya riil tenaga kerja dan biaya riil sarana produksi.
Dalam pendapatan usahatani ada dua unsur yang digunakan yaitu unsur penerimaan dan pengeluaran dari usahatani tersebut.  Penerimaan adalah hasil perkalian jumlah produk total dengan satuan harga jual, sedangkan pengeluaran atau biaya yang dimaksudkan sebagai nilai penggunaan sarana produksi dan lain-lain yang dikeluarkan pada proses produksi tersebut (Ahmadi, 2001).  Produksi berkaitan dengan penerimaan dan biaya produksi, penerimaan tersebut diterima petani karena masih harus dikurangi dengan biaya produksi yaitu keseluruhan biaya yang dipakai dalam proses produksi tersebut (Mubyarto, 1989).
Menurut Hernanto (1994), ada beberapa faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani:
·         Luas usaha, meliputi areal pertanaman, luas tanaman, luas tanaman  rata-rata,
·         Tingkat produksi, yang diukur lewat produktivitas/ha dan indeks  pertanaman,
·         Pilihan dan kombinasi,
·         Intensitas perusahaan pertanaman,
·         Efisiensi tenaga kerja.
Menurut Soekartawi (1995), biaya usahatani adalah semua pengeluaran yang dipergunakan dalam usahatani. Biaya usahatani dibedakan menjadi dua yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap.  Biaya tetap adalah biaya yang besarnya tidak tergantung pada besar kecilnya produksi yang akan dihasilkan, sedangkan biaya tidak tetap adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh volume produksi.
Secara matematis untuk menghitung pendapatan usahatani dapat ditulis sebagai berikut :
π   =  Y. Py – Σ Xi.Pxi - BTT
Keterangan :
π                =  Pendapatan (Rp)
Y               =  Hasil produksi (Kg)
Py              =  Harga hasil produksi (Rp)
Xi              =  Faktor produksi (i = 1,2,3,….,n)
Pxi             =  Harga faktor produksi ke-i (Rp)
BTT           =  Biaya tetap total (Rp)
Untuk mengetahui usahatani menguntungkan atau tidak secara ekonomi
dapat dianalisis dengan menggunakan nisbah atau perbandingan antara
penerimaan dengan biaya (Revenue Cost Ratio).
Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:
R/C  =  PT / BT
      Keterangan:
      R/C = Nisbah penerimaan dan biaya
      PT = Penerimaan Total (Rp)
      BT = Biaya Total (Rp)
            Adapun kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:
·         Jika R/C > 1, maka usahatani mengalami keuntungan karena  penerimaan lebih besar dari biaya.
·         Jika R/C < 1, maka usahatani mengalami kerugian karena penerimaan  lebih kecil dari biaya.
·         Jika R/C = 1, maka usahatani mengalami impas karena penerimaan sama dengan biaya.
                                        
