Showing posts with label Pengertian Filsafat Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pengertian Filsafat Pendidikan. Show all posts

Makalah | Filsafat Pendidikan

Makalah | Filsafat Pendidikan
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam kajian filsafat, kita mengenal beberapa aliran filsafat pendidikan, dimana antara satu dan yang lainnya memiliki tipologi masing-masing. Benturan antar aliran akan banyak ditemui, terutama setelah satu pandangan dengan pandangan lain bertemu pada satu terra besar yang menjadi inti dari masing­-masing aliran itu. 
Secara sederhana, semua aliran merupakan bentuk pertentangan dari cara pandang yang telah berlaku secara menyeluruh, untuk kemudian ditemukan formula baru dalam memandang. Pola, komunikasi yang semacam inilah yang membuat filsafat sampai kini masih selalu menarik untuk bahan kajian yang diminati banyak orang. Yang menarik dari semua itu adalah bahwa dari berbagai tokoh-tokoh tertentu yang menggunakan cara pandang tersebut sebagai pilau analisis, tetapi hampir berlaku secara menyeluruh dalam kehidupan sosial.
Dalam filsafat pendidikan banyak sekali aliran-aliran, seperti aliran Perenialisme, progrestivisme, esensialisme, eksistensialisme, idealisme, dan rekontruksisme. Dalam aliran-aliran yang telah disebutkan diatas masing-masing mempunyai keunggulan dan kelemahan. Akan tetapi yang dibahas dalam makalah ini akan membahas tentang "konsep aliran pragmatisme, eksistensialisme, dan progresivisme terhadap tujuan pendidikan".
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang akan dibahas adalah sebagai berikut :
  1. Apa yang dimaksud dari aliran filsafat pendidikan pragmatisme, eksistensialisme, dan progresivisme?
  2. Bagaimana implikasi aliran filsafat pendidikan pragmatisme, eksistensialisme, dan progresivisme dan implikasinya terhadap tujuan pendidikan?
  3. Apa perbedaan dari ketiga aliran filsafat pendidikan tersebut?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, makalah ini bertujuan:
  1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan aliran filsafat pendidikan pragmatisme, eksistensialisme, dan progresivisme.
  2. Mengetahui bagaimana implikasi aliran filsafat pendidikan pragmatisme, eksistensialisme, dan progresivisme serta implikasinya terhadap tujuan pendidikan.
  3. Mengetahui perbedaan dari ketiga aliran filsafat pendidikan tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Aliran Filsafat Pendidikan Pragmatisme
2.1.1 Pengertian Pragmatisme
Pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan. Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal saja hanya membawa akibat praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran mistis semua bisa diterima sebagai kebenaran dan dasar tindakan asalkan membawa akibat yang praktis yang bermanfaat. Dengan demikian, patokan pragmatisme adalah “manfaat bagi hidup praktis”.
Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu, yaitu apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata.
Oleh sebab itu kebenaran sifatnya menjadi relatif tidak mutlak. Mungkin sesuatu konsep atau peraturan sama sekali tidak memberikan kegunaan bagi masyarakat tertentu, tetapi terbukti berguna bagi masyarakat yang lain. Maka konsep itu dinyatakan benar oleh masyarakat yang kedua.
Pragmatisme dalam perkembangannya mengalami perbedaan kesimpulan walaupun berangkat dari gagasan asal yang sama. Kendati demikian, ada tiga patokan yang disetujui aliran pragmatisme yaitu, (1) menolak segala intelektualisme, dan (2) absolutisme, serta (3) meremehkan logika formal.

