Makalah | Cara Anak Usia Dini Mempelajari Sains

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan bagi anak-anak usia dini telah mengalami perkembangan yang menggembirakan baik secara konsep maupun prakteknya di dalam kelas. Hal ini tentu cukup menggembirakan mengingat hal tersebut menjadi sarana untuk mempersiapkan generasi mendatang yang berkualitas dan bahkan lebih unggul dari generasi yang sekarang. PAUD bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi anak agar kelak berfungsi sebagai individu yang baru mengenal dunia, ia belum tahu tata krarma, sopan santun, aturan, norma, etika, dan berbagai hal tentang dunia.

Pengalaman-pengalaman yang di jalani anak mungkin akan membentuk pengalaman yang akan di bawanya seumur hidupnya, sehingga pada bidang pendidikan anak usia dini sangat di perlukannya langkah yang tepat untuk membekali anak sejak dini.

Pengembangan pembelajaran sains pada anak, termasuk bidang pengembangan lainnya memiliki peranan yang sangat penting dalam membantu perkembangan kognitif pada anak usia dini. Kesadaran pentingnya pembekalan sains pada anak akan semakin tinggi apabila menyadari bahwa kita hidup pada dunia yang dinamis, berkembang dan berubah secara terus menerus bahkan makin menuju masa dewasa, semakin kompleks ruang lingkupnya, dan tentunya akan semakin memerlukan sains.

Metode-metode pembelajaran di gunakan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan sains anak. Metode merupakan cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan kegiatan. Sebagai alat untuk mencapai tujuan tidak selamanya berfungsi secara memadai. Oleh karena itu, dalam memilih suatu metode yang akan di pergunakan dalam program kegiatan anak di taman kanak-kanak guru perlu mempunyai alasan yang kuat dan faktor-faktor yang mendukung pemilihan metode pengajaran.

Metode yang di pilih untuk meningkatkan sains anak adalah metode yang dapat menggerakkan anak untuk meningkatkan motivasi, rasa ingin tahu dan mengembangkan imajinasi. Dalam mengembangkan sains anak, metode yang di pergunakan mampu mendorong anak mencari dan menemukan jawabannya, membuat pertanyaan dan membantu memecahkannya.

Berdasarkan fenomena dari pengamatan yang peneliti temukan di lapangan ternyata masih banyak anak yang tidak berkonsentrasi penuh terhadap pembelajaran sainsyang diberikan guru, adapun kurangnya pengetahuan anak dalam konsep pembelajaran sains yang di berikan guru kurang menari minat anak untuk memperhatikan pembelajaran. Metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini yaitu bermain, bercakap-cakap, bercerita, demostrasi, proyek dan pemberian tugas. Seorang guru dapat memfariasikan metode tersebut yang dapat menarik minat anak.

B. Rumusan Masalah

1. Siapakah anak itu?
2. Bagaimana karakteristik anak usia dini?
3. Bagaimana anak mempelajari sains ?
4. Bagaimana hakikat belajar pada anak?
5. Bagaimana pandangan kaum kognivis tentang cara belajar anak?
6. Hubungan anak, belajar, dan sains ?

C. Tujuan Masalah
1. Dapat mengetahui pengertian anak
2. Dapat mengetahui karakteristik anak usia dini
3. Dapat mengetahui bagaimana anak mempelajari sains
4. Dapat mengetahui pandangan para ahli tentang cara belajar anak
5. Dapat mengetahui hakikat belajar pada anak
6. Dapat mengetahui hubungan anak,belajar,dan sains

Bab II
PEMBAHASAN

Dwi Yulianti ( 2009:7) menjelaskan secara umum anak usia dini atau anak yang berada pada usia antara 0-6 tahun merupakan anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis yang meliputi perkembangan intelektual, bahasa, motorik dan sosio emosional.

