Aliran-Aliran Linguistik Dalam Bahasa

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keberadaan bahasa merupakan keniscayaan bagi manusia, karena bahasa merupakan salah satu pembeda antara hewan dan manusia.Hal ini dikarenakan, hanya manusialah yang memiliki bahasa. Jadi, sudah seharusnya disyukuri apa yang telah dikaruniakan oleh Sang Pencipta kepada kita, yaitu bahasa.Dalam sejarah perkembangannya, linguistik dipenuhi berbagai aliran dan paham yang dari luar tampaknya sangat ruwet, saling berlawanan dan membingungkan terutama bagi para pemula (Chaer, 2003:332).Sejarah linguistik yang sangat panjang telah melahirkan berbagai aliran-aliran linguistik.Masing-masing aliran tersebut memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang bahasa, tapi pada prinsipnya aliran tersebut merupakan penyempurnaan dari aliran-aliran sebelumnya. Oleh karena itu, dengan mengenal dan memahami aliran-aliran tersebut akan menjadi pedoman bagi setiap orang untuk dapat memilih atau mengacu kepada aliran linguistik apa yang menurutnya baik. Dalam makalah ini akan dipaparkan mengenai teori,keunggulan, dan kelemahan setiap aliran-aliran linguistik.

1.2 Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Apa saja aliran linguistik itu?
2. Apa keunggulan dan kelemahan setiap aliran linguistik?

1.3 Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan aliran-aliran linguistik.
2. Mendeskripsikan keunggulan dan kelemahan setiap aliran linguistik

BAB II
PEMBAHASAN

2.2 Landasan Teori

Sejarah linguistik yang sangat panjang telah melahirkan berbagai aliran-aliran linguistik yang pada akhirnya mempengaruhi pengajaran bahasa.Masing-masing aliran tersebut memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang bahasa sehingga melahirkan berbagai tata bahasa.Aliran tradisional telah melahirkan sekumpulan penjelasan dan aturan tata bahasa yang dipakai kurang lebih selama dua ratus tahun lalu.

Menurut para ahli sejarah, tata bahasa yang dilahirkan oleh aliran ini merupakan warisan dari studi preskriptif (abad ke 18).Studi preskriptif adalah studi yang pada prinsipnya ingin merumuskan aturan-aturan berbahasa yang benar. Sejak tahun 1930-an sampai akhir tahun 1950-an aliran linguistik yang paling berpengaruh adalah aliran struktural. Tokoh linguis dari Amerika yang dianggap berperan penting pada era ini adalah Bloomfield. Linguistik Bloomfield berbeda dari yang lain. Dia melandasi teorinya berdasarkan psikologi behaviorisme.Menurut Behaviorisme ujaran dapat dijelaskan dengan kondisi-kondisi eksternal yang ada di sekitar kejadiannya.Kelompok Bloomfield menyebut teori ini mechanism, sebagai kebalikan dari mentalism.Bloomfield berusaha rnenjadikan linguistik sebagai suatu ilmu yang besifat empiris.Karena bunyi-bunyi ujaran merupakan fenomena yang dapat diamati langsung maka ujaran mendapatkan perhatian yang istimewa. Akibatnya, kaum strukturalis memberikan fokus perhatiannya pada fonologi, morfologi, sedikit sekali pada sintaksis, dan sama sekali tidak pada semantik. Tata bahasa tagmemik dipelopori oleh Kenneth L. Pike, Bukunya yang terkenal adalah Linguage in Relation to a United Theory of The Structure of Human Behaviour (1954).

Menurut aliran Ini, satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem (bahasa Yunani yang berarti susunan). Tagmem adalah korelasi antara fungsi gramatikal atau slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertukarkan untuk mengisi slot tersebut. Linguistik transformasi melahirkan tata bahasa Transformational Generative Grammar yang bahasa mengandung segi ekspresi (Signifiant) dan segi isi(signifie). Masing-masing segi mengandung forma dan substansi : forma ekspresi, substansi ekspresi, forma isi, dan substansi isi.