2.1.2 Tokoh-tokoh Filsafat Pragmatisme
Filosuf yang terkenal sebagai tokoh filsafat pragmatisme adalah William James dan John Dewey.
1. William James (1842-1910 M)
William James lahir di New York pada tahun 1842 M, anak Henry James, Sr. ayahnya adalah orang yang terkenal, berkebudayaan tinggi, pemikir yang kreatif. Selain kaya, keluarganya memang dibekali dengan kemampuan intelektual yang tinggi. Keluarganya juga menerapkan humanisme dalam kehidupan serta mengembangkannya. Ayah James rajin mempelajari manusia dan agama. Pokoknya, kehidupan James penuh dengan masa belajar yang dibarengi dengan usaha kreatif untyuk menjawab berbagai masalah yang berkenaan dengan kehidupan.
Karya-karyanya antara lain, Tha Principles of Psychology (1890), Thee Will to Believe (1897), The Varietes of Religious Experience (1902) dan Pragmatism (1907). Di dalam bukunya The Meaning of Truth, Arti Kebenaran, James mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri dan terlepas dari segala akal yang mengenal. Sebab pengalaman kita berjalan terus dan segala yang kita anggap benar dalam pengembangan itu senantiasa berubah, karena di dalam prakteknya apa yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Oleh karena itu, tidak ada kebenaran mutlak, yang ada adalah kebenaran-kebenaran (artinya, dalam bentuk jamak) yaitu apa yang benar dalam pengalaman-pengalaman khusus yang setiap kali dapat diubah oleh poengalaman berikutnya.
Nilai pengalaman dalam pragmatisme tergantung pada akibatnya, kepada kerjanya artinya tergantung keberhasilan dari perbuatan yang disiapkan oleh pertimbangan itu. Pertimbangan itu benar jikalau bermanfaat bagi pelakunya, jika memperkaya hidup serta kemungkinan-kemungkinan hidup.
Di dalam bukunya, The Varietes of Religious Experience atau keanekaragaman pengalaman keagamaan, James mengemukakan bahwa gejala keagamaan itu berasal dari kebutuhan-kebutuhan perorangan yang tidak disadari, yang mengungkapkan diri di dalam kesadaran dengan cara yang berlainan. Barangkali di dalam bawah sadar kita, kita menjumpai suatu relitas cosmis yang lebih tinggi tetapi hanya sebuah kemungkinan saja. Sebab tiada sesuatu yang dapat meneguhkan hal itu secara mutlak. Bagi orang perorangan, kepercayaan terhadap suatu realitas cosmis yang lebih tinggi merupakan nilai subjektif yang relatif, sepanjang kepercayaan itu memberikan kepercayaan penghiburan rohani, penguatan keberanian hidup, perasaan damain keamanan dan kasih kepada sesama dan lain-lain.
James membawakan pragmatisme. Isme ini diturunkan kepada Dewey yang mempraktekkannya dalam pendidikan. Pendidikan menghasilkan orang Amerika sekarang. Dengan kata lain, orang yang paling bertanggung jawab terhadap generasi Amerika sekarang adalah William James dan John Dewey. Apa yang paling merusak dari filsafat mereka itu? Satu saja yang kita sebut: Pandangan bahwa tidak ada hukum moral umum, tidak ada kebenaran umum, semua kebenaran belum final. Ini berakibat subyektivisme, individualisme, dan dua ini saja sudah cukup untuk mengguncangkan kehidupan, mengancam kemanusiaan, bahkan manusianya itu sendiri.
2. John Dewey (1859-1952 M)
Sekalipun Dewey bekerja terlepas dari William James, namun menghasilkan pemikiran yang menampakkan persamaan dengan gagasan James. Dewey adalah seorang yang pragmatis. Menurutnya, filsafat bertujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia serta lingkungannya atau mengatur kehidupan manusia serta aktifitasnnya untuk memenuhi kebutuhan manusiawi.
Sebagai pengikut pragmatisme, John Dewey menyatakan bahwa tugas filsafat adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata. Filsafat tidak boleh larut dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang kurang praktis, tidak ada faedahnya.
Dewey lebih suka menyebut sistemnya dengan istilah instrumentalisme. Pengalaman adalah salah satu kunci dalam filsafat instrumentalisme. Oleh karena itu filsafat harus berpijak pada pengalaman dan mengolahnya secara aktif-kritis. Dengan demikian, filsafat akan dapat menyusun sistem norma-norma dan nilai-nilai.
Instrumentalisme ialah suatu usaha untuk menyusun suatu teori yang logis dan tepat dari konsep-konsep, pertimbangan-pertimbangan, penyimpulan-penyimpulan dalam bentuknya yang bermacam-macam itu dengan cara utama menyelidiki bagaimana pikiran-pikiran itu dengan cara utama menyelidiki bagaimana pikiran-pikiran itu berfungsi dala penemuan-penemuan yang berdasarkan pengalaman yang mengenai konsekuensi-konsekuensi di masa depan.
Menurut Dewey, berpikir adalah mentransformasikan suatu situasi yang kacau – balau, situasi yang tidak menguntungkan, kegelapan, ke situasi yang lebih terang, tenang, dan harmonis. Jadi, pemikiran hanyalah sebuah alat untuk mengatasi suatu masalah atau menangani krisis dalam situasi konkret. Tugas dari pemikiran adalah menemukan alat atau sarana dalam lingkup konkret demi tujuan praktis yang dibutuhkan dalam kehidupan.
Dewey tertarik pada penerapan filsafat atas persoalan-persoalan sosial yang semakin nyata, rumit dan membingungkan yang dihadapi di Amerika pada waktu itu. Berhadapan dengan persoalan-persoalan ini, metode instrumentalisme menjadi efektif untuk digunakan karena metodenya memperlakukan ide-ide untuk menyelesaikan persoalan-persoalan praktis. Penekanan Dewey dalam metode instrumentalismenya adalah pada praktek, yakni pada keterlibatan aktual atau partisipasi aktif dimana kita belajar dengan mengerjakannya (learning by doing).
Oleh karena itu dengan teori yang demikian, ajaran Dewey disebut instrumentalisme yang baginya merupakan teori mengenai bentuk konsepsi penalaran umum yang merupakan kekhasan dalam pemikiran untuk memperkuat konsekuensi selanjutnya. Dewey sendiri mengartikan instrumentalisme sebagai usaha menyusun teori logis mengenai konsep-konsep, keputusan-keputusan dan kesimpulan-kesimpulan dalam penentuan eksperimental bagi kensekuensi-konsekuensi selanjutnya dalam praksis.
Dewey merumuskan esensi instrumentalisme pragmatis sebagai to conceive of both knowledge and practice as means of making good excellencies of all kind secure in experienced existence. Demikianlah, Dewey memberikan istilah pragmatisme dengan instrumentalism, operationalism, functionalism, dan experimentalism. Disebut demikian karena menurut aliran ini bahwa ide, gagasan, pikiran, dan inteligent merupakan alat atau instrumen untuk mengatasi kesulitan atau persoalan yang dihadapi manusia.
Pemahaman terhadap Dewey menjadi jelas jika menelusuri pandangannya mengenai pemikiran, pengalaman, dan pengetahuan. John Dewey dianggap seorang empiris karena baginya, pemikiran harus berpijak pada penggalaman (experience), dan bergerak kembali menuju ke pengalaman-pengalaman. Jadi, baginya titik tuju dan titik tolak dari pemikiran adalah pengalaman. Pada mulanya pemikiran bangkit karena adanya pengalaman (contoh; yang menyulitkan) dan pada akhirnya pemikiran membuat pemecahan yang akan mempunyai akibat merubah situasi, yang berarti juga pengalaman itu selanjutnya( yang akan datang).
Konsep kunci filsafat Dewey adalah pengalaman. Filsafat harus berpangkal pada pengalaman-pengalaman dan menyelidiki serta mengolah pengalaman itu secara aktif kritis. Karena itu, bagi Dewey seorang filsuf harus peka akan pentingnya pengalaman. Pada awalnya Dewey tertarik pada teori pengalaman yang dikembangkan oleh kaum Hegelian, tetapi kemudian ia mengembangkan suatu teori semacam neo-empirisme. Ada 3 hal pemikiran pokok mengenai pengalaman yang menurut Dewey diabaikan oleh para pemikir idealis, yakni:
  1. Pengabaian terhadap pengalaman bertindak.
  2. Penolakannya terhadap gagasan mengenai suatu hal yang merupakan kesatuan yang menyeluruh.
  3. Anggapannya bahwa kaum Hegelian dan idealis mengenai kodrat alam yang terlalu mengeneralisasikan sehingga menuntun pada proyeksi kosmis yang keliru.
Dengan meninggalkan pemikiran Hegelian ini, Dewey kemudian beranggapan bahwa pengalaman merupakan interaksi suatu organisme dan lingkungan, alam dan masyarakatnya. Menurutnya pengalaman merupakan pertemuan non-reflektif dengan suatu situasi seperti halnya makan donat, menikmati pemandangan, dan bercanda dengan teman.
Pengalaman sangat erat kaitannya dengan proses berpikir. Karena proses berpikir pada akhirnya tertuju pada pengalaman tersebut. Gerak pemikiran manusia dibangkitkan dengan suatu keadaan yang menimbulkan permasalahan di dunia sekitar kita dan gerak itu berakhir dalam berbagai perubahan. Pengalaman langsung bukanlah soal pengetahuan yang mengandung di dalamnya pemisahan antara subjek dan objek, pemisahan antara pelaku dan sasarannya. Dalam pengalaman keduanya dipersatukan. Kalau terjadi pemisahan antara pelaku dan objek, hal itu bukan merupakan pengalaman, melainkan suatu hasil refleksi atas pengalaman tadi.
Menurut Dewey ada 2 hal yang mempengaruhi lahirnya konsep baru mengenai pengalaman dan relasinya dalam pengalaman dan penalaran. Pertama, perubahan mengenai kodrat pengalaman itu sendiri. Kedua, perkembangan suatu bidang psikologi yang berlandaskan pada biologi. Perkembangan biologi membuat segala sesuatu menjadi berubah. Prinsipnya kalau ada kehidupan pastilah ada tingkah laku dan tindakan. Namun penyesuaian diri itu bukanlah suatu hal yang pasif tetapi aktif, sebab organisme bertindak terhadap lingkungan tersebut dengan memberikan perubahan terhadapnya sesuai dengan usahanya dalam mempertahankan kehidupan dan menghadapi lingkungannya. Dalam hal ini pengalaman merupakan proses timbal balik dan saling mempengaruhi antara makhluk hidup dan lingkungannya dalam rangka menuju ke kehidupan yang lebih baik. Bagi Dewey pengalaman adalah lingkungan yang merangsang organisme untuk memodifikasi lingkungan itu dalam hubungan timbal balik.
Pemikiran John Dewey Tentang Pendidikan
1. Pengalaman dan Pertumbuhan
Pemikiran John Dewey banyak dipengaruhi oleh teori evolusi Charles Darwin (1809-1882) yang mengajarkan bahwa hidup di dunia ini merupakan suatu proses, dimulai dari tingkatan terendah dan berkembang maju dan meningkat. Hidup tidak statis, melainkan bersifat dinamis. All is in the making, semuanya dalam perkembangan. Pandangan Dewey mencerminkan teori evolusi dan kepercayaannya pada kapasitas manusia dalam kemajuan moral dan lingkungan masyarakat, khusunya melalui pendidikan.
Menurut Dewey, dunia ini penciptaannya belum selesai. Segala sesuatu berubah, tumbuh, berkembang, tidak ada batas, tidak statis, dan tidak ada finalnya. Bahkan, hukum moral pun berubah, berkembang menjadi sempurna. Tidak ada batasan hukum moral dan tidak ada prinsip-prinsip abadi, baik tingkah laku maupun pengetahuan.
Pengalaman (experience) adalah salah satu kunci dalam filsafat instrumentalisme. Pengalaman merupakan keseluruhan aktivitas manusia yang mencakup segala proses yang saling mempengaruhi antara organisme yang hidup dalam lingkungan sosial dan fisik. Filsafat instrumentalisme Dewey dibangun berdasarkan asumsi bahwa pengetahuan berpangkal dari pengalaman-pengalaman dan bergerak kembali menuju pengalaman. Untuk menyusun kembali pengalaman-pengalaman tersebut diperlukan pendidikan yang merupakan transformasi yang terawasi dari keadaan tidak menentu ke arah keadaan tertentu. Pandangan Dewey mengenai pendidikan tumbuh bersamaan dengan kerjanya di laboratorium sekolah untuk anak-anak di University of Chicago. Di lembaga ini, Dewey mencoba untuk mengupayakan sekolah sebagai miniatur komunitas yang menggunakan pengalaman-pengalaman sebagai pijakan. Dengan model tersebut, siswa dapat melakukan sesuatu secara bersama-sama dan belajar untuk memantapkan kemampuannya dan keahliannya.
Sebagai tokoh pragmatisme, Dewey memberikan kebenaran berdasarkan manfaatnya dalam kehidupan praktis, baik secara individual maupun kolektif. Oleh karenanya, ia berpendapat bahwa tugas filsafat memberikan garis-garis arahan bagi perbuatan. Filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran metafisik yang sama sekali tidak berfaedah. Filsafat harus berpijak pada pengalaman dan menyelidiki serta mengolah pengalaman tersebut secara aktif dan kritis. Dengan cara demikian, filsafat menurut Dewey dapat menyusun norma-norma dan nilai-nilai.
2. Tujuan Pendidikan
Dalam menghadapi industrialisasi Eropa dan Amerika, Dewey berpendirian bahwa sistem pendidikan sekolah harus diubah. Sains, menurutnya, tidak mesti diperoleh dari buku-buku, melainkan harus diberikan kepada siswa melalui praktek dan tugas-tugas yang berguna. Belajar harus lebih banyak difokuskan melalui tindakan daripada melalui buku. Dewey percaya terhadap adanya pembagian yang tepat antara teori dan praktek. Hal ini membuat Dewey demikian lekat dengan atribut learning by doing. Yang dimaksud di sini bukan berarti ia menyeru anti intelektual, tetapi untuk mengambil kelebihan fakta bahwa manusia harus aktif, penuh minat dan siap mengadakan eksplorasi.
Dalam masyarakat industri, sekolah harus merupakan miniatur lokakarya dan miniatur komunitas. Belajar haruslah dititiktekankan pada praktek dan trial and error. Akhirnya, pendidikan harus disusun kembali bukan hanya sebagai persiapan menuju kedewasaan, tetapi pendidikan sebagai kelanjutan pertumbuhan pikiran dan kelanjutan penerang hidup. Sekolah hanya dapat memberikan kita alat pertumbuhan mental, sedangkan pendidikan yang sebenarnya adalah saat kita telah meninggalkan bangku sekolah, dan tidak ada alasan mengapa pendidikan harus berhenti sebelum kematian menjemput.
Tujuan pendidikan adalah efisiensi sosial dengan cara memberikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan demi pemenuhan kepentingan dan kesejahteraan bersama secara bebas dan maksimal. Tata susunan masyarakat yang dapat menampung individu yang memiliki efisiensi di atas adalah sistem demokrasi yang didasarkan atas kebebasan, asas saling menghormati kepentingan bersama, dan asas ini merupakan sarana kontrol sosial. Mengenai konsep demokrasi dalam pendidikan, Dewey berpendapat bahwa dalam proses belajar siswa harus diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat. Siswa harus aktif dan tidak hanya menerima pengetahuan yang diberikan oleh guru. Begitu pula, guru harus menciptakan suasana agar siswa senantiasa merasa haus akan pengetahuan.
Karena pendidikan merupakan proses masyarakat dan banyak terdapat macam masyarakat, maka suatu kriteria untuk kritik dan pembangunan pendidikan mengandung cita-cita utama dan istimewa. Masyarakat yang demikian harus memiliki semacam pendidikan yang memberikan interes perorangan kepada individu dalam hubungan kemasyarakatan dan mempunyai pemikiran yang menjamin perubahan-perubahan sosial.
Dasar demokrasi adalah kepercayaan dalam kapasitasnya sebagai manusia. Yakni, kepercayaan dalam kecerdasan manusia dan dalam kekuatan kelompok serta pengalaman bekerja sama. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa semua dapat menumbuhkan dan membangkitkan kemajuan pengetahuan dan kebijaksanaan yang dibutuhkan dalam kegiatan bersama.
Ide kebebasan dalam demokrasi bukan berarti hak bagi individu untuk berbuat sekehendak hatinya. Dasar demokrasi adalah kebebasan pilihan dalam perbuatan (serta pengalaman) yang sangat penting untuk menghasilkan kemerdekaan inteligent. Bentuk-bentuk kebebasan adalah kebebasan dalam berkepercayaan, mengekspresikan pendapat, dan lain-lain. Kebebasan tersebut harus dijamin, sebab tanpa kebebasan setiap individu tidak dapat berkembang.
Filsafat tidak dapat dipisahkan dari pendidikan, karena filsafat pendidikan merupakan rumusan secara jelas dan tegas membahas problema kehidupan mental dan moral dalam kaitannya dengan menghadapi tantangan dan kesulitan yang timbul dalam realitas sosial dewasa ini. Problema tersebut jelas memerlukan pemecahan sebagai solusinya. Pikiran dapat dipandang sebagai instrumen yang dapat menyelesaikan problema dan kesulitan tersebut.
Di dalam filsafat John Dewey disebutkan adanya experimental continum atau rangkaian kesatuan pengalaman, yaitu proses pendidikan yang semula dari pengalaman menuju ide tentang kebiasaan (habit) dan diri (self) kepada hubungan antara pengetahuan dan kesadaran, dan kembali lagi ke pendidikan sebagai proses sosial. Kesatuan rangkaian pengalaman tersebut memiliki dua aspek penting untuk pendidikan, yaitu hubungan kelanjutan individu dan masyarakat serta hubungan kelanjutan pikiran dan benda.
Kurang lebih ada tiga sumbangan pemikiran Dewey dalam pendidikan: 
Dewey melahirkan konsep baru tentang kesosialan pendidikan. Disini dijelaskan bahwa pendidikan memiliki fungsi sosial yang dinyatakan oleh Plato dalam bukunya, Republic, dan selanjutnya oleh banyak penulis disebutkan sebagai teori pendidikan yang umum. Tetapi Dewey lebih dari itu, bahwa pendidikan adalah instrumen potensial tidak hanya sekedar untuk konservasi masyarakat, melainkan juga untuk pembaharuannya. Ini ternyata menjadi doktrin yang akhirnya diakui sebagai demokrasi, dimana Dewey memperoleh kredit yang tinggi dalam hal ini. Selanjutnya hubungan yang erat antara pendidikan dan masyarakat; bahwa pendidikan harus terefleksikan dalam menajemennya dan dalam kehidupan di sekolah terefleksi prinsip-prinsip dan gagasan-gagasan yang memotivasi masyarakat. Akhirnya proses pembelajaran adalah lebih tepat disuasanakan sebagai aktivitas sosial, sehingga iklim kerja sama dan timbal balik menggeser suasana kompetensi dan keterasingan dalam memperoleh pengetahuan. 
Dewey memberikan bentuk baru terhadap konsep keberpusatan pada anak. Dalam hal ini pemikiran Dewey berdasarkan pada landasan-landasan filosofis, sehingga lebih kuat jika dibandingkan dengan para pendahulunya. Demikian pula pada sebuah penelitiannya tentang anak menjadi lebih meyakinkan dengan dukungan pendekatan keilmuan dan tidak terkesan sentimental. 
Proyek dan problem solving yang mekar dari sentral konsep Dewey tentang pengalaman telah diterima sebagai bagian dalam tekhnik pembelajaran di kelas. Meskipun bukan sebagai pencetus, namun Dewey membangunnya sebagai alat pembelajaran yang lebih sempurna dengan memberi kerangka teoritik dan berbasis eksperimen. Dengan demikian, Deweylah yang telah membawa orang menjadi tetarik untuk menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari di sekolah, termasuk digalakannya kegiatan berlatih menggunakan inteligensi dalam rangka penemuan. 
Dengan ketiga penekanan dalam pendidikan tersebut, telah memberikan udara segar terhadap konsep pendidikan sebagai suatu proses sosial terkait erat dengan kehidupan masyarakat secara luas di luar sekolah; dan sebaliknya hal ini juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan kehidupan mesyarakat di sekolah, dan hubungan antara guru dan pengajaran.

