Dasar-Dasar Ilmu Ekonomi


BAB I
KONSEP ILMU EKONOMI
Oleh : Alam S


1.1 Kebutuhan

A. Pengertian Kebutuhan

Kebutuhan adalah segala sesuatu yang diperlukan manusia untuk mencapai kemakmuran. Kebutuhan manusia ternyata tidak terbatas. Mengapa kebutuhan manusia tidak terbatas? Sesuai dengan kodratnya, manusia selalu merasa kekurangan. Manusia selalu menginginkan kemakmuran. Ketika belum mempunyai rumah, seseorang ingin mempunyai rumah. Tentu berikut segala macam isinya. Apakah cukup sampai disitu? Tidak! Kenyataan menunjukkan bahwa jika suatu kebutuhan sudah terpenuhi, maka kebutuhan lainnya akan muncul. Untuk sementara waktu, orang tadi mungkin sudah merasa senang memiliki rumah beserta semua isinya. Namun, dia masih ingin memiliki mobil, villa di puncak, atau flat di Singapura.

B. Jenis-Jenis Kebutuhan
Secara garis besar, kebutuhan manusia dapat kita bagi menjadi empat kelompok, yaitu kebutuhan menurut tingkat intensitas, sifat, subjek, dan waktu kebutuhan.

1. Jenis kebutuhan menurut tingkat intensitas
Menurut intensitas penggunaannya, kebutuhan dapat kita bagi menjadi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier (mewah).
  • Kebutuhan primer adalah jenis kebutuhan yang harus dipenuhi agar manusia dapat mempertahankan hidupnya. Agar dapat hidup, manusia harus makan, minum, dan berpakaian. Selain itu manusia memerlukan tempat tinggal atau rumah. Kebutuhan primer sering juga disebut kebutuhan alamiah.
  • Kebutuhan sekunder. Setelah manusia dapat memenuhi kebutuhan primernya, manusia juga masih memerlukan kebutuhan lainnya yang bersifat pelengkap dan sering disebut sebagai kebutuhan sekunder. Misalnya, manusia perlu sepeda, kipas angin, meja, kursi kulkas, dan peralatan lainnya yang berfungsi untuk meningkatkan kenyamanan.
  • Kebutuhan tersier. Pada umumnya, seseorang masih merasa belum cukup meskipun dia telah dapat memenuhi kebutuhan primer dan sekundernya. Dia masih memerlukan hal-hala laian yang tingkatannya lebih tinggi. Dia masih memilki keinginan untuk memiliki mobil, piano, kapal pesiar, serta kebutuhan mewah lainnya. Pemakaian barang-barang mewah dapat menaikkan status sosial seseorang.
2. Jenis kebutuhan menurut sifat
Jenis kebutuhan ini dibagi atas dasar sasaran dari alat pemuas kebutuhan yang digunakan. Ada alat pemuas kebutuhan yang berhubungan dengan jasmani. Ada pula yang berhubungan dengan rohani.
  • Kebutuhan jasmani adalah kebutuhan yang berhubungan dengan jasmani. Kebutuhan jasmani antara lain pakaian, makanan dan minuman.
  • Kebutuhan rohani adalah kebutuhan yang bersifat kejiwaan. Misalnya, agar terhindar dari kebosanan rutinitas sekolah, kita perlu menghibur diri dengan mendengarkan musik atau menonton film. Sebagai makhluk beragama, kita pun ingin menjalankan ibadah dengan baik.
3. Jenis kebutuhan menurut subjek yang membutuhkan
Menurut subjek yang membutuhkan, kebutuhan dapat dibedakan menjadi kebutuhan individual dan kebutuhan umum.
  • Kebutuhan individual menunjuk pada kebutuhan tiap-tiap orang yang berbeda-beda. Petani membutuhkan cangkul dan pupuk. Sedangkan guru membutuhkan buku pelajaran dan kapur tulis.
  • Kebutuhan umum berhubungan dengan penggunaan barang dan jasa oleh banyak orang. Sebgai contoh, jembatan penyeberangan digunakan oleh semua orang yang akan menyeberangi jalan.
 