2.2 Perkembangan Aliran Linguistik
2.2.1 Aliran Tradisional

Aliran tradisional adalah aliran yang mengatakan bahwa kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan atau kejadian

Perkembangan ilmu bahasa di dunia barat dimulai pada abad IV Sebelum Masehi yaitu ketika Plato membagi jenis kata dalam bahasa Yunani Kuno menjadi dua golongan yaitu onoma dan rhema.Onoma merupakan jenis kata yang menjadi pangkal pernyataan atau pembicaraan.Sedangkan rhema merupakan jenis kata yang digunakan mengungkapkan pernyataan atau pembicaraan.

Secara sederhana onoma dapat disejajarkan dengan kata benda dan rhema dapat disejajarkan dengan kata sifat atau kata kerja.Pernyataan yang dibentuk onoma dan rhema dikenal dengan istilah proposisi. Penggolongan kata tersebut kemudian disusul dengan kemunculan tata bahasa Latin karya Dyonisisus Thrax dalam bukunya ”Techne Gramaticale” (130 M).

Dengan demikian pelopor aliran tradisionalisme adalah Plato dan Aristoteles. Tokoh-tokoh yang menganut aliran ini antara lain; Dyonisisus Thrax, Zandvoort, C.A. Mees, van Ophuysen, RO Winstedt, Raja Ali Haji, St. Moh. Zain, St. Takdir Alisyahbana, Madong Lubis, Poedjawijatna, Tardjan hadidjaja. Aliran ini merupakan aliran tertua namun karena ketaatannya pada kaidah menyebabkan aliran ini tetap eksis di zaman apapun.

Ciri-ciri aliran ini antara lain:
  1. Bertolak dari landasan pola pikir filsafat
  2. Pemerian bahasa secara historis
  3. Tidak membedakan bahasa dan tulisan.Teori ini mencampuradukkan pengertian bahasa dan tulisan sehingga secara otomatis mencampuradukkan penegrtian bunyi dan huruf.
  4. Senang bermain dengan definisi. Hal ini karena pengaruh berpikir secara deduktif yaitu semua istilah didefinisikan baru diberi contoh alakadarnya.
  5. Pemakaian bahasa berkiblat pada pola/kaidah. Bahasa yang mereka pakai adalah bahasa tata bahasa yang cenderung menghakimi benar-salah pemakaian bahasa, tata bahasa ini disebut juga tata bahasa normatif.
  6. Level-level gramatikal belum rapi, tataran yang dipakai hanya pada level huruf, kata, dan kalimat. Tataran morfem, frase, kalusa, dan wacana belum digarap.
  7. Dominasi pada permasalahan jenis kata
Pada awalnya kata dibagi menjadi onoma dan rhema (Plato) lalu dikembangkan oleh Aristoteles menjadi onoma, rhema, dan syndesmos.Kemudian pada masa tradisionalisme ini kata sudah dibagi menjadi delapan yaitu nomina, pronomina, artikel, verba, adverbia, preposisi, partisipium, dan konjungsi.Pada abad peretngahan Modistae membagi kata menjadi delapan yaitu nomina, pronomina, partisipium, verba, adverbia, preposisi, konjungsio, dan interjeksi.Pada zaman renaisance kata kembali dibagi menjadi tujuh nomina, pronomina, partisipium, adverbia, preposisi, konjungsi, dan interjeksi.Perkembangan jenis kata di Belanda dibagi menjadi sepuluh yaitu nomina, verba, pronomina, partisipium, adverbia, adjektiva, numeralia, preposisi, konjungsi, interjeksi, dsan artikel.

Keunggulan Aliran Tradisional, antara lain:
  1. Lebih tahan lama karena bertolak dari pola pikir filsafat
  2. Keteraturan penggunaaan bahasa sangat dibanggakan karena berkiblat pada bahasa tulis baku
  3. Mampu menghasilkan generasi yang mempunyai kepandaian dalam menghafal istilah karena aliran ini sengan bermain dengan definisi
  4. Menjadikan para penganutnya memiliki pengetahuan tata bahasa kareana pemakaian bahasa berkiblat pada pola atau kaidah
  5. Aliran ini memberikan kontribusi besar terhadap pergerakan prinsip yang benar adalah benar walaupun tidak umum dan yang salah adalah salah meskipun banyak penganutnya.
Kelemahan Aliran Tradisional, antara lain:
  1. Belum membedakan bahasa dan tulisan sehingga pengertian bahasa dan tulisan masih kacau
  2. Teori ini tidak menyajikan kenyataan bahasa yang kemudian dianalisis dan disimpulkan.
  3. Pemakaian bahasa berkiblat pada pola/kaidah sehingga meskipun pandai dalam teori bahasa tetapi tidak mahir dalam berbahasa di masyarakat.
  4. Level gramatikalnya belum rapi karena hanya ada tiga level yaitu huruf, kata, dan kalimat.
  5. Pemerian bahasa menggunakan pola bahasa Latin yang sangat berebda dengan bahasa Indonesia
  6. Permasalahan tata bahasa masih banyak didominasi oleh permasalahan jenis kata (part of speech), sehingga ruang lingkup permasalahan masih sangat sempit.
  7. Pemerian bahasa berdasarkan bahasa tulis baku padahal bahasa tulis baku hanya sebagian dari ragam bahasa yang ada.
  8. Objek kajian hanya sampai level kalimat sehingga tidak komunikatif