Dari penjelasan di atas mengenai pendapat Dewey tentang pragmatisme yang dikenal juga dengan istilah instrumentalisme, dapat diberikan kritik terhadap pemikiran Dewey tersebut, yaitu:

1. Instrumentalisme
Dewey berpendapat bahwa berpikir sebagai alat untuk memecahkan masalah. Dengan demikian maka ia mengesampingkan penelitian ilmu murni yang secara langsung berkaitan dengan kehidupan konkret.

2. Eksperimentalisme
Kita menguji kebenaran suatu peoposisi dengan melakukan percobaan. Dengan demikian maka tidak ada kebenaran yang pasti dan dapat dijadikan pedoman dalam bertindak. Misalnya: suatu UU terus menerus diuji. Lantas, kapan masyarakat bisa menjadikan UU itu sebagai pedoman untuk bertindak? Pendek kata dalam hidup bermasyarakat, kita memerlukan kebenaran yang ditetapkan, bukan terus-menerus diuji.

3. Pendidikan
Dewey menekankan pendidikan formal berdasarkan minat anak-anak dan pelajaran yang diberikan hendaknya disesuaikan dengan minat anak-anak. Dengan pandangan yang demikian maka pelajaran yang berlangsung di sekolah tidak difokuskan karena minat setiap anak itu berbeda-beda. Demikian juga dengan pelajaran-pelajaran pokok yang harus diajarkan kepada anak-anak tidak dapat diterapkan dengan baik.

4. Moral
Penolakan dewey terhadap gagasan adanya final end berdasarkan finalis kodrat manusia dan sebagai gantinya ia menekankan peran ends-in-view, membuat teorinya jatuh pada masalah ”infinite regress” (tidak adanya pandangan yang secara logis memberi pembenaran akhir bagi proses penalaran. Karena adanya final end yang berlaku universal ditolak dan yang ada adalah serangkaian ends-in-view maka pembenaran terhadap ends-in-view tidak pernah dilakukan secara defenitif. Akibatnya tidak ada tolak ukur yang tegas untuk menilai tindakan itu baik atau tidak.

2.2 Aliran Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
2.2.1 Pengertian Aliran Filsafat Eksistensialisme
Eksistensialisme adalah salah satu pendatang barU dalam dunia filsafat. Eksistensialisme hampir sepenuhnya merupakan produk abad XX. Kata "eksistensi" menurut Save M. Dagun, berasal dari bahasa Latin yaitu "Existere ", kata "Ex" yang berarti keluar dan kata "Sitere" yang berarti membuat berdiri. Jadi eksistensialisme berarti apa yang ada, apa yang memiliki aktualitas, apa saja yang dialami. Lebih lanjut Titus menjelaskan bahwa eksistensialisme adalah aliran filsafat yang melukiskan dan mendiagnosa kedudukan manusia yang sulit. Titik sentralnya adalah manusia Menem Eksistensialise, hakekat manusia terletak dalam eksistensi dan aktivitasnya. Menurut Heideggard eksistensi barasal dari kata "Das wesen das desains liegh in seiner Existentz" kata da-sein tersusun dari dad an sain. Kata "da" yang berarti disana, dan kata "sein" berarti berada. Yang berarti manusia sadar dengan tempatnya. Sedangkan menurut Parkay aliran eksistensialisme terbagi menjadi dua yaitu bersifat theistik (bertuhan) dan atheis. Dalam aliran eksistensialisme ada dua jenis filsafat trad;sional yaitu filsafat spekulatif (yang menyatakan bahwa pengalaman tidak banyak berpengaruh pada individu, dan filsafat skeptif (yang menyatakan bahwa semua pengalaman adalah palsu tidak ada sesuatu yang dapat kita kenal dari realita, menurut mereka metafisika adalah sementara). Dari pemyataan diatas eksistensialisme merupakan yang secara khusus mendeskripsikan eksistensi dan pengalaman manusia dengan metodologi fenomenologi (cara manusia berada).

Eksistensialisme juga merupakan suatu reaksi terhadap materialisme dan idealisme. Pendapat materialisme terhadap manusia adalah manusia merupakan benda dunia, manusia adalah materi, dan manusia adalah sesuatu yang ada tanpa menjadi subyek. Sedangkan pandangan manusia menurut idealisme manusia hanya sebagai subyek atau hanya sebagai suatu kesadaran. Eksistensialisme beryakinan bahwa paparan manusia harus dipangkalkan eksistensi, sehingga aliran eksistensialisme penuh dengan lukisan-lukisan yang kongrit. Menurut Callahan filsafat pendidikan Eksistensialisme berpendapat bahwa kenyataan atau kebenaran adalah eksistensi atau adanya individu manusia itu sendiri. Adanya manusia di dunia ini tidak punya tujuan dan kehidupan menjadi terserap karena ada manusia. Manusia adalah bebas. Akan menjadi apa orang itu ditentukan oleh keputusan dan komitmennya sendiri. Jadi dari uraian diatas eksistensialisme adalah aliran yang berpendirian (pada umumnya) bahwa filsafat harus bertitik tolak pada manusia yang kongrit, yaitu manusia sebagai existensi itu mendahului essensi. Eksistensialisme adalah suatu penolakan terhadap suatu pemikiran abstrak, tidak logic atau tidak ilmiyah. Eksistensialisme menolak bentuk kernutlakan rasional. 

Paham eksistensisialisme bukan hanya satu, melainkan terdiri dari berbagai pandangan yang berbeda-beda. Namun demikian, pandangan- pandangan tersebut memiliki beberapa persamaan sehingga mereka dapat dikatakan filsafat eksistensialisme. Persamaan-persamaan tersebut dikemukakan oleh Harun Hadiwijono sebagai berikut:

a. Motif pokok ialah apa yang disebut eksistensi, yaitu cara khas manusia berada.
b. Bereksistensi harus diartikan secara dinamis.
c. Dalam filsafat eksistensialisme manusia dipandang sebagai terbuka.
d. Filsafat eksistensialisme memberi tekanan kepada pengalaman yang kongret, pengalaman yang eksistensial.

Berbicara tentang nilai, eksistensialisme menekankan kebebasan terhadap tindakan. Tetapi seseorang harus mampu menciptakan tujuannya. Apabila seseorang menerima tujuan kelompok, ia harus menjadikan tujuan tersebut menjadi miliknya. Dengan ketentuan bahwa setiap situasi tujuan tersebut merupakan tujuan yang harus dicapai. Jadi tujuan itu diperoleh dalam situasi.

Dari sekian banyak pengertian diatas garis besar aliran eksistensialisme ini berkeyakinan bahwa segala sesuatu dimulai dari pengalaman pribadi, kenyakinan yang tumbuh dari dirinya dan kemampuan serta keluasaan jalan untuk mencapai keinginan hidupnya. Titik sentralnya manusia itu sendiri.

2.2.2 Ciri-ciri Utama Aliran Filsafat Eksistensialisme.
Dalam aliran filsafat Eksistensialisme mempunyai ciri-ciri utama antara lain sebagai berikut:
  1. Penolakan untuk dimasukkan dalam aliran filsafat tertentu.
  2. Tidak mengakui adekuasi sistem filsafat dan ajaran keyakinan (agama).
  3. Sangat tidak puas dengan sistem filsafat tradisional yang bersifat dangkal, akademis dan jauh dari kehidupan.
Individualisme adalah pilar sentral dari eksistensialisme. Kaum eksistensialis tidak mengakui sesuatu itu sebagai bagian dari tujuan alam rays ini. Hanya manusia, yang individual yang mempunyai tujuan. 

2.2.3 Sejarah Aliran Filsafat Eksistensialisme.
Istilah Eksistensialisme pertarna kali dikemukakan oleh ahli filsafat Jerman yaitu Martin Heidegger pada tahun 1889-1976. Eksistensialisme adalah merupakan filsafat dan akar metodologinya berasal dari metode fenomologi yang dikembangkan oleh Hussel pada tahun 1859-1938. Munculnya eksistensialisme berawal dari filsafat Kiekegaard dan Neitchze. Kiekegaard yang merupakan tokoh pembuka tabir gerakan eksistensialisme yang diwarnai dengan corak pemikirannya dengan teologi. Nuansa teologinya muncul ketika ia mengatakan bahwa setiap pribadi membawa kepenuhan eksistensi manusiawinya. Kiekegaard filsafat Jerman dalam filsafatnya untuk menjawab pertanyaan "bagaimana aku menjadi seorang individu? apa itu kehidupan manusia?, apa tujuan dari kegiatan manusia? Bagaiman kita menyatakan keberadapan manusia? Pokok pemikirannya dicurahkan kepada pemecahan yang kongret terhadap persoalan arti "berada" mengenai manusia. Hal ini terjadi karena pada saat itu terjadi krisis eksistensial (manusia melupakan individualisnya). Sedangkan menurut Neitchze filusuf Jerman tujuan filsafatnya adalah untuk menjawap pertanyaan "bagaimana caranya menjadi manusia yang unggul" jawabannya manusia bisa menjadi unggul jika mempunyai keberanian untuk merealisasikan diri secara jujur dan berani. Tokoh-tokoh lainnya yang terkenal diantaranya Martin Buber, Martin Heideger, Jean Paul Satre, Karl Jasper, Gabril Marsel, Paul Tillich.

