Review Book Intelegensi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Intelijensi merupakan suatu hal yang telah dimiliki seseorang sejak ia lahir. Dimana intelijensi ini merupakan faktor bawaan. Dan Intelijensi adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seseorang berbuat seseuatu dengan cara yang tertentu. Intelijensi ialah kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru, denngan menggunakan alat-alat berpikir yang sesuai dengan tujuannya. Oleh sebab itu penulis mengangkat judul ini karena intelijensi sangat penting bagi setiap orang. Dan setiap manusia berhak mengetahui sejauh mana ia paham tentang intelijensi, serta sejauh mana ia memahami intelijensi yang ia miliki. Karena, intelijensi setiap orang itu berbeda-beda. Maka setiap orang harus mengetahuinya dan memahaminya.

BAB II
HASIL REVIEW

INTELIJENSI

2.1 Apakah Intelijensi Itu?
Intelijensi adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seseorang berbuat seseuatu dengan cara yang tertentu. William Stern mengemukakan batasan sebagai berikut: intelijensi ialah kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru, denngan menggunakan alat-alat berpikir yang sesuai dengan tujuannya.

William stern berpendapat bahwa intelijensi sebagian besar tegantung dengan dasar dan keturunan. Prof. Waterink seorang Mahaguru di Amsterdam, menyatakan bahwa menurut penyelidikannya belum dapat dibuktikan bahwa intelijensi dapat diperbaiki atau dilatih. Lalu pendapat-pendapat baru membuktikan bahwa intelijensi pada anak-anak yang lemah pikiran dapatjuga dididik dengan cara yang lebih tepat (lihat hasil penyelidikan Frohn di muka). Juga kenyataan membuktikan bahwa daya pikir anak-anak yang telah mendapat didikan dari sekolah, menunjukkan sifat-sifat yang lebih baik daripada anak yang tidak bersekolah.

Dari batasan diatas, dapat kita ketahui bahwa:
  1. Intelijensi itu ialah faktor total.
  2. Kita hanya dapat mengetahui intelijensi, dari tingkah laku atau perbuatannya yang tampak. Intelijensi hanya dapat kita ketahui dengan cara tidak langsung, melalui “kelakuan intelijensinya”.
  3. Bagi suatu perbuatan intelinjensi bukan hanya kemampuan yang dibawa sejak lahir saja yang penting. Faktor-faktor lingkungan dan pendidikan pun memegang peranan.
  4. Bahwa manusia itu dalam kehidupannya senantiasa dapat menentukan tujuan-tujuan yang baru, dapat memikirkan dan menggunakan cara-cara untuk mewujudkan dan mencapai tujuan itu.
2.2 Percobaan-percobaan Kohler tentang Intelijensi.
Dalam penyelidikannya tentang intelijensi, Kohler mengadakan eksperimen-eksperimen dengan hewan. Seekor simpanse (semacam beruk yang besar) dikurung didalam kandang. Di luar kandang itu ditaruh sebuah pisang yang tidak terjangkau oleh binatang itu. Di dalam kandang itu terdapat sebuah tongkat. Terlihat oleh Kohler bahwa simpanse itu berbuat demikian: ia menjangkaupisang itu tetapi tangannya tidak sampai, lama ia menengok-negok sekelilingnya, seolah-olah seperti gelisah, tampak olehnya sebatang tongkat. Diraihnya pisang itu dengan tongkat, dimakannya pisang itu, tongkat itu dilemparkannya.

Setelah percobaan itu dipersukar (dengan menggunakan dua buah tongkat yang bisa disambungnya), ternyata hanya seekor simpanse saja yaitu: si “Sultan” yang terpintar. Ia dapat mencapai pisang itu dengan menghubungkan kedua tongkat itu. Percobaan itu dilanjutkan. Sekarang pisang itu digantungkan diatas kandang (di langit-langit). Di dalam kandang itu diletakkan sebuah peti kosong. Bagaimana dilakukan simpanse itu? Ia melompat-lompat berusaha mencapai pisang itu, tetapi tidak terjangkau karena tingginya. Setelah berkali-kali ia berbuat demikian dan ternyata sia-sia saja, ia duduk, seolah-olah termenung. Ia melihat kekiri dan kekanan. Sekonyong-konyong melompatlah ia ke arah peti disudut kandang itu. Ditariknya peti itu kebawah pisang yang tergantung di langit-langit dan dengan melompat ke atas peti itu dapatlah simpanse itu mencapai pisang itu.

Dari percobaan-percobaan yang dilakukan Kohler dengan simpanse itu kita dapat menarik beberapa kesimpulan, sebagai berikut:
  1. Pada kera (simpanse), terutama si Sultan telah terdapat permulaan “alat” (tongkat dan peti).
  2. Manusia dapat “menemukan” alat. Bagi manusia tiap-tiap benda diubah-ubah fungsinya sesuai dengan kebutuhan atau maksudnya.
  3. Dapatkah beberapa jenis hewan dapat menangkap sesuatu. Tetapi makin rendah harkat hewan itu, makin sedikit yang dapat ditanggapinya, makin kabur tanggapan-tanggapan itu makin sebentar berlangsungnya.
  4. Antara intelijensi manusia dan binatang terdapat perbedaan yang besar.

2.3 Apakah ciri-ciri Perbuatan Intelijen?
  1. Masalah yang dihadapi Banyak sedikitnya merupakan masalah yang baru bagi yang bersangkutan.
  2. Perbuatan intellijen sifatnya serasi tujuan dan ekonomis.
  3. Masalah yang dihadapi, harus mengandung suatu tingkat kesulitan bagi yang bersangkutan.
  4. Keterangan pemecahannya harus dapat diterima oleh masyarakat.
  5. Dalam erbuat intelijen sering kali menggunakan daya mengabstraksi.
  6. Perbuatan intelijen bercirikan kecepatan.
  7. Membutuhkan pemusatan perhatian dan menghindarkan perasaan yang menggangu jalannya pemecahan masalah yang sedang dihadapi.