2.2.2 Aliran Struktural
Teori ini berlandaskan pola pikir behaviouristik.Aliran ini lahir pada awal abad XX yaitu pada tahun 1916.aliran ini lahir bersamaan dengan lahirnya buku ”Course de linguistique Generale” karya Saussure yang juga merupakan pelopor aliran ini. Ia dikenal sebaga Bapak Strukturalisme dan sekaligus Bapak Linguistik Modern. Tokoh-tokoh yang merupakan penganut teori ini adalah : Bally, Sachahaye, E. Nida, L. Bloomfield, Hockett, Gleason, Bloch, G.L. Trager, Lado, Hausen, Harris, Fries, Sapir, Trubetzkoy, Mackey, jacobson, Joos, Wells, Nelson.

Ciri-ciri Aliran Struktural, antara lain:
  1. Berlandaskan pada faham behaviourisme. Proses berbahasa merupakan proses rangsang-tanggap (stimulus-response).
  2. Bahasa berupa ujaran.Ciri ini menunjukka bahwa hanya ujaran saja yang termasuk dalam bahasa .dalam pengajaran bahasa teori struktural melahirkan metode langsung dengan pendekatan oral. Tulisan statusnya sejajar dengan gersture. 
  3. Bahasa merupakan sistem tanda (signifie dan signifiant) yang arbitrer dan konvensional.Berkaitan dengan ciri tanda, bahasa pada dasarnya merupakan paduan dua unsur yaitu signifie dan signifiant. Signifie adalah unsur bahasa yang berada di balik tanda yang berupa konsep di balik sang penutur atau disebut juga makna. Sedangkan signifiant adalah wujud fisik atau hanya yang berupa bunyi ujar. 
  4. Bahasa merupakan kebiasaan (habit). Berdasarkan sistem habit, pengajaran bahasa diterapkan metode drill and practice yakni suatu bentuk latihan yang terus menerus dan berulang-ulang sehingga membentuk kebiasaan. 
  5. Kegramatikalan berdasarkan keumuman. 
  6. Level-level gramatikal ditegakkan secara rapi. Level gramatikal mulai ditegakkan dari level terendah yaitu morfem sampai level tertinggi berupa kalimat. Urutan tataran gramatikalnya adalah morfem, kata, frase, klausa, dan kalimat.Tataran di atas kalimat belum terjangkau oleh aliran ini. 
  7. Analisis dimulai dari bidang morfologi. 
  8. Bahasa merupakan deret sintakmatik dan paradigmatic 
  9. Analisis bahasa secara deskriptif. 
  10. Analisis struktur bahasa berdasarkan unsur langsung.
Unsur langsung adalah unsur yang secara langsung membentuk struktur tersebut. Ada empat model analisis unsur langsung yaitu model Nida, model Hockett, model Nelson, dan model Wells.

Keunggulan Aliran Struktural, antara lain:
a. Aliran ini sukses membedakan konsep grafem dan fonem.
b. Metode drill and practice membentuk keterampilan berbahasa berdasarkan kebiasaa
c. Kriteria kegramatikalan berdasarkan keumuman sehingga mudah diterima masyrakat awam.
d. Level kegramatikalan mulai rapi mulai dari morfem, kata, frase, klausa, dan kalimat.
e. Berpijak pada fakta, tidak mereka-reka data.