4. Jenis kebutuhan menurut waktu
Atas dasar waktu pemenuhan, kebutuhan dibedakan menjadi kebutuhan sekarang dan kebutuhan yang akan datang.
  • Kebutuhan sekarang adalah kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi saat ini. Misalnya, orang yag sakit harus segera berobat agar sembuh, Orang yang lapar harus segera makan, orang yang hasu harus segera minum.
  • Kebutuhan yang akan datang adalah kebutuhan yang sifatnya tidak mendesak dan dapat ditunda sampai dengan waktu yang telah ditentukan. Kebutuhan ini berhubungan dengan persediaan dan persiapan untuk waktu yang akan datang. Misalnya, orang tua menabung untuk persiapan uang sekolah anaknya atau untuk berekreasi bersama keluarga.

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan
1. Peradaban

Peradaban adalah salah satu faktor yang membuat kebutuhan tiap zaman berbeda. Pada zaman dahulu, peradaban manusia masih sangat rendah. Kebutuhan manusia pada masa itu masih tertuju pada kebutuhan primer. Jenis kebutuhan serta cara pemenuhannya pun masih sangat sederhana. Misalnya, nenek moyang kita cukup berpakaian seadanya dengan menggunakan kulit kayu atau daun-daunan. Makan pun cukup dengan umbi-umbian.

Seiring dengan berkembangnya peradaban, semakin berkembang pula jenis kebutuhan. Mausia membutuhkan makanan lain yang lebih beravariasi dan pakaian yang terbuat dari bahan yang bagus.

2. Lingkungan
Lingkungan termasuk salah satu faktor yang mempengaruhi kebutuhan manusia. Kebutuhan masyarakat yang mendiami sebuah pesisir berbeda dengan masyrakat yang mendiami pegunungan. Penduduk pesisir lebih membutuhkan jaring, perahu, pancing, atau kapal motor agar dapat menangkap ikan di laut. Sedangkan penduduk pegunungan lebih membutuhkan cangku, benih tanaman, atau pupuk untuk bercocok tanaman.


3. Adat istiadat
Adat istiadat atau tradisi juga banyak mempengaruhi perbedaan kebutuhan setiap individu atau kelompok individu. Pria Jawa memiliki tardisi untuk menggunakan blangkon. Sementara pria di daerah lainnya tidak demikian.

4. Agama
Agama juga termasuk salah satu faktor yang membuat kebutuhan setiap individu berbeda. Misalnya, penganut agama Islam membutuhkan sajadah untuk salat dan dilarang mengonsumsi daging babi, sedangkan penganut agama Hindu membutuhkan sesajen dalam upacara keagamaannya dan dilarang mengonsumsi daging sapi.


1.2 Ketersediaan Barang dan Jasa
Seperti telah dikemukan sebelumnya, kebutuhan manusia begitu banyak, beragam, dan terus berkembang. Kebutuhan tersebut akan terus berlanjut sampai manusia menghembuskan nafas terakhirnya. Sepanjang hidupnya, manusia akan selalu berusaha memenuhi berbagai kebutuhan yang tak terbatas tersebut. Namun demikian, tentu sjaa tidak semua kebutuhan bisa dipenuhi. Manusia harus melakukan pilihan di antara alternatif yang paling menguntungkannya. Mengapa kita harus melakukan pilihan? Sebab jenis dan jumlah benda pemuas kebutuhan tersedia terbatas (langka), sementara jumlah dan jenis yang dibutuhkan tidak terbatas. Inilah sebenarnya yamg menjadi inti masalah ekonomi.