A. Siapakah Anak itu?

Pertanyaan yang lebih spesifik adalah siapakah anak usia dini itu ? pengertian anak usia dini telah di jelaskan di atas. Beberapa tinjauan anak menurut para ahli yaitu :

1. Tinjauan anak berdasarkan dimensi usia kronologis
Hurlock dalam Ali Nugraha (2005 : 52) mengkategorikan, bahwa masa kanak-kanak adalah usia prasekolah atau kelompok usia antara 2 hingga 6 tahun.

Ki Hajar Dewantara dalam Ali Nugraha (2005 : 52) memandang bahwa masa kanak-kanak berada pada rentang usia 1 sampai dengan 7 tahun. 
Solehuddin dalam Ali Nugraha (2005 : 52) membatasi secara kronologis anak usia dini (early childhood) adalah anak yang berkisar antara usia 0 sampai dengan 8 tahun.

Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa anak usia dini adalah anak dengan usia dini yang dilihat dari sisi usia kronologis, yaitu anak usia dini adalah anak dengan usia dibawah 8 tahun. Apabila dilihat dari fase-fase pendidikan yang ditempuh anak-anak yang ada di Indonesia, maka yang termasuk ke dalamkelompok anak usia dini ini adalah anak usia SD kelas-kelas renda (kelas 1-3), Taman Kanak-kanak, Kelompok Bermain, dan anak masa sebelumnya (masa bayi).

2. Tinjauan anak berdasar sudut pandang fisiologis
  • Pestalozzi dalam Ali Nugraha (2005 : 53) menyatakan bahwa anak berpembawaan baik, pandangan ini dipengaruhi oleh pemikiran Plato yang memandang anak sebagai masa elastis dan ekspresi dari kebaikan-kebaikan bawaan.
  • Frobel dalam Ali Nugraha (2005 : 53) berpendapat bahwa anak pada dasarnya berpembawaan baik dan berpotensi kreatif.
  • Montesorri dalam Ali Nugraha (2005 :53) mengatakan anak bukan sekedar fase kehidupan yang dilalui seseorang untuk mencapai kedewasaan, lebih dari itu, anak merupakan kutub tersendiri dari dunia kehidupan manusia.
  • Ki Hajar Dewantara dalam Ali Nugraha (2005:53) anak adalah titah Tuhan yang terdiri atas unsur badan kasar (jasmani) dan halus ( rohani)
  • Erikson dalam Ali Nugraha (2005:53) anak adalah makhluk yang aktif dan penjelajah yang adaptif, selalu berupaya untuk mengontrol lingkungannya. Masa kanak-kanak merupakan gambaran awal manusia sebagai seorang manusia, tempat dimana kebaikan dan sifat buruk kita yang tertentu dengan lambat, namun jelas berkembang dan mewujudkan dirinya.
  • Jean Piaget dalam Ali Nugraha (2005:53) mengemukakan bahwa anak adalah seorang pengkonstruk yaitu seorang penjelajah yang aktif, selalu ingin tahu, selalu menjawab tantangan lingkungan sesuai dengan interpretasi (penasirannya) tentang ciri-ciri yang esensial yang ditampilkan oleh lingkungan tersebut.
Dari pandangan para filsafat di atas dapat disimpulkan bahwa anak adalah mahkluk atau individu yang memiliki potensi-potensi yang baik, dimana dengan potensi yang dimilikinya itu anak berkembang melalui kegiatan beerinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

3. Tinjauan anak berdasarkan karakteristik perkembangannya. Neny Ratnawati dalam Ali Nugraha (2005:56-58)

Usia
Kemampuan berpikir, eksplorasi dan komunikasi.