Kelemahan Aliran Struktural, antara lain:
  • Bidang morfologi dan sintaksis dipisahkan secara tegas.
  • Metode drill and practice sangat memerlukan ketekunan, kesabaran, dang sangat menjemukan.
  • Proses berbahasa merupakan proses rangsang-tanggap berlangsung secara fisis dan mekanis padahal manusia bukan mesin.
  • Kegramatikalan berdasarkan kriteria keumuman , suatu kaidah yang salah pun bisa benar jika dianggap umum.
  • Faktor historis sama sekali tidak diperhitungkan dalam analisis bahasa.
  • Objek kajian terbatas sampai level kalimat, tidak menyentuh aspek komunikatif.
2.2.3 Aliran Transformasi
Aliran ini muncul menentang aliran strukturalis yang menyatakan bahwa bahasa merupakan kebiasaan. Pelopor aliran ini adalah N. Chomsky dengan karyanya “Syntactic Structure”(1957) dan diikuti oleh tokoh-tokoh seperti Postal, Fodor, Hale, Palmatier, Lyons, Katz,Allen,vanBuren,R.D.King,R.A.Jacobs,J.Green,dll. Aliran ini pada mulanya hanya berbicara transformasi pada level kalimat tetapi kemudian diterapkan dalam tataran lain seperti morfologi.
Ciri-ciri Aliran Transformasi, antara lain:

1. Berdasarkan faham mentalistik.
Aliran ini meganngap bahasa bukan hanya proses rangsang-tanggap akan tetapi merupakan proses kejiwaan. Aliran ini sagat erat dengan psikolinguistik.

2. Bahasa merupakan innate
Bahasa merupakan faktor innate(keturunan/warisan)

3. Bahasa terdiri dari lapis dalam dan lapis permukaan.
Teori ini memisah bahasa menjadi dua lapis yaitu deep structure dan surface structure. Lapis batin merupakan tempat terjadinya proses berbahasa yang sebenarnya secara mentalistik sedangkan lapis permukaan adalah wujud lahiriah yang ditransformasi dari lapis batin.

4. Bahasa terdiri dari unsur competent dan performance
Linguistic competent atau kemampuan linguistik merupakan penegtahuan seseorang tentang bahasanya termasuk kaidah-kaidah di dalamnya.Linguistic performance atau performansi linguistik adalah keterampilan seseorang menggunakan bahasa.
5. Analisis bahasa bertolak dari kalimat.
6. Penerapan kaidah bahasa bersifat kreatif
Ciri ini menentang anggapan kaum struktural yang fanatik terhadap standar keumuman.Bagi kaum tranformasi masalah umum tidak umum bukan suatu persoalan yang terpenting adalah kaidah.

7. Membedakan kalimat inti dan kalimat transformasi.
Kalimat inti merupakan kalimat yang belum dikenai transformasi sedangkan kalimat transformasi merupakan kalimat yang sudah dikenai kaidah transformasi yang ciri-cirinya yaitu lengkap, simpel, statemen, dan aktif. Lam pertumbuhan selanjutnya ciri itu ditambah runtut dan positif.

8. Analisis diwujudkan dalam diagram pohon dan rumus.
Analisis dalam teori ini dimulai dari struktur kalimat lalu turun ke frase menjadi frase benda (NP) dan frase kerja (VP) kemudian dari frase turun ke kata.

9. Gramatikal bersifat generatif.
Bertolak dari teori yang dinamakan tata bahasa generatif tansformasi (TGT).

Keunggulan Aliran Transformasi, antara lain:
  • Proses berbahasa merupakan proses kejiwaan buakan fisik.
  • Secara tegas memisah pengetahuan kebahasaan dengan keterampilan berbahasa (linguistic competent dan linguistic performance)
  • Dapat membentuk konstruksi-konstruksi lain secara kreatif berdasarkan kaidah yang ada.
  • Dengan pembedaan kalimat inti dan transformasi telah dapat dipilah antara substansi dan perwujudan.
  • dapat menghasilkan kalimat yang tak terhingga banyaknya karena gramatiknya bersifat generatif.
Kelemahan Aliran Transformasi, antara lain:
  • Tidak mengakui eksistensi klausa sehingga tidak dapat memilah konsep klausa dan kalimat.
  • Bahasa merupakan innate walaupun manusia memiliki innate untuk berbahasa tetapi tanpa dibiasakan atau dilatih mustahil akan bisa.
  • Setiap kebahasaan selalu dikembalikan kepada deep structur.
2.2.4 Aliran Praha
Dengan tokohnya Vilem Mathesius, Nikolai S. Trubetskoá»·, Roman Jakobson, dan
Morris Halle, membedakan fonologi (mempelajari bunyi dalam suatu sistem) dan fonetik (mempelajari bunyi itu sendiri).