2.2.4 Prinsip-prinsip Aliran Filsafat Eksistensiatisme.
Prinsip-prinsip Aliran Filsafat Eksistensialisme adalah sebagai berikut:
  • Aliran ini tidak mementingkan metafisika (Tuhan).
  • Kebenaran lebih bersifat eksistensial daripada proporsional atau faktual.
  • Aliran ini memandang individu dalam keadaan tunggal selama hidupnya dan individu hanya mengenai dirinya dalam interaksi dirinya sendiri dalam kehidupan.
  • Jiwa aliran ini mengutamakan manusia, memperkembangkan eksistensi pribadinya atas alasan bahwa manusia akan mati. 
2.2.5 Tokoh-tokoh Aliran Filsafat Eksistensialisme.
a. Gabriel Marcel (1889 – 1978)
Bagi Marcel, eksistensi adalah lawan objektivitas dan tidak pernah dapat dijadikan objektivitas. Yang khas bagi eksistensi adalah saya (sebagai subjek) tidak menyadari situasi saya itu. Artinya, saya tidak menginsyafi apa artinya eksistensi saya itu dalam dunia ini.

b. Jean-Paul Sartre (1905-1980)
Titik tolak filsafat tidak bisa lain, kecuali cogito (kesadaran yang saya miliki tentang diri saya sendiri). Hal ini dirumuskan oleh Sartre demikian: Kesadaran adalah kesadaran diri, tetapi kesadaran akan diri ini tidak sama dengan pengalaman tentang dirinya. Cogito bukanlah pengenalan diri melainkan kehadiran kepada dirinya secara non-tematis. Jadi ada perbedaan antara kesadaran tematis (kesadaran akan sesuatu) dan kesadaran non-tematis (kesadaran akan dirinya). Kesadaran akan dirinya membonceng pada kesadaran akan dunia. Jadi kesadaran atau cogito ini menunjuk pada suatu relasi Ada. Kesadaran adalah kehadirian (pada) dirinya. Kehadiran (pada) dirinya ini merupakan syarat yang perlu dan mencukupi untuk kesadaran. Kita tidak perlu membutuhkan suatu Subyek Transendental atau Aku Absolut sebagaimana diajarkan idealisme. 

c. Kiekegaard.
Menurut Kiekegaard Eksistensialisme adalah suatu penolakan terhadap suatu pemikiran abstrak, tidak logis atau tidak ilmiah. Eksistensialisme menolak segala bentuk kemutlakan irasioanl. Dengan demikian aliran ini hendak memadukan hidun yang dimiliki dengan pengalaman, dan situasi sejarah yang ia alami, dan tidak mau terikat oleh hal-hal yang sifatnya abstrak dan spekulatif. Atas pandangan sikap di kalangan kaum eksistensialisme atau penganut aliran ini seringkali nampak aneh atau lepas dari norma-norma umum. Kebebasan untuk freedom do adalah lebih banyak menjadi ukuran dalam sikap perbuatannya. 

2.2.6 Implementasi Aliran Filsafat Eksistensialisme terhadap Pendidikan
Pandangan tentang pendidikan, disimpulkan oleh Van Cleve Morris dalam Existensialisme and Education, bahwa "Eksistensialisme tidak menghendaki adanya aturan-aturan pendidikan dalam segala bentuk" oleh sebab itu eksistensialisme dalam hat ini menolak bentuk-bentuk pendidikan sebagaimana yang ada sekarang. 

Menurut eksistensialisme, pengetahuan kita tergantung kepada interprestasi tentang realitas. Pengetahuan yang diberikan di sekolah bukan merupakan alat untuk memperoleh pekedaan atau karier anak, melainkan pengetahuan itu dapat dijadikan alat perkembangan dan alat pemenuhan diri ini merupakan teori pengetahuan dan kebenaran eksistensialisme yang dikemukakan oleh Kneller. 

Implementasi aliran eksistensialisme tehadap pendidikan antara lain sebagai berikut:
· Aliran ini mengutamakan perorangan/ individu.
· Memandang individu dalam keadaan tunggal selama hidupnya.
· Aliran filsafat ini percaya akan kemampuan ilmu untuk memecahkan semua persoalannya.
· Aliran ini memabatasi murid-murinya dengan buku-buku yang ditetapkan saja. 
· Aliran ini tidak menghendaki adanya aturan-aturan pendidikan dalam segala bentuk. 

Sedangkan pandangan dalam filsafat islam antara lain sebagai berikut:
  • Dalam bidang pendidikan eksistensialisme menekankan agar masing individu diberi kebebasan mengembangkan potensinya secara maksimal tanpa adabatas (mutlak).
  • Prinsip kebebasan islam justru mengantarkan manusia dekat dengan tuhan.
  • Manusia tidak meminta tolong pada dirinya sendiri saja tetapi juga dengan kekuasaan Allah.
  • Kebebasan yang diberikan Islam pada manusia bukan kebebasan absolut, melainkan kebebasan yang tetap pada koridor illahi dan dipimpin oleh kebenan nilai-nilai agama.
  • Sebagai hamba Allah, manusia dituntut untuk selalu mengarahkan aktivitas kehidupannya pada pengabdian kepada Allah SWT dan sebagai kholifah Allah Fi AI-Ardh.
2.2.7 Konsep Aliran Flsafat Pendidikan Eksistensialisme Dan Implikasinya Terhadap Tujuan Dalam Pendidikan

Eksistensialisme menjadi tonggak penting perkembangan pendidikan. Manusia adalah subjek bagi kehidupan, maka tidak boleh direduksi menjadi sekrup dalam mesin ilmu pengetahuan dan teknologi. Eksistensialisme memberikan pencerahan bahwa pendidikan tidak semestinya membelenggu manusia. Menurut Fasli Jalal dan Dedi Supriadi bahwa hal yang ada kesejalanan dengan acuan filosofis strategi Pendidikan nasional bahwa pendidikan nasional perlu memiliki karakteristik yang (a) mampu mengembangkan kreativitas, kebudayaan dan peradaban; (b) mendukung dimenasi nilai keunggulan; (c) mengembangkan nilai-nilai demokrasi, kemanusiaan, keadilan dan keagaman; (d) mengembangkan secara berkelanjutan kinerja kreatif dan produktif yang koheren dengan ndai-niiai moral. Inti dari ajaran aliran filsafat ini adalah respek terhadap individu yang unik pada setiap orang. Eksistensi mendahului essensi kita masing-masing. Kaum eksistensi menolak filsafat-filsafat tradisional dan menolak eksistensi keberadaan ihwal metafisika, epistimologi, dan etika. Setiap individu menentukan untuk dirinya sendiri apa itu benar, salah, indah, jelek. Pendidikan seyogyanya menekankan refleksi personal yang mendalam terhadap komitmen dan pilihan sendiri. Manusia adalah essensi dirinya. Kaum eksistensialisme menganjurkan bahwa pendidikan sebagai cars membentuk manusia secara utuh, bukan hanya sebagai pembangun nalar. 

Menurut Power, Uyoh Sadulloh mengetriukakan implikasi pendidikan pada filsafat Ektensialisme terhadap tujuan Pendidikan adalah mendorong individu mengembangkan potensi untuk pemenuhan diri. Dalam referensi lain pandangan eksistensialisme tentang teori pendidikan yaitu tujuan pendidikan adalah siswa mengembangkan potensinya masing-masing untuk mencari jati dirinya. Selain itu juga filsafat eksistensi dalam Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan kesadaran individu, memberi kesempatan untuk bebas memilih etika, mendorong pengembangan pengetahuan diri sendiri, bertanggung jawab sendiri, dan mengembangkan komitmen diri. 

Dari uraian di atas saya menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri serta mengembangkan kemampuan peserta didik yang mencakup pengetahuan (kognitif) sikap, (efektif) keterampilan (skill) perilaku hasil tindakan, serta pengalaman exploratis (pengalaman lapangan). Sedangkan filsafat eksistensialisme merupakan suatu filsafat yang mendesripsikan bahwa Individualisme adalah pilar central dalam filsafat ini. Jadi implikasi pendidikan pada filsafat Ektensialisme terhadap tujuan Pendidikan adalah memberikan pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua bentuk kehidupan dalam hal ini setiap individu mempunyai eksistensi untuk dirinya supaya mengembangkan potensi dalam dirinya.

2.1 Aliran Filsafat Pendidikan Progresivisme
2.3.1 Pengertian Aliran Filsafat Progresivisme
Progresivisme bukan merupakan suatu bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Selama 20 tahunan merupakan suatu gerakan yang kuat di Amerika Serikat. Banyak guru yang ragu-ragu terhadap gerakan ini, karena guru ttelah mempelajari dan memahami filsafat Dewey, sebagai reaksi terhadap filsafat lainnya. Kaum progresif sendiri mengkritik filsafat Dewey. Perubahan masyarakat yang dilontarkan oleh Dewey adalah perubahan secara evolusi, sedangkan kaum progesif mengharapkan perubahan yang sangat cepat, agar lebih cepat mencapai tujuan. Aliran progesivisme didasarkan pada keyakinan bahwa pendidikan berpusat pada anak (chil centered) bukan hanya fokus pada guru atau kurikulum.

Gerakan progesif terkenal luas karena karena reaksinya terhadap formaline dan sekolah tradisional yang membosankan, yang menekankan disiplin keras belajar pasif, dan banyak hal-hal kecil yang tidak bermanfaat dalam pendidikan. Lebih jauh gerakan ini dikenal karena dengan imbauannya kepada guru-guru. “kami mengharapkan perubahan, serta kemajuan yang lebih cepat setelah perang dunia pertama”. Banyak guru yang mendukungnya, sebab gerakan pendidikan progesifisme merupakan semacam kendaraan mutahhir, untuk digelarkan.

Biasanya aliran progesifisme ini dihubungkan dengan pandangan hidup liberal “The liberal road to culture”. yang dimaksudkan dengan ini ialah pandangan hidup yang mempunyi sifat-sifat berikut: fleksibel (tidak kaku, tidak menolak perubahan, tidak terikat oleh suatu doktrin tertentu), corious (ingin mengetahui, ingin menyelidiki), toleran dan open-minded (mempunyai hati terbuka).