2.      Pendapatan Rumah Tangga
Menurut Mosher (1985), tolok ukur yang sangat penting untuk melihat kesejahteraan petani adalah pandapatan rumah tangga, sebab beberapa aspek dari kesejahteraan tergantung pada tingkat pendapatan petani.  Besarnya pendapatan petani itu sendiri akan mempengaruhi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi yaitu, pangan, sandang, papan, kesehatan dan lapangan kerja.
Petani di pedesaan khususnya petani kecil sangat tergantung dari pendapatan di sektor non pertanian sehingga kaitan keberhasilan sektor pertanian dan non pertanian di pedesaan menjadi sangat kental (Soekartawi, 1994). Keluarga pada umumnya terdiri dari seorang kepala keluarga dan beberapa orang anggotanya.  Kepala rumah tangga adalah orang yang paling bertanggungjawab terhadap rumah tangga tersebut, sedangkan anggota keluarga atau rumah tangga adalah mereka yang hidup dalam satu atap dan menjadi tanggungan kepala rumah tangga yang bersangkutan.
Tingkat pendapatan rumah tangga merupakan indikator yang penting untuk mengetahui tingkat hidup rumah tangga.  Umumnya pendapatan rumah tangga di pedesaan tidak berasal dari satu sumber, tetapi berasal dari dua atau lebih sumber pendapatan.  Tingkat pendapatan tersebut diduga dipengaruhi oleh pemenuhan kebutuhan dasar rumah tangga petani.
Hernanto (1994), menyatakan bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi keberhasilan usahatani, yaitu faktor internal seperti unsur tanah, air, iklim, tingkat teknologi, manajemen, tenaga kerja, modal, dan jumlah tenaga kerja.  Selain faktor internal juga terdapat faktor eksternal, yaitu tersedianya sarana transportasi dan komunikasi, harga, sarana produksi, fasilitas kredit, dan penyuluhan.
Tingkat pendapatan yang rendah mengharuskan anggota rumah tangga untuk bekerja atau berusaha lebih giat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.  Pendapatan keluarga diharapkan mencerminkan tingkat kekayaan dan besarnya modal yang dimiliki petani.  Semakin besar pendapatan keluarga petani cenderung lebih berani menanggung resiko.  Pendapatan besar mencerminkan tersedianya dana yang cukup untuk usahatani selanjutnya dan pendapatan yang rendah menyebabkan menurunnya investasi dan upaya pemupukan modal. 
Menurut Soekirno (1985), terdapat empat ukuran pendapatan:
·         Pendapatan Kerja Petani
            Pendapatan ini diperoleh dengan menghitung semua penerimaan dan kenaikan investasi yang kemudian dikurangi dengan pengeluaran baik tunai maupun bunga modal dan investasi nilai kerja keluarga.
·         Penghasilan Kerja Petani
 Pendapatan ini diperoleh dari selisih total penerimaan usahatani setelah dikurangi dengan bunga modal.
·         Pendapatan Kerja Keluarga
Pendapatan yang diperoleh dari balas jasa dan kerja serta pengelolaan yang dilakukan petani dan anggotanya yang bertujuan untuk menambah penghasilan rumah tangga.


·         Pendapatan Keluarga
Angka ini diperoleh dengan menghitung pendapatan dari sumber-sumber lain yang diterima petani bersama keluarga disamping kegiatan pokoknya.
Sumber pendapatan rumah tangga digolongkan kedalam dua sektor, yaitu sektor pertanian dan non pertanian. Sumber pendapatan dari sektor pertanian dapat dirincikan lagi menjadi pendapatan dari usahatani, ternak, buruh petani, menyewakan lahan dan bagi hasil.  Sumber pendapatan dari sektor non pertanian dibedakan menjadi pendapatan dari industri rumah tangga, perdagangan, pegawai, jasa, buruh non pertanian serta buruh subsektor pertanian lainnya (Sajogyo, 1990).
Menurut Soeratno (1996),  ukuran pendapatan yang digunakan untuk tingkat kesejahteraan keluarga adalah pendapatan rumah tangga yang diperoleh dari bekerja.  Tiap anggota keluarga berusia kerja dirumah tangga akan terdorong bekerja untuk kesejahteraan keluarganya.  Beberapa hasil studi menunjukkan bahwa anggota keluarga seperti istri dan anak-anak adalah penyumbang dalam berbagai kegiatan baik dalam pekerjaan rumah tangga maupun mencari nafkah.
Menurut Hernanto (1994), pendapatan petani dialokasikan untuk kegiatan:
·         Kegiatan produktif, yaitu untuk membiayai kegiatan usahataninya,
·         Kegiatan konsumtif, yaitu untuk pangan, papan, kesehatan, pendidikan, rekreasi, dan pajak,
·         Pemeliharaan investasi, dan
·         Investasi dan tabungan.



METODE

A.    WAKTU DAN TEMAPAT
Praktikum lapangan Manajemen Usahatani tanaman padi ini dilaksanakan pada hari Kamis, 6 November 2014 pukul 17.00 sampai selesai. Praktikum ini dilakukan di Kubu Dalam MarapalamPadang, Sumatera Barat.

B.      PETANI
Petani yang di wawancari bernama Bapak Novri berumur 44 tahun, bapak novri beralamat di Pisang sedangkan lahan yang di kelola di Kubu Dalam Marapalam. Bapak  Novri tidak hanya bertani tetapi ada kerjaan sampingan yaitu tukang

C.    KUISIONER WAWANCARA
Metoda yang digunakan untuk pengumpulan data dalam praktikum ini adalah metoda wawancara langsung ke petani responden yang bersangkutan dan mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan yang telah tertera di kusioner yang sebelumnya telah disiapkan.