Struktur bunyi dijelaskan dengan kontras atau oposisi.contoh : baku X paku, tepas X tebas.Aliran ini mengembangkan istilah morfonologi (meneliti perubahan fonologis yang terjadi akibat hubugan morfem dengan morfem.Contoh: kata “jawab” dgn “jawap” bila ditambahi sufiks –an, maka akan terjadi perbedaan. Kalimat dapat dilihat dari struktur formal dan struktur informasinya, Formal (subjek dan predikat), informasi (tema dan rema). Tema adalah apa yang dibicarakan, sdngkn rema adalah apa yang dikatakan mengenai tema. Contoh kalimat “this argument I can’t follow”→ “I” sbg subjek, “this argument” sebagai objek, namun menurut aliran praha “this argument” juga merupakan tema, sedangkan “I can’t follow” juga merupakan rema.

2.2.5 Aliran Glosematik
Aliran ini lahir di Denmark, dengan tokohnya Louis Hjemslev. Hjemslev menganggap bahasa mengandung segi ekspresi (Signifiant) dan segi isi(signifie). Masing-masing segi mengandung forma dan substansi : forma ekspresi, substansi ekspresi, forma isi, dan substansi isi.

2.2.6 Aliran Firthian
Dengan tokohnya Joh R. Firth (London, 1890-1960). Dikenal dengan teori fonolog prosodi, yaitu cara menentukan arti pada tataran fonetis. Faktor yang menyebabkan berkembangnya aliran ini :
  1. Mereka memerikan bahasa indian dengan cara sinkronik.
  2. Bloomfield memerikan bahasa aliran strukturalisme berdasarkan fakta objektif sesuai dengan kenyataanyang diamati.
  3. Hubungan baik antar linguis. Sehingga menerbitkan majalah Language, sebagai wadah melaporkan hasil karya mereka.
Aliran ini sering juga disebut aliran taksonomi, karena aliran ini menganalisis dan mengklasifikasikan unsur bahasa berdasarkan hubungan hierarkinya.

2.2.7 Aliran Tagmemik
Dipelopori oleh KenAliran Strukturalisme di Amerika.Dalam Linguistik di Amerika mempunyai tiga tokoh yang sangat berperan dalam pengkajian bahasa di benua tersebut.

Ketiga tokoh tersebut ialah Franz Boaz, Edward Sapir dan Leonard Bloomfield. Franz Boaz merupakan,seorang linguis yang otodidaktik yang telah menyumbangkan peran pada penelitian bahasa-bahasa Indian Amerika. Boaz meneliti bahasa baik di rumpun Indo-Eropa maupun diluar Indo-Eropa.

Di Indo-Eropa membahas mengenai Infleksi penanda sedangkan diluar Indo-Eropa, Boaz mencermati tentang struktur bahasa Indian. Pandangan Boaz setiap bahasa akan memiliki kategori-kategori logis yang merupakan keharusan digunakan pada bahasa tersebut. Ia dalam membahas strutural bahasa ini lebih menitik beratkan pada bidang fonetik. Bahasa menurut Boaz merupakan tuturan artikulasi yang berupa kategori gramatikal, pronomina kata ganti (sendiri atau non sendiri) dan verb (orang, number, tense, mood, dan voice).

Seorang mahasiswa Boas yang bernama Edward Sapir tak kalah dalam menyampaikan argumennya.kajiannya yang terkenal ialah mengenai suatu pemerian bahasa. Selain itu, ia juga mempunyai suatu konsep bahasa yaitu makna bahasa dikaitkan dengan visual, tingkat pemahaman dan rasa hubungan serta kesesuaian bahasa dengan makna. Dari ide yang tertuang dibenaknya, murid dari Boaz ini lalu membagi konsepnya menjadi sub kajian yaitu unsur-unsur tuturan, bunyi bahasa, bentuk bahasa, bahasa-ras-dan kebudayaan.Unsur-unsur turunan berupa hubungan antara bentuk linguistik, proses gramatikal dan konsep gramatikal.Sedangkan bunyi bahasa mengenai pola atau perbedaaan bunyi cocok dalam perbedaan bahasa.Lain halnya dengan bentuk bahasa yang menurut Sapir dapat dibagi menjadi konsep dasar dan metode formal. Sedangkan pendapatnya yang terakhir mengenai corak suatu bahasa ini dia kaji karena sebelum menekuni bidang linguistik ia juga menekuni bidang antropologi.