Ø Pendidikan Menurut Aliran Progesivisme.
Aliran progesifisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progesifisme dalam semua realita kehidupan, dengan tujuan agar manusia dapat bertahan menghadapi semua tantangan hidup. Aliran ini dinamai pula sebagai aliran intrumentalisme, karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelgensi manusia sebaga alat untuk hidup, untuk kesejahteraan, dan untuk mengembangkan kepribadian manusia. Selain itu, aliran ini juga dinamai ekprementalisme, karena aliran ini menyadari dan memraktikkan asas eksperimen untuk menguji kebenaran suatu teori. Selanjutnya aliran ini juga dinamai environmentalisme, karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan kepribadian.

Menurut aliran progesivisme, suatu keterangan itu baru dapat dikatakan benar jika sesuai dengan realitas, atau suatu keterangan akan dikatakan benar kalau sesuai dengan kenyataan. Dengan pandangan yang demikian itu, aliran progesifisme tercatat sebagai pelopor yang membawa kemajuan, dalam bidang kehidupan maupun dalam bidang ilmu pengetahuan, karena setiap ilmu yang dikembangkan oleh aliran ini selalu dikaitkan manfaatnya untuk kemajuan manusia. Aliran ini mencoba mengembangkan ilmu biologi (ilmu hayat), dan ilmu ini manusia diharapkan dapat mengetahui semua masalah kehidupan. Mereka juga mengembangkan antropologi sebagai alat untuk mendapatkan pengalaman hidup, penciptaan budaya dan mencapai hal-hal baru. Selanjutnya, mereka mengembangkan psikologi, dan dengan ilmu inilah manusia akan berfikir tentang dirinya sendiri, lingkungan, pengalaman, sifat-sifat alam, serta dapat menguasai, dan mengatur alam. Dengan berbagai kemampuan yang dicapai tersebut maka manusia akan mencapai kemajuan.

Ø Strategi Pogesif.
Filsafat progesif berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar dimasa mendatang. Karenanya, cara terbaik mempersiapkan para siswa untuk suatu masa depan yang tidak diketahui adalah membekali mereka mengatasi tantangan-tantangan baru dalam kehidupan untuk menemukan kebenaran-kebenaran yang relevan pada saat ini. Melalui analisis diri dan refleksi yang berkelanjutan, individu dapat mengientifikasi nilai-nilai yang tepat dalam waktu yang dekat.

Orang-orang progesif merasa bahwa kehidupan itu berkembang dalam suatu arah positif dan bahwa umat manusia, muda maupu tua, baik dan dapat dipercaya untuk bertindak dalam minat-minat terbaik mereka sendiri. Berkenaan dengan ini, para pendidik (ahli pendidikan) yang memiliki suatu orientasi progesif memberi kepada siswa sejumlah kebebasan dalam menentukan pengalaman-pengalaman sekolah mereka. Sekalipun demikian, pendidikan progesif tidak berarti bahwa para guru tidak memberi struktur atau para siswa bebas melaksanakan apapun yang mereka inginkan. Guru-guru progesif menilai dengan posisi dimana keberadaaan seorang siswa dan, melalui interaksi keseharian di kelas, mengarahkan siswa untuk melihat bahwa mata pelajaran yang akan dipelajari dapat meningkatkan kehidupan mereka.

Ø Ciri- ciri.
Aliran ini mempunyai konsep yang mempercayai manusia sebagai subyek yang memiliki kemampuan dalam menghadapi dunia dan lingkungan hidupnya, mempunyai kemampuan untuk mengatasi dan memecahkan masalah yang akan mengancam manusia itu sendiri. Pendidikan dianggap mampu mengubah dan menyelamatkan manusia demi masa depan. Tujuan pendidikan selalu diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus dan bersifat progresif. Sedangkan sifat negatifnya adalah aliran ini kurang menyetujui adanya pendidikan yang bercorak otoritas dan absolute dalam segala bentuk seperti terdapat dalam agama, moral, politik, dan ilmu pengetahuan.

2.3.2 Tokoh-Tokoh Filsafat Progesivisme.
· William James (11 Januari 1842 - 26 Agustus. 1910).
Ia lahir di New York pada tanggal 11 januari 1842 dan meninggal pada tanggal 26 Agustus 1910 di Choruroa, New Hemshire. Selain sebagai seorang psikolog, ia juga sebagai filosof Amerika yang sangat terkenal. Paham, ajaran, dan kepribadiannya sangat berpengaruh di berbagai negara Eropa dan Amerika, selain sebagai penulis yang sangat brilian, dosen, dan penceramah dibidang filsafat, ia juga dikenal sebagai pendiri aliran pragmatisme. James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksitensi organik, harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam.

James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksistensi organik, barns mempunyai fungsi biologic dan nilai kelanjutan hidup. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis, dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku.

· John Dewey (1859 - 1952).
Ia lahir pada tanggal 20 Oktober 1859 di Burlington, Vermon, dan meninggal pada tanggal 1 Januari 1952 di New York. Ia juga tercatat sebagai salah seorang pendiri filsafat pragmatisme. Ide filsafatnya yang utama berkisar pada problema pendidikan yang konkret, baik teorinmaupun praktik. Reputasi internasionalnya terletak pada sumbangan pemikirannya dalam bidang filsafatpendidikan progesifisme di Amerika. Dewey juga tidak hanya berpengrauh di kalangan ahli filsafat profesional, tetapi juga karena perkembangan idenya yang fundamental dalam bidang ekonomi, hukum, antropologi, teori politik, dan ilmu jiwa. selain itu, ia juga tercatat sebagai juru bicara tentang cara-cara kehidupan demokratis yang sangat terkenal di Amerika Serikat.

Teori Dewey tentang sekolah adalah "Progressivism" yang lebih menekakan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. Maka muncullah "Child Centered Curiculum", dan "Child Centered School". Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas.

· Hans Vaihinger (1852-1933).
Hans Vaihinger berpendapat bahwa tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Persesuaian dengan obyeknya tidak mungkin dibuktikan; satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya (dalam bahasa Yunani Pragma) untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata; jika pengertian itu berguna. untuk menguasai dunia, bolehlah dianggap benar, asal orang tahu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja. 

2.3.3 Implikasi Aliran Progesivisme Terhadap Pendidik Dalam Pendidikan
Menurut progesivisme proses pendidikan mempunyai dua segi, yaitu: psikologis dan sosiologis. Dari segi psikologis, pendidik harus dapat mengetahui tenaga-tenaga atau daya-daya yang ada pada anak didik yang akan dikembangkan. Dari segi sosiologis, pendidik harus mengetahui ke mana tenaga-tenaga itu harus dibimbingnya.

Guru dalam melakukan tugasnya dalam praktek pendidikan berpusat pada anak, mempunyai peranan-peranan sebagai berikut: 
  • Fasilitator, atau orang yang menyediakan dirinya untuk memberikan jalan bagi kelancaran proses belajar sendiri siswa.
  • Motifator, atau orang yang mampu membangkitkan minat siswa untuk terus giat belajar sendiri menggunakan semua alat dirinya.
  • Konselor, atau orang yang dapat membantu siswa menemukan dan mengatasi sendiri masalah-masalah yang telah dihadapi setiap siswa dalam kegiatan belajar sendiri.
Guru perlu mempunyai pemahaman yang baik tentang katakteristik siswa, dan teknik-teknik memimpin perkembangan siswa, serta kecintaan kepada anak, agar dapat melaksanakan peranan-peranan yang baik.

Peranan guru adalah membimbing siswa-siswa dalam dalam kegiatan pemecahan masalah dan kegiatan proyek. Mungkin akan banyak guru yang kurang senang terhadap peran ini, karena didasarkan atas suatu anggapan bahwa siswa mampu berpikir dan mengadakan penjelajahan teradap kebutuhan dan minat sendiri.

Guru harus menolong siswa dalam menentukan dan memilih masalah-masalah yang bermakna, menemukan sumber-sumber data yang relevan, menafsirkan dan menilai akurasi data, serta merumuskan kesimpulan. Guru harus mampu mengenali siswa, terutama pada saat apakah dia memerlukan bantuan khusus dalam suatu kegiatan, sehingga ia dapat meneruskan penelitiannya. Guru dituntun untuk sabar, fleksibel, berfikir interdisipliner, kreatif dan cerdas.

Dalam prinsip-prinsip pendidikan peranan guru tidak langsung, melainkan memberi petunjuk kepada siswa. Kebutuhan dan minat siswa akan menentukan apa yang mereka pelajari. Anak harus diizinkan untuk merencanakan perkembangan diri sendiri, dan guru harus membimbing kegiatan belajar.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu, yaitu apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata. Pendidikan menurut pandangan pragmatisme bukan merupakan suatu proses pembentukan dari luar dan juga bukan merupakan suatu pemerkahan kekuatan-kekuatan laten dengan sendirinya, melainkan suatu proses reorganiasi dari pengalaman-pengalaman individu.

Aliran eksistensialisme ini berkeyakinan bahwa segala sesuatu dimulai dari pengalaman pribadi, kenyakinan yang tumbuh dari dirinya dan kemampuan serta, keluasaan jalan untuk mencapai keinginan hidupnya. Titik sentralnya manusia itu sendiri.

Implikasi pendidikan pada Filsafat Ektensialisme terhadap tujuan Pendidikan adalah memberikan pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua, bentuk kehidupan dalam hal ini setiap individu mempunyai eksistensi untuk dirinya supaya mengembangkan potensi dalam dirinya.

Aliran progesivisme didasarkan pada keyakinan bahwa pendidikan berpusat pada anak (chil centered) bukan hanya fokus pada guru atau kurikulum. 

Implikasi aliran progesivisme terhadap pendidik dalam pendidikan, dimana guru melakukan tugasnya dalam praktek pendidikan berpusat pada anak, mempunyai peranan-peranan, yaitu fasilitator, motifator, dan konselor. 