 BAB IV
HASIL

A.    IDENTITAS
Nama                           : Bapak NOVRI
Umur                           : 44 Tahun
Jenis Kelamin              : Laki-laki
Pendidikan Terakhir    : SMA
Pekerjaan  Utama        : BERTANI
Pekerjaan Sampingan: Tukang
Alamat                        : Kubu Dalam Marapalam
Komoditi                     : Padi
Usahatani                    : Satu Cabang

B.     TEKNIK BUDIDAYA
1.      Pengolahan lahan
            Tanah diolah secara semi modern, karena pengolahannya dilakukan dengan bantuan mesin bajak, yakni hand-tractor,namun tetap menggunakan tenaga kerja upahan dengan biaya Rp1.000.000. Hal ini bertujuan juga untuk menghemat tenaga kerja. Selain itu dengan pembajakan ini diharapkan gumpalan–gumpalan tanah terpecah menjadi kecil–kecil. Gumpalan tanah tersebut kemudian dihancurkan dengan garu sehingga menjadi lumpur halus yang rata.Keuntungan tanah yang telah diolah tersebut yaitu air irigasi dapat merata.
            Pengolahan lahan bertujuan untuk mengubah sifat fisik tanah agar lapisan yang semula keras menjadi datar dan melumpur. Dengan begitu gulma akan mati dan membusuk menjadi humus, aerasi tanah menjadi lebih baik, lapisan bawah tanah menjadi jenuh air sehingga dapat menghemat air. (anonima:2008).
Persemaian dilakukan sendiri oleh petani responden tanpa mengguanakan bantuan tenaga kerja. Penyemaian dilakukan 1-2 hari setelah dibajak.Luas lahan penyemaian hanya satu petak sawah.Persemaian dilakukan pada lahan yang sama atau berdekatan dengan petakan sawah yang akan ditanami, hal ini dilakukan agar bibit yang sudah siap dipindah, waktu dicabut dan akan ditanam mudah diangkut dan tetap segar. Bila lokasi jauh maka bibit yang diangkut dapat stress bahkan jika terlalu lama menunggu akan mati (Anonima, 2008). Dalam hal ini petani melakukan penyemaian dengan tenaga kerja dalam keluarga selama 2 hari oleh 1 orang. Hal ini juga bertujuan untuk menghemat tenaga kerja
3.      Penanaman
            Penanaman dilakukan setelah bibit berumur 20 hari penyemaian oleh 8 orang tenaga kerja luar keluarga dengan upah Rp. 70.000Jarak tanam padi 20 x 20 cm.
            Bibit ditanam dengan cara dipindah dari bedengan persemaian ke petakan sawah, dengan cara bibit dicabut dari bedengan persemaian dengan menjaga agar bagian akarnya terbawa semua dan tidak rusak. Setelah itu bibit dikumpulkan dalam ikatan-ikatan lalu ditaruh disawah dengan sebagian akar terbenam ke air.
4.      Pengairan
            Pengairan yang dilakukan berupa saluran irigasi. Dimana sumber airnya di diperoleh dari air sungai yang dialirkan ke beberapa area persawahan disekitar Kubu  Dalam, termasuk sawah petani responden tersebut.Pengairan dibagi berdasarkan beberapa saluran-saluran ke masing-masing petakan sawah.
5.      Pemupukan
            Pemupukan dilakukan 2 tahap.yaitu 15 hari setelah dibajak dan 15 hari setelah tanam, dengan perbandingan pupuk 1:1:1.  Tahap petama Pupuk yang digunakan adalah pupuk urea sebanyak 50kgdibeli dengan harga Rp 2.000/kg, pupuk Poska 50kg dengan harga Rp. 3.000/kg dan pupuk SP36 25kg dengan harga Rp. 1.500/kg. tahap kedua pupuk urea 50kg, Poska 50 kg, dan pupuk SP36 25kg. Pemupukan ini dilakukan sendiri oleh petani responden. Pemupukan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman padi agar dapat tumbuh dengan baik.
6.      Penyiangan
Penyiangan yang dilakukan berupa pemeliharaan dari gulma atau vegetasi-vegetasi yang mengganggu pertumbuhan tanaman padi dengan cara dibersihkan langsung dengan cara mekanis yakni dicabut.
7.      Pengendalian HPT
            Hama yamg menggangu tanaman padi petani responden adalah hama wereng. Pengendalian dilakukan dengan cara memnyemprot dengan pestisida Penyemprotan mengeluarkan dana sebesar Rp. 500.000
8.      Panen
            Padi sudah bisa dipanen pada umur 3 ½ bulan dari masa tanam.Ciri-ciri tanaman yang sudah layak untuk dipanen adalah padi sudah menguning secara keseluruham, sudah berisi dan merunduk.Pemanenan masih dilakukan secara tradisional dengan menggunakan sabit biasa.Pemanenan dilakukan oleh 10 orang tenaga kerja dengan upah Rp 100.000 per hari.
9.      Pasca panen
            Padi yang sudah dipanen kemudian dipasarkan seluruhnya. Satu kali panen untuk lahan 0.5 Ha Bapak Novri menghasilkan 40 karung padi atau 2.000kg padi untuk dijual. Padi dipasarkan melalui tengkulak.Pada masa panen biasanya banyak tengkulak yang datang ke lahan langsung untuk mengambil hasil panen.