Linguis ketiga yang mengkaji bahasan ini ialah Leonard Bloomfield.Bloomfield merupakan linguis Amerika yang peling besar peranannya dalam menyebarkan prinsip dan metode strukturalisme Amerika.Salah satu rumusannya digambarkan dengan rumus rangsangan dan tanggapan dengan formula R – t.....r – T maksudnya suatu rangsangan praktis (R) menyebabkan seorang berbicara alih-alih bereaksi secara praktis, ini merupakan penganti bahasa-bahasa (t).Bagi pendengar, hal itu merupakan rangsangan pengganti bahasa (r) yang menyebabkan dia memberi tanggapan praktis (T).Rumus di atas sangat sinkron bila diterapkan dengan teori makna Bloomfield yang membedakan peristiwa bahasa dengan peristiwa praktis dalam sebuah tuturan.

Selain teori tersebut Bloomfield juga mencetuskan teori mengenai bentuk bahasa, dari hasil penelitiannya digariskan bahwa bentuk bahasa dibagi menjadi dua bentuk terikat dan bentuk bebas, serta 4 cara penyusunan form yaitu order, modulation, phonetic modification dan selection. Bentuk dapat dibagi dalam beberapa kelas yaitu Sentence type (kalimat Tanya, kalimat berita dan sebagainya), Construction (bisa juga disebut Syntax) dan Substitution (bentuk grammar yang berhubungan dengan penggantian konvensional) neth L. Pike. Yang dimaksud tagmen adalah korelasi antara fungsi gramatikal (slot) dengan kelompok bentuk kata yang dapat dipertukarkan utnuk mengisi slot tersebut.

2.2.8 Aliran Sistemik
Nama aliran lingustik sestemik tidak dapat dilepaskan dari nama M.A.K Halliday, yaitu salah seorang murid Firt yang mengembangkan teori Firt mengenai bahasa, khususnya yang berkenaan dengan segi kemasyarakatan bahasa.
Teori yang dikembangkan oleh Halliday berdasarkan karangannya Categories of the theory of grammar. Pokok-pokok pandangan aliran lingustik ada 5 yaitu:
  1. Memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa, terutama mengenai fungsi kemasyarakatan bahasa dan bagaimana fungsi kemasyarakatan itu terlaksana dalam bahasa.
  2. Memandang bahasa sebagai pelaksana. Aliran ini mengakui pentingnya pembedaaan langue( jajajran pikiran yang dapat di pilih oleh seorang penutur bahasa) dan parole ( perilaku kebahasaan dalam sebenarnya)
  3. Mengutamakan pemerian ciri-ciri bahasa tertentu berserta variasi-variasinya, tidak atau kurang tertarik pada semestaan bahasa.
  4. Mengenal adanya gradasi dan kontinum yaitu mengenai batas butir-butir bahasa yang sering kali tidak jelas.
  5. Menggambarkan tiga tataran utama bahasa
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas kita dapat mengetahui berbagai macam perkembangan aliran linguistik.Dari tiap-tiap aliran memiliki teori masing-masing dan keunggulan serta kelemahannya.Bahasan tersebut dapat kita jadikan sebagai tambahan wawasan serta menambah pengetahuan kita mengenai linguistik terutama tentang aliran-aliran linguistik.

B. SARAN
Penulis berharap agar para pembaca makalah ini lebih mengerti mengenai pokok bahasan makalah ini yaitu aliran-aliran linguistik dalam bahasa.



DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
http://kumpulanskripdanmakalah.blogspot.co.id/
http ://www. ariprasetyo_ aliran-aliran linguistk..com
http ://www. kamalyusuf_ perkembangan linguistik di Indonesia hingga akhir 90-an.

Facebook Comment