0-6 bulan
  • Menangis ketika ada hal yang tidak menyenangkan atau jika dia merasa lapar atau haus.
  • Sebaliknya, anak dapat berhenti menangis jika dibujuk oleh kita sebagai orang dewasa.
  • Dapat memegang dan mengoyang-goyangkan objek yang dipegangnya dan memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya.
6-12 bulan
  • Dapat menoleh atau memandang ketika mendengar namanya disebut atau ada yang memanggilnya.
  • Memindahkan objek atau benda dari tangan yang satu ke tangan yang lainnya.
  • Dapat meniru sejumlah suara dan kata-kata seperti : papa, mama,dada,baba.
12-24 bulan
  • Senang dengan buku-buku atau informasi bergambar.
  • Dapat menggelengkan kepala, tanda tidak setuju atau tidak mau terhadap sesuatu.
  • Dapat mengerti dan dapat melakukan lambaian tangan, sebagai ungkapan selamat tinggal.
24-36 bulan
  • Mulai dapat berbicara dengan menggunakan kalimat, meskipun masih dengan kalimat yang pendek-pendek.
  • Senang mendengarkan cerita atau dongeng
  • Sedang dan sering kali menepuk-nepuk benda (objek) yang mengeluarkan bunyi seolah seperti sedang membentuk irama musik.
36-48 bulan
  • Dapat bernyayi atau menyampaikan sejumlah lagu dan iramanya.
  • Dapat menghitung angka atau jumlah (mungkin 5 angka atau lebih)
  • Terus-menerus mengajukan pertanyaan
48-60 bulan
  • Dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan jelas.
  • Dapat menceritakan atau berbicara tentang pengalaman yang telah dilaluinya.
  • Dapat mengitung 5 hal atau buah ketika diminta.
Kesimpulanya adalah bahwa anak usia dini tidak boleh diabaikan begitu saja, tetapi mereka memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkannya. Terkait dengan pengembangaan sains, informasi tentang perkembangan dan karakteristik seperti yang telah diuraikan akan dapat dijadikan landasan dalam memfasilitasi dan mengoptimalkan pendidikan dan pembelajaran sains bagi anak usia dini.

B. Karakteristik Anak Usia Dini
Partini (2010 : 8-10) menjelasakan bahwa karakteristik anak usia dini secara umum akan mengalami perubahan-perubahan dan perkembangan sesuai usianya. Pada kenyataanya masing-masing anak mempunyai perbedaan karakter meski dilahirkan di hari yang sama dan dibesarkan dilingkungan yang sama pula.Secara biologis perkembangan dapat di bagi ke dalam beberapa fase yang masing-masing fase mempunyai karakter tersendiri yaitu :

1. Usia 0-6 bulan.
Anak menunjukkan gerak reflek, mengenali pengasuhnya, menunjukkan komuikasi wajah, tersenyum,tertawa dan bersuara seadanya. Tangan memegang mainan dan menggoyangkannya, memegang benda dengan dua tangan dan memasukkannya ke mulut.

2. Usia 7-12 bulan.
Anak mampu menggerakkan objek, koordinasi mata dengan tangan sudah baik, mampu membedakan orang tuanya atau keluarga dekat dengan orang asing, dapat duduk di lantai dengan baik,mulai merangkak untuk mengambil objek, menunjukkan kemampuan, mencari objek yang di sembunyikan. Mulai bisa berjalan dengan bantuan,kemudian dapat berdiri sendiri dan dapat berjalan sendiri.

3. Usia 13-24 bulan.
Anak mulai lancar berjalan dan tidak mau berhenti, belajar mengenal benda-benda, mulai tertarik dengan gambar pada buku, membalik-balikkan halaman buku secara acak, mulai menunjukkan kemampuan komunikasi, menyukai benda-benda yang berbunyi,berlari dan menendang bola.

4. Usia 2-4 tahun.

Anak mulai dapat menirukan apa yang dilakukan orang dewasa motorik halus mulai berkembang pesat belajar memakai benda-benda seperti topi, sepatu besar, kacamata, dan menirukan gaya orang dewasa.

5. Usia 5 tahun.

Anak sudah mulai memiliki kemampuan bahasa sehari-hari. Mereka dapat berkomunikasi dengan anak lain sebagai wujud perkembangan sosial.