Mengapa terjadi kelangkaan? Kelangkaan timbul sebagai akibat beberapa hal berikut ini.
a. Keterbatasan jumlah benda pemuas kebutuhan yang ada di alam
Di alam telah tersedia banyak benda yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun, karena tidak semua benda tersebut dapat segera diperbaharui, maka jumlahnya pun terbatas. Misalnya, minyak bumi dan barang-barang tambang lainnya yang memerlukan waktu beribu-ribu tahun untuk memperbaharuinya.

b. Kerusakan sumber daya akibat ulah manusia
Penebangan hutan yang tidak terencana dengan baik mengakibatkan hutan tersebut menjadi cepat rusak dan gundul. Ini tentu memerlukan waktu lama untuk memperbaikinya. Contoh lain, akibat pencemaran air tidak bisa diminum. Tercemarnya air juga menyebabkan beberapa jenis ikan mati. Oleh karena itu, manusia harus berhati-hati menggunakan sumber daya alam yang tersedia. Jangan karena kesalahan manusia, sumber daya yang tersedia menjadi rusak. Kita yang hidup sekarang harus dapat mewariskan lingkungan atau sumber daya yang baik pada generasi yang akan datang.

c. Keterbatasan kemampuan manusia untuk mengolah sumber daya yang ada
Keterbatasan kemampuan untuk mengolah terjadi karena kekurangan ilmu pengetahuan an teknologi. Namun, bisa juga karena kekurangan modal dan faktor-faktor lain.

d. Peningkatan kebutuhan manusia yang lebih cepat dibandingkan dengan penyediaan sarana kebutuhan
Dewasa ini, pemerintah dan para pengusaha telah bekerja keras untuk menyediakan rumah murah melalui fasilitas KPR/BTN atau kredit pemilikan rumah lainnnya. Walaupun demikian, masih banyak orang yang tidak memilki rumah. Mengapa demikian? Karena pertambahan penduduk lebih cepat dari pada usaha penyediaan rumah.

Jadi, kata kunci yang harus digaris bawahi sekarang adalah terbatasnya benda pemuas kebutuhan yang tersedia sedangkan jumlah dan jenis yang dibutuhkan tidak terbatas.

1.3 Alokasi Sumber Daya yang Bermanfaat Bagi Rakyat Banyak
Sebelumnya telah diuraikan bahwa sumber daya (barang dan jasa) adalah langka. Karena kelangkaan inilah individu dan masyarakat harus menentukan pilihan. Konsumen harus mencari kepuasan maksimal dari penggunaan barang dan jasa yang terbatas itu. Produsen atau perusahaan harus memanfaatkan sumber daya produksi (faktor-faktor produksi) yang terbatas untuk menghasilkan output (barang dan jasa yang optimal).

Karena keterbatasan sumber daya produksi, kita mengenal kurva batas kemungkinan produksi (production possibility frontiner curve). Jika suatu jenis barang diproduksi lebih banyak, maka jenis barang lainnya harus dikurangi. Dalam kurva batas kemungkinan produksi kita mengandaikan bahwa sebuah barang perusahaan hanya memproduksi dua jenis barang, yaitu barang X dan barang Y.

Untuk memproduksi barang X dan barang Y diperlukan sumber daya ekonomi tertentu. Jika perusahaan memproduksi Y sejumlah 30 unit, barang X bisa diproduksi 60 unit. Jika perusahaan memilih memproduksi barang Y sejumlah 50 unit, maka barang X hanya dapat diproduksi 40 unit. Yang perlu diperhatikan adalah adalah bahwa jika ada penambahan produksi untuk barang tertentu, produksi barang yang lain harus dikurangi. Produsen harus memilih kombinasi yang paling menguntungkan. Output pada titik C tidak mungkin dapat dilakukan karena berada diluar kemungkinan batas produksi. Pada titik A, seluruh output yang diproduksi adalah barang Y sejumlah 70 unit. Tak satu unit pun barang X diproduksi. Sebaliknya pada titik B seluruh sumber daya hanya digunakan untuk memproduksi barang X sejumlah 80 unit.

Harus diketahui bahwa lereng (slope) kurva batas kemungkinan produksi adalah negatif. Artinya, jika diputuskan menambah produksi suatu jenis barang, maka perusahaan harus mengurangi produksi jenis barang yang lain.

Adakah keterkaitan kurva kemungkinan produksi dengan penyelenggaraan negara? Seperti halnya perusahaan, negara juga harus mengalokasikan sumber daya (sumber daya alam dan manusia) yang dimilikinya demi kemakmuran rakyat.