3.2 Saran
Semoga makalah ini bermanfaat bagi masyarakat luas dan khususnya bagi mahasiswa, agar mengetahui tentang aliran-aliran filsafat pendidikan seperti aliran filsafat pendidikan pragmatisme, eksistensialisme, progresivisme dan masih banyak aliran filsafat pendidikan lainnya. Makalah ini belumlah sempurna, masih banyak kekurangan dan kesalahan yang perlu diperbaiki. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran untuk membangun guna perbaikan dalam penyajian makalah berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Wasilah, Chaedar. 2008. Filsafat Bahasa dan Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Arifin, Muzayyin. 2010. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Bunii Aksara.
Barnadib, Imam. Filsafat Pedidikan Sistem dan Metode. Yogyakarta: Andi Offset, 1990.
Praetya, Tri. 2000. Filsafat Pendidikan, Bandung: CV. Pustaka Setia.
Zuhairini, 2008. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
http://www.eurekapendidikan.com/2014/10/aliran-filsafat-pendidikan-pragmatisme.html
http://filsafatpendidikanpragmatisme.blogspot.co.id/
http://anshar-mtk.blogspot.co.id/2013/07/filsafat-pendidikan-progresivisme.html
Read More

Jurnal Filsafat Pendidikan

Jurnal Filsafat Pendidikan
HUBUNGAN FILSAFAT PENDIDIKAN DENGAN PENDIDIKAN ANTROPOLOGI/SOSIOLOGI DALAM MATA PELAJARAN ILMU 
PENGETAHUAN SOSIAL DISEKOLAH


ABSTRAK
Pendidikan merupakan suatu pemikiran yang praktis dan mmebutuhkan teori dalam menciptakan sistem pendidikan  yang ideal.Oleh sebab itu pendidikan harus berangkat dari filsafat yang khusus dan condong membahas tentang pendidikan. Ilmu Pengetahuan Sosial memiliki tujuan utama  adalah untuk mengembangkan potensi siswa agar peka terhadap masalah sosial, memiliki sikap mental positif, terampil mengatasi masalah yang terjadi baik yang menimpa dirinya maupun masyarakatnya. Secara aksiologis, paradigma filosofis harus meletakan pendidikan sebagai aktivitas yang sarat akan nilai atau bermakna yang akan ditransformasi dan di internalisasikan ke dalam peserta didik. Makna-makna tersebut meliputi symbolic,emperic,esthetic, synnoetic, ethics dan synoptics. Berdasarkan tinjauan filosofis, kajian PIPS dibangun secara sinergis, integratik, dan sistemik sehingga mampu merefleksikan realitas dinamis dari PIPS. secara teoritik pengkajian integratif sangat penting mendasar untuk menghindari kemungkinan terjadinya bias teori dan  Kata kunci dari Hubungan Filafat Pendidikan dengan Pendidikan Antropologi atau Ilmu Pengetahuan Sosial tersebut adalah  Pendidikan IPS, Tinjauan filosofis, Tujuan pendidikan.




PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu pemikiran yang praktis dan mmebutuhkan teori dalam menciptakan sistem pendidikan  yang ideal.Oleh sebab itu pendidikan harus berangkat dari filsafat yang khusus dan condong membahas tentang pendidikan.Apalagi jika ada beberapa  pertanyaan radikal tentang pendidikan yang berhubungan dengan ilmu-ilmu sosial dan alam. Landasan filsafat pendidikan memberi perspektif filosofis yang seyogyanya merupakan kacamata yang dikenakan dalam memandang menyikapi serta melaksanakan tugasnya.
Pendidikan dalam arti luas adalah segala pengalaman belajar  yang berlangsung dalam segala hal lingkungan dan sepanjang hidup atau segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu.
Pendidikan dalam arti sempit adalah sekolah atau pengajaran yang diselenggarakan disekolah sebagai lembaga pendidikan formal .Pendidikan adalah segala pengaruh yang diupayakan sekolah terhadap anak dan remaja yang diserahkan kepadanya agar mempunyai kemampuan yang sempurna dan kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan serta tugas sosial mereka.
 Sedangkan pendidikan menurut definisi alternatif atau luas terbatas adalah usaha dasar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintahan , melalui kegiatan bimbingan, pengjaran yang berlangsung disekolah dan luar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan hidup sekarang atau yang akan datang.
Pendidikan atau pengalaman belajar yang terprogram dalam bentuk pendidikan formal dan non formal serta informasi disekolah maupun luar sekolah yang berlangsung seumur hidup bertujuan optimalisasi pertimbangan kemampuan individu agar kemudian hari dapat memainkan peranan hidup secara tepat.
Berfikir filosofis pada satu sisi dan di pihak lain pengalaman dan penyelidikan empiris berjalan bersama-sama.Maka filsafat merupakan suatu pengetahuan teoritis dan pedagogic merupakan pengetahuan praktis yang menentukan suatu pendidikan itu efektif.
Pendidikan dalam arti luas adalah segala pengalaman belajar  yang berlangsung dalam segala hal lingkungan dan sepanjang hidup atau segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu.
 Pendidikan menurut Kamus Besar Indonesia adalah sekolah atau pengajaran yang diselenggarakan disekolah sebagai lembaga pendidikan formal .Pendidikan adalah segala pengaruh yang diupayakan sekolah terhadap anak dan remaja yang diserahkan kepadanya agar mempunyai kemampuan yang sempurna dan kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan serta tugas sosial mereka.
Pendidikan menurut definisi alternatif atau luas terbatas adalah usaha dasar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintahan , melalui kegiatan bimbingan, pengjaran yang berlangsung disekolah dan luar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan hidup sekarang atau yang akan datang.
Pendidikan atau pengalaman belajar yang terprogram dalam bentuk pendidikan formal dan non formal serta informasi disekolah maupun luar sekolah yang berlangsung seumur hidup bertujuan optimalisasi pertimbangan kemampuan individu agar kemudian hari dapat memainkan peranan hidup secara tepat.
Pendidikan IPS merupakan bahan kajian yang menarik. Pelaksanaannya pada dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan suatu pendekatan interdisipliner. Secara IPS filosofis landasan teoritis falsafah lembaga persekolahan mulai dari jenjang sekolah dasar hingga menengah atas memerlukan pemikiran-pemikiran yang lebih mendasar sehingga tujuannya tercapai.mengembangkan esensialisme, perenialisme, progresivisme dan rekonkstruksionisme. Esensialisme Munculnya berbagai masalah sosial yang belum dapat disikapi dengan seksama menekankan pada penguasaan keilmuan. 
Pendidikan adalah pendidikan disiplin keilmuan.menandakan perlunya peningkatan efektifitas pendidikan IPS. Tujuan utama IPS adalah untuk mengembangkan potensi siswa agar peka terhadap masalah sosial, memiliki sikap mental positif, terampil mengatasi masalah yang terjadi baik yang menimpa dirinya maupun masyarakatnya.
Untuk itu IPS Tujuannya agar siswa menguasai disiplin ilmu, menekankan pada academic exellence and cultivation of intellect.Esensilisme lebih menekankan pada pengembangan kognitif.
Dan didalam Mata Pelajaran IPS juga terdapat cabang Materi Antropologi dalam artinya antropologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang menyelidiki seluk beluk, asal-mula manusia, dan kebudayaan yang terjadi di kehidupan masa lalu. Hubungan filsafat dengan manusia
melahirkan filsafat manusia, dimana filsafat ini adalah bagian integral dari system filsafat, yang secara spesifik menyoroti hakikat atau esensi manusia.

PEMBAHASAN
Dalam kegiatan belajar mengajar  yang direncanakan dengan materi terorganisasi dilaksanakan secara terjadwal dalam system pengawasan dan diberikan evaluasi berdasarkan pada tujuan yang telah ditentukan. Dalam arti luas pendidikan adalah segala kegiatan pembelajaran yang berlangsung sepanjang zaman dalam situasi kegiatan kehidupan, yang berlangsung di segala jenis bentuk dan tingkat linkungan hidup yang kemudian mendorong pertumbuhan segala potensi yang ada didalam diri individu.
Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.
Didalam filsafat juga memiliki Ciri-ciri berfikir filsafat secara Umum yakni Berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi.Berfikir secara sistematis.Menyusun suatu skema konsepsi, dan Menyeluruh.
Menurut Pandangan Sudarto1996 menyatakan bahwa ciri-ciri berfikir Filsafat adalah *Metodis yang dimana dalam kategori metodis ini Menggunakan metode, cara, yang lazim digunakan oleh filsuf atau ahli filsafat dalam proses berfikir.
*Sistematis adalah Berfikir dalam suatu keterkaitan antar unsur-unsur dalam suatu keseluruhan sehingga tersusun suatu pola pemikiran Filsuf.
*Koheren adalah Diantara unsur-unsur yang dipikirkan tidak terjadi sesuatu yang bertentangan dan tersusun secara logis.
*Rasional yakni Mendasarkan pada kaidah berfikir yang benar dan logis atau sesuai dengan kaidahlogika.
*Komprehensif adalah Berfikir tentang sesuatu dari berbagai sudut.
*Radikal adalah Berfikir secara mendalam sampai ke akar-akarnya atau sampai pada tingkatan esensi yang sedalam-dalamnya.
*Universal adalah Muatan kebenarannya bersifat universal, mengarah pada realitas kehidupan manusia secara keseluruhan.
Filsafat adalah kerangka pemikiran manusia yang dilakukan untuk menemukan suatu kebenaran dari segala hal yang ada maupun yang tidak ada secara mengakar dan mendalam dan filsafat dapat dikatakan sebagai induk semua bidang study dan disiplin ilmu pengetahuan, dengan sudut pandang yang bersifat komprehensif berupa hakikat, artinya filsafat memandang setiap objek dari segi hakikatnya. Filsafat adalah manusia harus bersikap dan berprilaku adil terhadap diri sendiri, masyarakat, dan terhadap alam.
Manusia harus mendidik diri sendiri dan sesamanya secara terus-menerus. Setelah itu muncullah pendidikan dan memulai segala sesuatunya, manusia mencoba mendidik dirinya dan sesamanya dengan cara menumbuhkan kesadaran eksistensi kehidupan
 Dan dalam kegiatan pendidikan ditekankan pada pengetahuan umum berupa asal usul, eksistensi, dan tujuan kehidupan yang dijadikan landasan dasar bagi prilaku sehari-hari sehingga eksistensi kehidupan berjalan secara teratur di dalam tujuan akhir. Keterkaitan antara filsafat dengan pendidikan adalah timbulnya suatu masalah itu berasal dari filsafat, dengan pendidikan kita mampu menyelesaikan suatu masalah yang ditimbulkan dari filsafat itu sendiri.
 Didalam  filsafat, pendidikan mampu membangun pandangan hidup yang dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari dan untuk kehidupan nanti sehingga akan adanya keteraturan dan keadilan dalam menjalani kehidupan. Bagi pendidikan, filsafat memberikan kontribusi yang berupa kesadaran yang menyeluruh tentang asal-mula, eksitensi, dan tujuan kehidupan manusia.
 Tanpa filsafat pendidikan tidak akan bisa berbuat apa-apa dan tidak tahu apa yang harus dikerjakan oleh pendidikan tersebut tanpa sebelumnya ada suatu filsafat yang ditimbulkan. Sebaliknya, tanpa pendidikan filsafat tetap berada di dalam dunianya sendiri tanpa sebelumnya ada sesuatu yang menarik keluar filsafat itu. Hubungan antara filsafat dengan pendidikan melahirkan satu kesatuan pengertian baru yaitu filsafat pendidikan.
Dalam arti luas bahwa filsafat pendidikan adalah pemikiran-pemikiran filsafat tentang bagaimana suatu proses dan cara-cara pendidikan dilakukan . Pengertian lain mengatakan bahwa filsafat pendidikan adalah filsafat tentang proses pendidikan atau filsafat tentang disiplin ilmu pendidikan.
Manfaat Mempelajari Antara Filsafat Pendidikan Kemudian setelah terjalin hubungan antara filsafat dan pendidikan dengan baik maka didapatkan beberapa hal, yaitu Mengembangkan dan memperdalam hasil filsafat para filosof dimasa lalu, Mengembangkan cara pemikiran dalam berfilsafat untuk menemukan sesuatu yang baru dan mencari suatu kebenaran yang sebenarny, Memperluas pemahaman mengenai pemikiran yang telah difilsafatkan, Mengetahui bagaimana cara menyelidiki suatu masalah dengan cara yang efektif dan akurat.
Dan didalam pendidikan pelajaran disekolah terdapat mata pelajaran IPS yang didalamnya mengkaji salah satu materi yakni  Antropologi atau Sosiologi, yang dimana Antropologi muncul sebagai suatu cabang keilmuan yang jelas batasannya pada sekitar pertengahan abad-19,tatkala perhatian orang pada evolusi manusia berkembang.Antropologi sebagai disiplin akademik baru dimulai tidak lama setelah itu,ketika pengangkatan pertama antropolog professional di universitas,museum dan kantor pemerintahan.
Antropologi berasal dari kata Yunani antrophos  yang berarti manusia dan logos yang berarti ilmu. Jadi antropologi adalah disiplin yang mempelajari manusia berdasarkan rasa ingin tahu yang tiada hentinya.
 Antropologi  adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. Terbentuklah ilmu antropologi dengan melalui beberapa fase.
Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.Antropologi berasal dari kata anthropos yang berarti manusia, dan logos yang berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.
Beberapa menurut Para ahli mendefinisikan Antropologi sebagai berikut:
*William A. Haviland Mengatakan bahwa Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.