6. Usia 6-8 tahun.
Anak mulai mampu membaca dan berkomunikasi secara luas. Perkembangan daya pikir ( kognitif ) yang cepat di tunjukkan dengan rasa ingin tahu anak yang luar biasa terhadap linkungan sekitar dengan menanyakan segala sesuatu yang dilihat atau di dengarnya.

C. Cara Anak Mempelajari Sains
Ali Nugraha (2005 : 49-50) menjelaskan bahwa apabila kemampuan guru sains terhadap perkembangan dan karakteristik anak memadai, akan banyak keuntungan yang dapat diperoleh, diataranya :
  1. Pemahaman perkembangan dan karakteristik anak akan membantu dalam penentuan dan pemilihan cara-cara berinteraksi, bersikap dan memperlakukan anak dalam kegiatan dan pembelajaran sains.
  2. Pemahaman perkembangan dan karakteristik anak membantu dalam menyediakan pilihan kegiatan, materi dan fasilitas yang diperlukan untuk pembelajaran sains mereka.
  3. Pemahaman perkembangan dan karakteristik anak akan membantu dalam mengantisipasi (memperkirakan) berbagai kemungkinan yang akan terjadi sebelum, selama dan setelah pembelajaran sains dilaksanakan.
  4. Pemahaman perkembangan dan karakteristik anak akan membantu dalam mengontrol perkembangan, mengetahui tingkat ketercapaian serta pengambilan keputusan tentang efektifitas, keberhasilan dan produktifitas pembelajaran sains yang dilaksanakan.

D. Hakikat Belajar

Konsep Belajar
Nasution dalam Ali Nugraha (2005: 60)menjelaskan pendapat modern, belajar adalah perubahan kelakuan Pengertian modern lebih menekankan pengertian belajar sebagai suatu proses dimana suatu organisma ( individu) berubah perilakunya akibat suatu pengalaman.

Sesuai dengan batasan atau pengertian belajar di atas, dimensi-dimensi perubahan yang terjadi, diantaranya :
  1. Kepribadian, yaitu dengan memiliki pola respon atau tingkah laku baru.
  2. Perilaku aktual maupun potensial, yaitu kemapuan melakukan kegiatan nyata maupun yang bersifat tidak nyata.
  3. Kecakapan/keterampialn dalam bertindak, yaitu kemampuan yang terkait dengan penggunaan motorik ( kasar maupun halus).
  4. Sikap dan kebiasaan, yaitu penerapan nilai-nilai kehidupan dalam keseharian.
  5. Pengetahuan dan pemahaman, yaitu berupa penguasaan konsep, prinsip maupun teori.
Bentuk-bentuk belajar
Ali Nugraha (2005 : 64-68) . Secara umum terdapat enam bentuk dasar pembuatan belajar yaitu :
  1. Mendengarkan yaitu bentuk belajar atau perubahan perilaku yang didasarkan atas tindakan mendengarkan.
  2. Memandang (melihat) yaitu bentuk belajar memandang memiliki dimensi yang terbuka, pertama arah belajar lebih ditekankan pada fungsi indra sebagai alat untuk memperoleh pengalaman belajar melalui jalur visual, tetapi secara khusus dapat dijelaskan bahwa belajar memandang merupakan bagian dari memperbaiki perilaku dalam memanfaatkan mata sebagai alat penerima pengalaman belajar melalui visual.
  3. Membau/mencium yaitu bentuk belajar dan perolehan pengalaman belajar melalui membau atau mencium
  4. Meraba dan mencicipi yaitu bentuk belajar ini sangat esensial terutama bagi anak usia dini dalam menggali sains. Dengan meraba anak akan memperoleh pengalaman langsung dan sangat bermakna
  5. Menghapal yaitu belajar menghapal sangat dibutuhkan, mengingat begitu banyaknya informasi, konsep,teori dan fakta yang berada di sekitar anak.
  6. Membaca yaitu membaca memiliki dua dimensi ; pertama membaca dalam artian mengubah perilaku melalui informasi yang diperoleh melalui bacaanya; kedua membaca dalam arti mengubah perilaku untuk terampil membaca secara praktis.
Prinsip-prinsip belajar
Ali Nugraha (2005 : 69-78) menjelaskan prinsip adalah azas atau kebenaran-kebenaran yang menjadi pokok dasar dalam berpikir dan bertindak.