C.    FAKTOR PRODUKSI
1.      Faktor produksi Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang digunakan oleh petani responden adalah tenaga kerja luar keluarga (TKLK) yang dibayar dengan tarif tertentu untuk membajak tanah (mengolah tanah), penanaman dan pemanenan.
2.      Faktor produksi Modal
Adapun modal yang digunakan petani selama berusahatani adalah modal sendiri. Sarana produksi seperti bibi, pupuk, dan pestisida dibeli oleh petani. Hand tractor disewa petani sekaligus dengan tenaga kerjanya.
3.      Faktor produksi Manajemen
Dari aspek manajemen, disini petani responden merangkap menjadi petani penyakap dan manajer sekaligus. Beberapa kegiatan budidaya dilakukan sendiri oleh petani, yakni penyemaian, pemupukan dan penyiangan. Sedangkan aktivitas petani sebagai mananjer adalah petani responden langsung lah yang menentukan apa yang akan diproduksi, bagaimana cara memanfaatkan lahan semaksimal mungkin, menentukan apa saja dan berapa input yang dibutuhkan selama dalam berusahatani, membayar upah tenaga kerja, dan menetukan pemasaran hasil.

D.    PERHITUNGAN PENDAPATAN DAN KEUNTUNGAN
Tabel 1 Analisa Pendapatan dan Keuntungan Pada Uahatani Padi per  0.5  Hektar di Kubu Dalam Marapalam
  
NO
Uraian
Padi
1.
Produksi rata-rata (kg)
40 karung @ 50 kg= 2.000 kg/ 0,5 ha
2.
Harga (Rp)
Rp 5000/kg
3.
Penerimaan (Rp)
Rp 5000 x 2.000 kg = Rp 10.000.000
4.
Biaya yang dibayarkan
      Sarana produksi:
         Benih/bibit
         Pupuk anorganik
-          Urea
-          Poska
-          SP36
         Pestisida
         Pupuk kandang
      Biaya Tenaga Kerja Luar Keluarga (TKLK)
         Penanaman
      Pajak
      Sewa traktor
      Sewa gudang
      Biaya angkut
      Biaya angkat
      Biaya beli karung


15 kg/0,5 ha x Rp 5.000 = Rp 75.000

100 kg x Rp 2.000= Rp 200.000
100 kg x Rp 3.000 = Rp 300.000
50 kg x Rp 1.500 = Rp 75.000
Rp 500.000
Rp 0


8 orang x Rp 70.000 = Rp 560.000
Rp 56.000/tahun : 3 = Rp 14.000
Rp 1.000.000
Rp 0
Rp 0
Rp 0
Rp 5.000/karung x 40 karung = Rp 200.000
Total biaya yang dibayarkan
Rp 2.924.000
5.
Biaya yang diperhitungkan
      Biaya TKDK
         Penyemaian
         Pemupukan
         Penyiangan
         pengendalian HPT
         panen
      bunga modal  4%
      sewa lahan
      penyusutan alat
      biaya pasca panen