  1. David Hunter juga Mengatakan bahwa Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.
  2. Koentjaraningrat juga Mengatakan bahwa  Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.
Dari definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antropologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan atau cara-cara berprilaku,tradisi-tradisi, nilai-nilai yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Salah satu cabang Ontologi adalah Antropologi. Antropologi merupakan filsafat yang membahas tentang manusia.
Antropologi pendidikan merupakan sebuah kajian sistematik,Tidak hanya mengenai praktek pendidikan dalam perspektif budaya, tetapi juga tentang asumsi yang dipakai antropologi terhadap pendidikan dan asumsi yang dicerminkan oleh praktek pendidikan
Menurut Shomad2009 ,antropologi pendidikan mengkaji penggunaan teori dan metode yang digunakan oleh para antropolog serta pengetahuan khususnya yang berhubungan dengan kebutuhan manusia atau masyarakat.
Dengan demikian,antropologi pendidikan bukan menghasilkan ahli antropologi melainkanmenambah wawasan ilmu pengetahuan tentang pendidikan melalui perspektif antropologi.Pendidikan dapat diperoleh melalui lembaga formal dan informal.Penyampaian kebudayaan melalui lembaga informal tersebut dilakukan semenjak kecil di dalam lingkungan keluarganya.
 Dalam masyarakat,pendidikan memiliki fungsi yang sangat besar dalam memahami kebudayaan sebagai satu keseluruhan.Antropologi pendidikan dihasilkan melalui teori khusus dan percobaan yang terpisah dengan kajian yang sistematis mengenai praktek pendidikan dalam perspektif budaya.Sehingga antropologi menyimpulkan bahwa sekolah merupakan sebuah benda budaya yang menjadi skema nilai dalam membimbing masyarakat.
Ada pun tujuan dalam antropologi pendidikan adalah
  1. Mempelajari sejarah terjadinya dan perkembangan manusia sebagai makhluk biologis.
  2. Mempelajari sejarah terjadinya berbagai bahasa manusia diseluruh dunia dan penyebarannya.
  3. Mempelajari masalah terjadinya persebaran dan perkembangan berbagai kehidupan diseluruh dunia.
  4. Mempelajari masalah dasar kebudayaan dalam kehidupan manusia dari suku bangsa yang tersebar dimuka bumi sampai sekarang
Dan adapun kegunaan manfaat dalam antropologi pendidikan adalah
  1. Mengetahui hakikat pendidikan di masyarakat
  2. Memahami kedudukan pendidikan yang memiliki karakteristik
  3. Memahami norma,tradisi,keyakinan dan nilai yang dianut
  4. Menciptakan teori tentang asal usul pendidikan
Dan didalam Keselarasan tujuan Sosiologi dan Antropologi Pendidikan dapat dilihat dengan jelas, baik sebagai pribadi maupun anggota kelompok atau masyarakat. Mampu mengkaji tempat kita dalam masyarakat dan dapat melihat dunia atau budaya lain yang belum kita ketahui sebelumnya.
Semakin memahami norma, tradisi, keyakinan, dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat lain.Lebih tanggap, kritis dan rasional menghadapi gejala sosial masyarakat yang makin kompleks.
Adapun Ruang Lingkup pada Antropologi Pendidikan menurut tokoh Ralphlinton dalam Shomad2009 menganggap kebudayaan adalah warisan sosial. Warisan social tersebut mempunyai dua fungsi.
  1. Pertama,fungsi bagi penyesuaian diri dengan masyarakat dan
  2. Kedua, fungsi bagi penyesuaian diri dengan lingkungan.
Selanjutnya implementasi pendidikan sebagai penyesuaian diri dengan masyarakat, lingkungan dan kebudayaan sebagai bentuk ruang lingkup antroplogi pendidikan berlangsung
Dan juga ada pun dalam proses ruang lingkup yakni
  1. Proses sosialisasi. Proses ini dimulai sejak bayi baru lahir.Bayi berinteraksi dengan orang disekitarnya, hingga terjadi komunikasi timbal balik dan seterusnya hingga ia tumbuh dan berkembang.Adapun yang menjadi sorotan dalam proses sosialisasi yaitu norma dan aturan yang berlaku dan perbedaan status ekonomi dan letak geografis.
  2. Proses Enkulturasi. Enkulturasi, artinya pembudayaan.Yang dimaksud adalah proses pembudayaan anak agar menjadi manusia berbudaya. Dalam proses ini ,yaitu sistem norma atau aturan mengenai suatu aktivitas masyarakat yang khusus.
Adapun yang biasa menjadi kajian dalam proses ini, yaitu Perbedaan jenis kelamin dan Perbedaan umur dan Perbedaan atau perubahan status dan Proses Internalisasi
Proses internalisasi yaitu proses penerimaan dan menjadikan warisan sosial atau pengetahuan budaya sebagai isi kepribadian yang dinyatakan dalam perilaku sehari- hari selama hayat masih dikandung badan.Dalam proses ini dapat dilihat perbedaan pada masing-masing individu berupa perbedaan kepribadian dan pengalaman.