Prinsip-prinsip belajar yang harus dipegang teguh adalah sebagai berikut :
  1. Belajar akan berhasil apabila anak melihat tujuan, dan tujuan itu lahir dari dan dekat dengan kehidupan anak. Maknanya belajar memerlukan dukungan dan motivasi dari anak, baik secara internal ( yang datang dari dalam diri) maupun eksternal ( yang datang dari luar diri anak).
  2. Kegiatan belajar hendaknya dapat merangsang seluruh aspek perkembangan anak, baik jasmani dan rohani maupun emosional
  3. Lingkungan belajar yang diciptakan hendaklah bermakna dan mengandung arti bagi anak sehingga membentuk pola kelakuan yang berguna bagi kehidupan anak.
  4. Bantuan belajar yang diberikan adalah yang menunjukkan efektifitas dan efisien belajar anak dan dilakukan secara wajar.
  5. Adanya upaya pengintegrasian pengalaman belajar sebelumnya dengan pengalaman baru sehingga menjadi suatu kesatuan pengalaman yang utuh, tidak mudah lepas atau hilang.
  6. Penyajian belajar hendaklah suatu keseluruhan harus lebih dulu dimunculkan kemudian baru menuju sesuatu yang lebih spesifik.
  7. Belajar selalu dimulai dengan suatu masalah dan berlangsung sebagai usaha untuk memecahkan masalah itu.
  8. Belajar itu berhasil bila disadari telah ditemukan kunci atau hubungan diantara unsur-unsur dalam masalah itu, sehingga diperoleh wawasan dan penambahan.
  9. Belajar berlangsung dari yang sederhana meningkat kepada yang kompleks, bergerak dari yang dekat dengan anak hingga yang jauh, serta dari yang konkrit menuju abstrak.

E. Pandangan kaum kognivis tentang cara belajar anak.
Nana Sudjana dalam Ali Nugraha (2005 : 78) menjelaskan pemahaman kaum kognitifis tentang tingkah laku manusia, bahwa menurut mereka perilaku manusia tak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses-proses mental; seperti motivasi,kesengajaan, keyakinan dan sebagainya.

Jurnal yang berjudul memahami teori psikologi kognitif Piaget hubungannya dengan perkembangan anak dalam belajar ( Agus Suharto, 2012 : 27) menegaskan bahwa perkembangan kognitif dengan konsep ini terjadi pada semua penahapan perkembangan kognitif. Berdasarkan keterangan ini dapat dilihat adanya hukum-hukum yang berlaku dalam umum secara perkembangan yang dapat diterapkan dalam perkembangan kognitif pada semua tahap perkembangan.

Tahap-tahap perkembangan oleh J. Piaget dibagi dalam beberapa tahap, Keempat tahap perkembangan itu digambarkan dalam teori Piaget sebagai barikut :

1. Tahap sensorimotor:
Lahir hingga 2 tahun (anak mengalami dunianya melalui gerak dan inderanya serta mempelajari permanensi obyek). Masa sensori motor ini terbagi menjadi 6 sub-masa, yakni:
  1. Modifikasi dari refleks-refleks (0-1 bulan)
  2. Reaksi pengulangan pertama (1-4 bulan)
  3. Reaksi pengulanganan kedua (4-10 bulan)
  4. Koordinasi reaksi-reaksi sekunder (10-12 bulan)
  5. Reaksi pengulangan yang ketiga (12-18 bulan)
  6. Permulaan berpikir (18-24 bulan).
2. Tahap pra-operasional
Anak 2 hingga 7 tahun (mulai memiliki kecakapan motorik) . Tahap pra-operasional adalah tahap pemikiran yang lebih simbolis ketimbang pada tahap sensirimotor tetapi tidak melibatkan pemikiran operasional. Namun, tahap ini lebih bersifat egosentris dan intuitif ketimbang logis. Sedangkan subtahap pemikiran intuitif dimulai sekitar usia 4 tahun dan berlangsung sampai usia 7 tahun. Pada subtahap ini, anak mulai menggunakan penalaran primitive dan ingin tahu jawaban dari semua pertanyaan.