Apakah yang terjadi jika sumber daya alam yang ada melimpah, tetapi tidak dapat digunakan secar optimal oleh negara? Katakanlah, sumber daya alam yang tersedia tidak terkelola dengan baik atau sejumlah besar penduduk tidak mendapatkan lapangan kerja yang layak? Tentu saja negara tidak dapat menjalankan pembangunan (yang bisa kita anadaikan dengan barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan) dengan baik. Keadaan ini smaa artinya dengan kurva batas kemungkinan produksi di daerah berarsir gelap.

1.4 Biaya Peluang (Opportunity Cost)

Kita telah membahas bahwa hidup penuh dengan pilihan. Karena kelangkaan sumber daya, kita selalu memutuskan barang apa yang ingin kita beli atau aktivitas yang ingin kita lakukan. Apakah kita ingin ke bioskop atau cukup menonton VCD di rumah? Apakah kita ingin bertamasya atau menyelesaikan pekerjaan di rumah? Setiap pilihan yang kita ambil berarti pengorbanan atas pilihan lain, yang menyebabkan timbulnya biaya untuk melakukan hal lain tersebut. Disebut apakah biaya yang timbul karena kondisi tersebut? Ikuti pembahasan berikut!


A. Pengertian Biaya Peluang
Biaya peluang muncul ketika seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan dan dia harus memilih salah satunya. Oleh karena itu, biaya peluang adalah nilai barang atau jasa yang dikorbankan karena memilih alternatif kegiatan.

Contohnya adalah biaya kuliah di perguruan tinggi. Jika kamu telah lulus SMA dan memutuskan untuk kuliah di perguruan tinggi, kamu mungkin menghitung biaya kuliah (antara lain uang semester, uang kos, buku pelajaran, uang praktikum, dan uang pembangunan) berjumlah total Rp10.000.000,00 setahun. Apakah jumlah tersebut adalah biaya peluang untuk kuliah di perguruan tinggi selama setahun? Bukan! Kamu juga harus menghitung biaya peluang waktu yang dihabiskan karena kuliah. Jika setelah lulus SMA atau MA kamu tidak memilih kuliah, melainkan bekerja di sebuah pabrik, selama setahun kamu bisa mendapatkan gaji total Rp13.000.000. Dengan demikian, jika kita menambahkan biaya yang benar-benar dikeluarkan untuk kuliah dan pendapatan yang terpaksa kita korbankan karena tidak bekerja, kita akan mendapatkan biaya peluang kuliah sebesar Rp23.000.000 (sama dengan Rp10.000.000 + Rp13.000.000).

Biaya yang benar-benar dikeluarkan disebut dengan biaya eksplisit. Adapun biaya peluang merupakan biaya implisit. Baik biaya eksplisit maupun biaya implisit harus diperhitungkan dalam melakukan keputusan-keputusan ekonomi. Kedua biaya ini disebut dengan biaya sesungguhnya (genuine cost)

Konsep biaya peluang ini adalah bahasan sentral dalam ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi selalu mempertimbangkan biaya peluang dari setiap keputusan dalam memenuhi kebutuhan atau melakukan kegiatan ekonomi.


B. Perbedaan Biaya Sehari-hari dengan Biaya Peluang
Biaya adalah pengorbanan untuk mendapatkan suatu tujuan. Di suatu perusahaan, biaya merupakan pengorbanan untuk memproduksi suatu barang, memasarkan suatu barang, atau kegiatan lainnya. Jika pengorbanan itu untuk memproduksi suatu barang, maka biaya atau pengorbanan tersebut dinamakan baiay produksi. Jika biaya tersebut untuk memasarkan suatu barang, maka biaya tersebut dinamakan biaya pemasaran.

Biaya sehari-hari adalah pengorbanan yang harus dilakukan untuk melakukan suatu kegiatan (kegiatan ekonomi), tanpa memperhitungkan kerugian karena dikorbankannnya kegiatan lain. Di lain pihak, biaya peluang adalah biaya yang muncul secara implisit karena melakukan suatu kegiatan dan mengorbankan kegiatan yang lain.

KLIK LINK di bawah ini untuk Melihat Penjelasan Tentang

Facebook Comment