Hakikat Manusia Terhadap Kebudayaan
  1. Hakikat hidup manusia. hakikat hidup untuk setiap kebudayaan berbeda secara ekstrem.
  2. Hakikat karya manusia. setiap kebudayaan hakikatnya berbeda-beda untuk hidup kedudukan, gerak hidup untuk menambah karya.
  3. Hakikat waktu manusia.  hakikat waktu untuk kebudayaan berbeda, masa lalu atau masa kini.
  4. Hakikat alam manusia :ada kebudayaan yanng menganggap manusia harus mengeksploitasi alam ada juga yang harus menyatu dengan alam.
  5. Hakikat hubungan dengan manusia : mementingkan hubungan antar manusia baik secara vertikal maupun horizontal.
Hubungan Antara Hakikat Manusia dengan Kebudayaan Seperti semua organisme lain,hakikatnya manusia adalah sebagai pelaku suatu kebudayaan, dan kebudayaan adalah suatu objek yang dilaksanakan oleh manusia dan keduanya menjadi satu kesatuan.
Pengertian dialektis yaitu hubungan antara manusia dengan kebudayaan setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat yang saling terkait antara satu dengan yang lain.
Ada Tiga tahap dalam proses dialektis
  1. Eksternalisasi. proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya.
  2. Obyektivasi . proses dimana masyarakat menjadi realitas obeyektif, yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia.
  3. Internalisasi : proses dimana manusia mempelajari kembali masyarakatnya sendiri agar dapat hidup dengan baik, sehingga manusia menjadi kenyataan yag dibentuk oleh masyarakat
Hubungan Antropologi dengan Filsafat. Filsafat Manusia secara umum bertujuan menyelidiki, menginterpretasi dan memahami gejala-gejala atau ekspresi-ekspresi manusia sebagaimana pula halnya dengan ilmu-ilmu tentang manusia  dan Adapun secara spesifik bermaksud memahami hakikat atau esensi manusia.
Sosiologi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang relatif baru, berkembang di awal abad 20 dan mengalami hambatan dalam perkembangannya, karena dianggap dapat dipelajari atau merupakan salah satu sub dalam pembahasan sosiologi.
Sosiologi pertama kali muncul dalam karya tulis guru besar sosiologi yakni  Auguste Comte 1978. istilah sosiologi tersebut disarankan sebagai nama dari suatu disiplin yang mempelajari Masyarakat secara ilmiah.
 Yang dimana secara Etimologis sosiologi berasal dari kata latin socius dan kata Yunani logos. Socius berarti kawan, sahabat, sekutu, rekan, masyarakat. logos berarti ilmu.Jadi sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat.
 Beberapa para Ahli  mendefinisikan Sosiologi Yakni
  1. W.F. Ogburn dan M.F. Nimkoff dalam buku mereka A Handbook of Sociology, memberikan definisi sosology is the scientific of social life; yang maksudnya : sosiologi adalah studi secara ilmiah terhadap kehidupan social.
  2. Roucek dan Wafren : Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok.
  3. Menurut Ibnu Chaldun, sosiologi mempelajari tentang masyarakat manusia dalam bentuknya yang bermacam,watak dan ciri-ciri dari tiap bentuk dan hukum yang menguasai perkembangan.
  4. Prof. Groenman mendefinisikan sosiologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari tindakan-tindakan manusia dalam usahanya menyesuaikan diri dalam suatu ikatan.
Didalam dunia sosial juga berjalan mengikuti hukum-hukum tertentu sebagaimana halnya dunia fisik atau dunia alam. Sejak manusia dilahirkan di dunia ini, secara sadar maupun tidak, sesungguhnya ia telah belajar dan berkenalan dengan hubungan-hubungan social yaitu hubungan antara manusia dalam masyarakat.
 Hubungan sosial out dimulai dari hubungan antara anak dengan orang tua kemudian meluas hingga ke tetangga.Dan bidang kajian sosiologi pendidikan sendiri, berangkat dari keinginan para sosiologi untuk meyumbangkan ide-ide bagi pemecahan masalah pendidikan.
Adapun perkembangan sosiologi di Indonesia diawali hanya sebagai ilmu pembantu belaka, namun seiring timbulnya perguruan tinggi dana kesadaran bahwa sosiologi sangat penting dalam menelaah masyarakat Indonesia yang sedang berkembang maka sosiologi yang salah satunya adalah sosiologi pendidikan.
Sosiologi pendidikan terdiri dari dua kata, sosiologi dan pendidikan. Dilihat dari istilah etimologi kedua kata ini tentu berbeda makna, namun dalam sejarah hidup dan kehidupan serta budaya manusia, keduanya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan, terutama dalam sistem memberdayakan manusia dimana sampai saat ini memanfaatkan pendidikan sebagai instrumen pemberdayaan tersebut.Paedegogic berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari kata pais, artinya anak. paedagogic yaitu bimbingan yang diberikan kepada anak.
 Beberapa Menurut Para Ahli mendefinisikan tentang Pendidikan Yakni
  1. Jhon Dewey. Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.
  2. Langeveld.Mendidik adalah mempengaruhi anak dalam membimbingnya supaya menjadi dewasa. Usaha membimbing adalah usaha yang disadari dan dilaksanakan di sengaja antara orang dewasa dengan anak yang belum dewasa.
  3. KiHajarDewantara. Mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tinginya.
  4. Dalam UUD tertuliskan Pendidikan adalah usaha dasar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual kegamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Berdasarkan uraian diatas, pendidikan pada hakekatnya suatu kegiatan yang secara sadar dan disengaja, serta penuh tanggung jawab yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak tersebut mencapai kedewasaan yang dicita-citakan dan berlangsung terus-menerus.
Dalam materi sosiologi pendidikan telah dijabarkan arti dari Sosiologi Pendidikan menurut para Ahli  yakni secara spesifik memandang sosiologi pendidikan sebagai studi yang komprehensif tentang segala aspek pendidikan dari segala segi ilmu yang dterapkan. Baginya, sosiologi pendidikan tidak hanya meliputi segala sesuatu dalam bidang sosiologi yang dapat dikenakan sosiologis. Tetapi memberikan para guru, peneliti yang efektif dalam sosiologi yang dapat memberikan sumbangan pemahaman yang lebih mendalam tentang pendidikan.
  1. F.G Robbins dan Brown mengemukakan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu yang membicarakan dan menjelaskan hubungan-hubungan sosial yang mempengaruhi individu untuk mendapatkan serta mengorganisasikan pengalamannya. Sosiologi pendidikan juga mempelajari kelakuan sosial serta prinsip-prinsip untuk mengontrolnya.
  2. E.B.Reutern: Sosiologi pendidikan mempunyai kewajiban untuk menganalisa lembaga-lembaga pendidikan dalam hubungannya dengan perkembangan manusia dan dibatasi oleh pengaruh-pengaruh lembaga-lembaga pendidikan yang menentukan kepribadian sosial dari tiap-tiap individu. Jadi pada dasarnya antara individu dengan lembaga sosial saling mempengaruhi.
  3. Gunawan2006 mengemukakan definisinya tentang sosiologi pendidikan, yaitu ilmu pengetahuan yang berusaha memecahkan masalah pendidikan dengan analisis atau pendekatan sosiologis.
Dan dapat disimpulkan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek pendidikan, baik itu struktur, dinamika, masalah pendidikan ataupun aspek lainnya secara mendalam melalui analisis atau pendekatan sosiologis.
Aktivitas masyarakat dalam pendidikan, merupakan sebuah proses sehingga pendidikan dapat dijadikan instrumen oleh individu untuk dapat berinteraksi secara tepat di komunitas dan masyarakatnya.
Pada sisi lain,sosiologi pendidikan memberikan penjelasan yang relevan dengan kondisi masyarakat,sehingga setiap individu sebagai anggota masyarakat dapat menyesuaikan diri dengan pertumbuhan dan perkembangan berbagai fenomena yang muncul dalam masyarakatnya.
Dan didalam Pendidikan IPS bersumber pada  pembentukan warga negara yang baik. Seluruh konten studi social disajikan dengan pendekatan pengetahuan, akhirnya akan dan metode memebentuk social sikap dan dan keterampilan membentuk kepribadian yang baik. IPS dikembangkan sebagai disiplin ilmu disiplin ilmu-ilmu social, humaniora kegiatan dasar manusia, dan Ilmu dalam kerangka batang tubuh keilmuan yang terdiri dari :
  1. Adanya para ahli IPS
  2. Adanya pola piker, pembicaraan dan penulisan yang terdiri atas fakta, konsep, generalisasi dan teori.
  3. Adanya pendekatan, metode dalam proses mendapatkan pengetahuan, pengorganisasiannya serta penggunaannya
  4. Ada kegiatan mengembangkan struktur konsep dan sintaktis
  5. Ada dokumentasi hasil pemikiran dan penelitian
  6. Ada istilah dan definisi-definisi operasional keilmuan
  7. Ada tujuan yang akan dicapai
  8. Ada dimensi keterkaitan antara dinamika keilmuan dengan realitas kehidupan Kerangka batang tubuh tersebut menjadi kerangka kerja pengembangan keilmuan.
Menurut Positivisme semua ilmu berasal dari emperi sensual. Sedang diharapkan, dalam tujuan PIPS. Untuk kepentingan pengembangan PIPS secara akademik perlu ditunjukan kaitan IPS dengan berbagai faham filsafat ilmu  Emperisme, positivisme,rasionalisme dan idealisme.
Sedang dalam filsafat adalah menurut Rasionalisme semua ilmu berasal dari pemahaman inteletual yang dibangun atas argumentasi logik. Ilmu yang dibangun berdasar rasionalisme menekankan pada pemaknaan empiri, pemahaman intelektual, dan kemampuan berargumentasi secara Pendidikan antaranya Perrenialisme, Esensialisme, Progresivisme, dan Rekonstruksionisme.
Hubungan Antara Filsafat dan Antropologi atau Sosiologi ilmu adalah sebuah disiplin yang secara teoritis berusaha menganalisis kaitan antara pengetahuan dengan kehidupan dengan secara metedologis beruapaya menelusuri bentuk-bentuk yang diambil oleh kaitan itu dalam perkembangan intelektual manusia.
Sosiologi merupakan cabang ilmu social yang dahulunya berinduk pada ilmu filsafat, dengan demikian pokok-pokok pikiran sosiologi tidak bisa terlepas dari pemikiran dari para ahli filsafat yang mengkaji tentang hehidupan manusia.
Sudah menjadi sifat bawaannya, bahwa sosiologi sejak berkembang hingga dewasa ini menjadi disiplin yang berdiri sendiri yang selalu berada dalam suasana pergulatan,pemikiran dikalangan tokoh-tokohnya.
Sosiologi lahir di tengah-tengah persaingan antara filsafat dan psikologi. Dengan demikian, keterkaitan antara sosiologi dan filsafat adalah bahwa sosiologi memberikan informasi yang cukup tentang adanya keterkaitan antara proses keilmuan tertentu dengan faktor-faktor lain diluar keilmuan, misalnya ideology, tradisi keagamaan, otoritas politik, ekonomi dan lain-lain.
Dan didalam aliran positivistik memandang ilmu harus menggunakan pendekatan metode positivistik yakni menggunakan metode ilmu alam, logika metode ilmu alam, di luar itu maka akan dianggap bukan ilmu.
 Bila ilmu sosial ingin dianggap sebagai science maka harus mengadopsi metode ilmu alam.Hal ini agak kurang pas, karena sifat ilmu alam adalah given atau ada dengan sendirinya yang merupakan factum datum.Ilmu sosial ilmu bersifat sosial menempatkan kebudayaan Nasional yang dilandasi keimanan.Ketiga, bisa dijadikan ide sentral atau central idea bagi pembangunan pendidikan.

KESIMPLAN
 Pendidikan adalah segala pengaruh yang diupayakan sekolah terhadap anak dan remaja yang diserahkan kepadanya agar mempunyai kemampuan yang sempurna dan kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan serta tugas sosial mereka.
Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.
Antropologi  adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. Terbentuklah ilmu antropologi dengan melalui beberapa fase.
Sosiologi merupakan cabang ilmu social yang dahulunya berinduk pada ilmu filsafat, dengan demikian pokok-pokok pikiran sosiologi tidak bisa terlepas dari pemikiran dari para ahli filsafat yang mengkaji tentang hehidupan manusia.
Dan dapat disimpulkan bahwa Hubungan Antara Filsafat dan Antropologi atau Sosiologi ilmu adalah sebuah disiplin yang secara teoritis berusaha menganalisis kaitan antara pengetahuan dengan kehidupan dengan secara metedologis beruapaya menelusuri bentuk-bentuk yang diambil oleh kaitan itu dalam perkembangan intelektual manusia.
Sehubungan dengan penamaan sosiologi pendidikan, terdapat perdebatan yang cukup tajam tentang penggunaan istilah yang digunakan antara lain sociological approach to education, educational sociology of education, atau the foundation.
Pada akhirnya dipilih istilah sociology of education dengan tekanan dan wilayah tekanannya pada proses sosiologis yang berlangsung dalam lembaga pendidikan.sociology of education merupakan suatu analisis terhadap proses-proses sosiologis yang berlangsung dalam lembaga pendidikan.Tekanan dan wilayah pada lembaga pendidikan itu sendiri. Ruang lingkup sosiologi pendidikan meliputi Hubungan sistem pendidikan dengan aspek dalam masyarakatHubungan antar manusia di dalam Sekolah, Pengaruh Sekolah terhadap perilaku dan kepribadian semua pihak disekolah atau lembaga pendidikan,Hubungan lembaga pendidikan dalam masyarakat.
Antropologi pendidikan adalah spesialisasi yang termudah dalam antropologi. Setelah tahun 60-an di Amerika Serikat sebanyak diperlukan keahlian dalam antropologi untuk meneliti masalah pendidikan,maka antropologi pendidikan dianggap dapat berdiri sendiri sebagai cabang spesialisasi antropologi yang resmi. Antropologi pendidikan merupakan sebuah kajian sistematik, tidak hanya mengenai praktek pendidikan dalam perspektif budaya, tetapi juga tentang asumsi yang dipakai antropologi terhadap pendidikan dan asumsi yang dicerminkan oleh praktek pendidikan. kebudayaan adalah warisan sosial. Warisan sosial tersebut mempunyai dua fungsi. Pertama, fungsi bagi penyesuaian diri dengan masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Drs.H,Abu, Ilmu Pendidikan , Rineka Cipta, Cetakan kedua,Jakarta 2001.
http://id.wikipedia.org/wiki/antropologi
http://coretanseadanya.blogspot.com
Koentjaraningrat.1986. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru
Http://re-searchengines.com/mangkoes6-044.html tanggal 20 September 2008.
Http://loekisno.wordpress.com/2008/02/10/be rkenalan-dengan-hermeuneutik/
Http://tumoutou.net/3_sem1_012/nunu_h.ht m 16 REGION Volume I. No. 1. Maret 2009
Mudhaharjo, Redjo, Pengantar Pendidikan ,Rajawali Pres,Jakarta 2002
Langeveld, MJ, (l955), Pedagogik Teoritis Sistematis (terjemahan), Bandung, Jemmars  
Desniarti, Makalah Falsafah Sains (PPs 702), Program Pasca Sarjana / S3, Institut Pertanian Bogor, Maret 2002
Mudyahardjo,Drs, Redja, Filsafat Ilmu Pendidikan, ROSDA, Cetakan kedua, Bandung 2002.
Read More