3. Tahap operasional konkret:
7 hingga 11 tahun (anak mulai berpikir secara logis tentang kejadian-kejadian konkret). Tahap operasional konkret. Pemikiran operasional konkret mencakup penggunaan operasi. Penalaran logika menggantikan penalaran intuitif, tetapi hanya dalam situasi konkret. Kemampuan untuk menggolong-golongkan sudah ada, tetapi belum bisa memecahkan problem-problem abstrak. Operasi konkret adalah tindakan mental yang bisa dibalikan yang berkaitan dengan konkret objek nyata.

Operasi konkret membuat anak bisa mengoordinasikan beberapa karakteristik, jadi bukan hanya focus pada suatu kualitas dari objek. Pada level operasional konkret, anak-anak secara mental bisa melakukan sesuatu yang sebelumnya hanya bisa mereka lakukan secara fisik, dan mereka dapat membalikkan operasi konkret ini.

4. Tahap operasional formal
Setelah usia 11 tahun (perkembangan penalaran abstrak). Pada tahap ini, individu sudah memikirkan pengalaman di luar pengalaman konkret, dan memikirkannya secara lebih abstrak, idealis, dan logis. Selain memiliki kemampuan abstrak, pemikir operasional formal juga punya kemampuan untuk melakukan idealisasi dan membayangkan kemungkinan-kemungkinan. Sebagai pemikir operasional formal, mereka juga mulai mirip ilmuwan. Mereka menyusun rencana untuk memecahkan masalah dan secara sistematis menguji solusinya.

F. Anak,Belajar dan Sains
Anak-anak secara aktif belajar dari obsevasi terhadap dan partisipasi dengan anak-anak lain dan orang dekat yang dipercayainya termasuk orang tua, dan guru. Dengan cara ini anak-anak sejak usia dini dengan aktif membangun berbagai pemahaman dari pengalamannya, dan pemahaman ini dijembatani dan erat berkaitan serta menyatu dengan konteks sosial budaya lingkungannya.

Jurnal yang berjudul peningkatan pemahaman konsep dasar sains anak usia dini dengan pemanfaatan media telur di TK Cendrawasih Kartikajaya ( Aini Riswati, 2013: 2-3) menjelaskan sains adalah suatu subjek bahasan yang berhubungan dengna bidang studi tentang kenyataan atau fakta yang mampu menjelaskan tentang fenomena alam. Pengenalan, pemahaman, serta kecintaan terhadap sains wajib dimulai sejak usia dini bila kita tak ingin generasi muda kita kalah bersaing dengan generasi muda mancanegara. Setiap anak dapat memetik manfaat dari berbagai peristiwa sains dan menganalisisnya: mengumpulkan aneka macam daun, batu, kerang; lempar-tangkap bola; membaca tentang berbagai jenis hewan; dan lain-lain. Sebagai pendidik kita harus lebih dulu memahami dan menyadari bahwa sains adalah kegiatan yang amat sangat berguna dan tidak bersifat eksklusif (hanya milik ilmuan). Aktifitas sains untuk anak usia dini tampaknya memang sederhana sekali, namun reaksi atau respons dari anak-anak merupakan peluang bagi para guru dan orang tua bila ingin membentuk anak yang berlogika dan berpikir sehat serta bekerja layaknya seorang ilmuan. Fungsi pengajaran sains yaitu dapat menumbuhkan berpikir logis, berpikir rasional, berfikir analitis dan berfikir kritis dapat berkontribusi secara signifikan dalam pembeentukan potensi-potensi anak.