2.4 Faktor-faktor Apakah yang Mempengaruhi Intelijensi Seseorang?

Faktor-faktor yang membuat adanya perbedaan intelejensi seseorang adalah seperti berikut :
  1. Pembawaan : pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir.
  2. Kematangan :tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan.
  3. Pembentukan :pembentukan adalah segala keadaan diluar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan untelejensi.
  4. Minat dan pembawaan yang khas : minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu.
  5. Kebebasan : kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu dalam memecahkan masalah.
2.5 Tes Intelijensi
Orang yang berjasa menemukan tes intelejensi pertama kali adalah seorang dokter bangsa Perancis :Alfred Binet dan pembantunya Simon. Sehingga dengan tesnya dikenal dengan nama Tes Binet- Simon. Dengan tes semacam ini usia kecerdasan seseorang diukur dan ditentukan. Dari hasil tes tersebut ternyata tidak tentu bahwa usia kecerdasan itu sam dengan usia sebenarnya (usia kalender). Sehingga dengan demikian kita dapat melihat adanya perbedaan-perbedaan I.Q (Intelegentie Quotient) pada tiap-tiap orang/anak.

2.6 Hasil-Hasil Penyelidikan Intelejensi
Dari hasil penyelidikan intelejensi yang dilakukan oleh para ahli psikologi, didapat beberapa kesimpulan yang sangat penting bagi pendidikan dan pengajaran. Diantaranya :
  1. Mungkin ada benarnya, pendapat yang mengatakan intelejensi itu bergantung pada dasar dan keturunan (hereditas).
  2. Tercapai atau tidaknya batas kecerdasan atau batas kemampuan berfikir seseorang dipengaruhi pula oleh faktor-faktor dari luar.
  3. Adanya kekuatan tumbuh dari dalam yang harus kita akui. Tiap-tiap anak mengalami perkembangan dalam pertumbuhan intelejensinya.
  4. Mendapatkan sendiri suatu paham yang baru adalah jauh lebih sukar dari pada pemahaman atau pendapat-pendapat orang lain yang sudah ada
2.7 Bagaimana Hubungan Intelejensi dengan Kehidupan Seseorang ?
Kecerdasan atau intelejensi seseorang memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupannya. Akan tetapi kehidupannya adalah sangat kompleks. Intelejensi bukan satu-satunya faktor yang menentukan sukses tidaknya kehidupan seseorang. Faktor lainnya antara lain kesehatan dan ada turut menentukan intelejensi. Banyak diantara orang-orang yang sebenarnya memiliki intelejensi yang cukup tinggi, tetapi tidak mendapatkan kemajuan dalam kehidupannya. Ini disebabkan misalnya karena kekurang mampuan bergaul, atau kurang memiliki cita-cita yang tinggi. Sebaliknya, ada pula seseorang yang sebenarnya memiliki intelejensi yang sedang saja, tetapi dapat lebih maju dan mendapat kehidupan yang lebih layak berkat ketekunan dan keuletannya.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

A) Kelebihan
  • Isi yang dipaparkan sesuai dan singkron dengan judulnya, dimana judul buku ini yaitu Psikolog Pendidikan, dan sub BAB di yang dibahas disini adalah tentang Intelijensi.
  • Materi yang disajikan sangat bagus, sangat memberikan dampak yang positif bagi pembaca, serta cocok dibaca oleh semua kalangan.
  • Penyajian materi pada BAB ini sudah tertuang secara spesifik, sehingga lebih mudah dimengerti dan membuat siapa saja yang membaca buku ini pasti tidak kesulitan dalam memahami apa yang disampaikan.
  • Pemberian perbedaan jenis tulisan serta ukuran font pada setiap perbatasan antara judul dengan isi membuat buku ini semakin mudah untuk di pahami.
B) KEKURANGAN
  • Dari segi pemakaian kata, masih banyak kata yang tidak perlu lagi digunakan karna pemaparan sebelumnya sudah jelas tetapi tetap digunakan sehingga kalimatnya terasa mubazir.
  • Tampilan buku mulai dari sampul hingga lembaran isi kurang menarik dan kurang berwarna sehingga ada rasa bosan karena terlalu polos seperti buku jaman dahulu.
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Kecerdasan atau intelejensi seseorang memberi kemungkinan bergerak dan berkembang dalam bidang tertentu dalam kehidupannya. Sampai dimana kemungkinan tadi dapat direalisasikan, tergantung pula kepada kehendak dan pribadi serta kesempatan yang ada.jelaslah sekarang bahwa tidak ada korelasi yang tetap antara tingkat intelejnsi dengan tingkat kehidupan seseorang. Dari hasil-hasil penyelidikan yang dilakukan ahli antropologi dan psikologi, juga masih disangsikan adanya korelasi yang tetap antara bentuk atau berat otak dengan intelejensi, antara bentuk tibuh dengan dasar kejahatan dan antara intelejensi dengan kemiskinan.

3.2 SARAN
Setelah membaca hasil review pada sub BAB buku ini, diharapkan pembaca dapat mengambil hikmah dari kekurangan maupun kelebihan yang telah dipaparkan. Semoga buku ini menjadi bahan bacaan untuk menambah wawasan yang baik dan berguna bagi pembaca.

DAFTAR PUSTAKA

Purwanto, Ngaum, 2008, Psikologi Pendidikan: Intelijensi, Bandung, PT. Remaja Rosdayakarya.
http://kumpulanskripdanmakalah.blogspot.co.id/

Facebook Comment