1 Lk x Rp 100.000= Rp 100.000
½ hari x 100.000 = Rp 50.000
1 Lk x Rp 100.000 = Rp 100.000
½ hari x 100.000 = Rp 50.000
10 Lk x Rp 100.000 = Rp 1.000.000
Rp 190.000
Rp 1.500.000
Rp 0
Rp 0
Total biaya yang diperhitungkan
Rp 4.265.000
6.
Total biaya (Rp)
Rp 7.189.000
7.
Pendapatan (Rp)
Rp 7.076.000
8.
Keuntungan (Rp)
Rp 2.811.000
  
*        Pendapatan      = total penerimaan – total biaya dibayarkan
*      = Rp. 10.000.000 – Rp. 2.924.000
= Rp 7.076.000
      Keuntungan     = total penerimaan – total biaya
= Rp. 10.000.000 – Rp.7.189.000
= Rp 2.811.000
Dari analis biaya di atas, dapat diketahui bahwasanya usahatani Bapak Novri mendapatkan untung, karena Penerimaan > total biaya  untung.
Tabel 2 Kriteria
Kriteria
Nilai
Penerimaan > biaya
Beruntung
Penerimaan = biaya
Pulang pokok
Penerimaan < biaya
rugi

Analisis R/C    =  PT / BT
= Rp 10.000.000 / Rp. 7.189.000
                                    = 1,39
Tabel 3 Kriteria R/C
Kriteria R/C
Nilai
>  1
Beruntung
= 1
impas
<1
rugi

            Dari analisa imbangan penerimaan dan biaya (cost and return ratio), usahatani Bapak Novri memberikan keuntungan, karena R/C > 1  untung


BAB V
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Teknik budidaya padi sawahyang dilakukan oleh petani responden telah sesuai dengan teori yang ada. Hal ini dipengaruhi oleh pengetahuan petani yang tamat SMA dan pengalaman berusahatani juga sudah lebih dari 15 tahun. Sesuai teori, Bertambah tinggi pendidikan petani maka akan bertambah cepat majunya usahataninya, dimana semakin tinggi pendidikan maka akan semakin mudah menerima dan mencari dan mempelajari pembaruan dan teknologi yang lebih baik sehingga usahatani akan lebih cepat berkembang. Dan juga maka tinggi pengalaman berusahatani maka akan lebih cepat majunya petani tersebut.
Analisis usahatani padimenunjukkan bahwa pendapatan dan keuntungan yang didapat jugabesar. Hal ini dapat dilihat dari analisis R/C yang bernilai 1,39 yang menyatakan bahwa usahatani padi yang dilakukan oleh petani tersebut menguntungkan. Karena batas R/C yang menguntungkan adalah .

Semoga laporan praktikum yang dibuat ini dapat bermanfaat bagi pembaca serta dapat dijadikan referensi untuk pembaca. Diharapkan laporan praktikum ini yang merupakan salah satu tugas dalam kuliah Manajemen Usahatani nantinya dapat diberikan masukan ataupun kritik dari dosen pembimbing.
Dikarenakan laporan praktikum ini mengenai petani responden di Kubu Dalam, makausahatani padi cocok untuk diterapkan dan dilanjutkan karena dari analisis yang dilakukan, usahatani padi ini dapat memberi pendapatan dan keuntungan yang besar bagi petani.



DAFTAR PUSTAKA

Atman (2007) EKNOLOGI BUDIDAYA PADI SAWAH VARIETAS UNGGUL BARU BATANG PIAMAN. Jurnal Ilmiah Tambua, VI, 58.

Edward Saleh, A. F. N., Lismaria Butarbuta (2012) BUDIDAYA PAD1 Dl DALAM POLIBEG DENGAN IRlGASl BERTEKANAN UNTLIK ANTISIPASI PESATNYA PERUBAHAN FUNGSI LAHAN SAWAH Jurnal Teknotan, 6, 692.

Mariati., Y. L. A. d. R. (2010) PERBANDINGAN PENDAPATAN USAHATANI PADI (Oryza sativa L.) SAWAH SISTEM TANAM PINDAH DAN TANAM BENIH LANGSUNG DI DESA SIDOMULYO KECAMATAN ANGGANA KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA. EPP, 7.

Wayan Wangiyana, Z. L., Sanisah (2009) PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI VAR. CIHERANG DENGAN TEKNIK BUDIDAYA “SRI (SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION)” PADA BERBAGAI UMUR DAN JUMLAH BIBIT PER LUBANG TANAM. Crop Agro, 2, 70. 

Facebook Comment