Ali Nugraha (2005 :92-95) menjelaskan bahwa pengembangan sains yang berkaitan dengan peluang-peluang dalam proses pembelajaran dan penerapannya pada anak usia dini. Hal tersebut penting diajukan dalam menyikapi sains sekaligus dalam upaya pencarian alternatif pengembangannya yang paling efektif diantanya sebagai berikut :
  1. Setiap anak memiliki bakat dan potensi yang menakjubkan dianra bakat dan potensi yang paling mendasar terkait dengan sains adalah setiap anak sejak lahir dipenuhi dengan rasa ingin tau yang tinggi untuk mengenal dunianya. Contohnya, mereka senang menjelajah, selalu punya keinginan untuk bergerak tertarik pada segala sesuatu dan hal-hal yang baru.
  2. Anak adalah makhluk individu, maksudnya adalah anak merupakan individu yang memiliki karakteristik dan kesiapan untuk dikembangkan pada fokus tertentu dan menarik baginya.
  3. Anak adalah pelajar. Sumber belajar utama atau terhebat bagi anak dalam pengenalan dan pemahaman sains adalah pengalaman-pengalaman belajar awal yang paling dekat dengan anak, dan berhubungan langsung dengan dirinya sendiri.
  4. Anak adalah pelaku dan perencana. Implikasi dan pemahaman atas pernyataan tersebut terhadap pengembangan sains, adalah pembelajaran dianggap tepat apabila anak juga dilibatkan dalam kegiatan perencanaan pengembangan sains.
  5. Anak adalah peka dan pengindraan. Pengalaman pada anak adalah berhubungan dengan apa yang mereka rasakan, dengar, sentuh atau raba, rasa atau cicipidan cium, tetapi juga kepekaan-kepekaan yang dirasakan tubuhnya.
  6. Anak adalah pemikir. Setiap peralatan otak anak dilengkapi kemampuan berfikir dan dalam otak setiap anak terdapat model awal scientifik yaitu kemampuan dan kepekaan cara-cara mengorganisasikan pengetahuan yang ia ketahui tentang dunianya.
BAB III
KESIMPULAN
Anak usia dini merupakan anak yang berada pada usia 0-6 tahun. Anak usia dini memerlukan pendidikan yang dapat untuk menunjang pendidikan, dan untuk masa depannya kelak. Cara anak mempelajari sains dengan cara mendengar, memandang, mencium,meraba, menghafal dan membaca. Dan seorang guru harus memegang prinsip belajar yaitu anak melihat tujuan atau turun ke lapangan, kegitannya harus merangsang aspek perkembangan anak, lingkungan belajar nya harus bermakna, dan belajar berlangsung dari yang sederhana menuju kepada pembelajaran yang kompleks. Yang paling utama adalah seorang guru PAUD harus memiliki keterampilan dalam memberi pembelajaran kepada anak, sehingga dapat menarik perhatian anak dan anak tidak cepat bosan.

DAFTAR PUSTAKA

Nugraha, Ali. (2005). Pengembangan Pembelajaran Sains Pada Anak Usia Dini, Jakarta: DEPDIKNAS
Yulianti, Dwi. (2009). Bermain Sambil Belajar Sains, Semarang: Indeks
Partini. (2010). Pengantar Pendidikan Anak Usia Dini, Yogyakarta: Grafindo Litera Media
Riswati, Aini. (2007). Peningkatan pemahaman konsep dasar sains AUD dengan pemanfaatan media telur: di TK Cendrawasih Kartikajaya. Semarang: Journal Veteran. Vol. 1, No. 01.
Suharto, Agus. (2012). Memahami teori psikologi kognitive piaget: hubungannya dengan perkembangan anak dalam belajar. Indramayu: Jurnal Edukasi. Vol. 7, No. 1.

Facebook Comment